Semua artikel
Emosi

Mengungkap Sisi Psikologis Rasa Jijik yang Dialami Setiap Orang

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Dalam perjalanan penelusuran kompleksitas emosi manusia, salah satu sudut pandang yang menarik adalah memahami sisi psikologis dari sebuah emosi yang terkadang terabaikan, yaitu rasa jijik. Meskipun sering kali dipersepsikan sebagai respons sederhana terhadap benda-benda fisik yang memicu ketidaknyamanan, rasa jijik sesungguhnya memperlihatkan kekayaan psikologis yang mencakup indra, nilai-nilai budaya, dan bahkan dinamika interpersonal.

Artikel ini akan merinci secara mendalam bagaimana sisi psikologis memainkan peran dalam pengalaman emosional rasa jijik, membawa kita melampaui pemahaman konvensional dan mengeksplorasi kompleksitas pikiran yang membentuk respons emosional ini.

Memahami Emosi Jijik

Rasa jijik adalah salah satu dari tujuh emosi universal, muncul sebagai perasaan tidak suka terhadap sesuatu yang menyinggung, baik itu berasal dari indra fisik, tindakan orang, atau gagasan. Intensitas rasa jijik bisa bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat kuat, tergantung pada sejauh mana sesuatu dianggap tidak menyenangkan, menjijikkan, atau beracun.

Tidak hanya itu, rasa jijik dapat bergantian dengan perasaan marah, terutama jika objek yang menyebabkan rasa jijik juga menimbulkan kemarahan. Ini menciptakan dinamika emosional yang kompleks dan menarik.

Dalam panorama emosi manusia, rasa jijik kerap terabaikan meski memiliki peran krusial dalam menjaga kelangsungan hidup dan kesejahteraan individu. Konsep ini, diperkenalkan oleh ilmuwan psikologi Mark Schaller, berkaitan dengan ‘sistem kekebalan perilaku.’ Sistem ini berfungsi sebagai mekanisme psikologis untuk mendeteksi keberadaan parasit penyebab penyakit di lingkungan dan memotivasi kita untuk menghindari kontak dengan sumbernya.

Namun, rasa jijik tidak sekadar terbatas pada respons terhadap patogen. Dalam pemahaman tiga jenis rasa jijik oleh Tybur dan rekan-rekannya, terdapat rasa jijik patogen yang terkait dengan keengganan terhadap mikroorganisme penyebab penyakit. Selain itu, rasa jijik seksual memotivasi keengganan terhadap pasangan seksual dan perilaku yang dapat membahayakan reproduksi jangka panjang, sementara rasa jijik moral mendorong keengganan terhadap individu yang melanggar norma sosial.

Secara keseluruhan, emosi jijik dapat dianggap sebagai mekanisme adaptif. Rasa jijik terhadap patogen melindungi kesehatan kita, sementara rasa jijik terhadap seksual dan moral berperan dalam menjaga integritas reproduksi dan norma sosial. Dr. Stephen Porges dalam konsep sistem keterlibatan sosialnya menunjukkan bahwa melalui keterlibatan sosial, kita menciptakan koneksi dengan orang lain, mengamankan tempat kita dalam suku, dan mengurangi risiko dampak dari individu yang melanggar norma sosial.

Rasa jijik terkait erat dengan naluri protektif. Ini menghentikan kita dari mengonsumsi makanan yang basi, menjauhi kotoran, dan menghindari sumber penyakit. Tetapi, rasa jijik tidak hanya terbatas pada objek fisik; kita juga sering merasa jijik terhadap perilaku dan gagasan yang sangat tidak kita sukai. Hal ini tercermin dalam pemberitaan kontemporer yang menyebutkan berbagai isu seperti rasisme, kebrutalan polisi, manuver politik, media yang kontroversial, dan stigma kesehatan mental sebagai hal yang menjijikkan.

Kesimpulannya, rasa jijik bukan hanya respons terhadap bahaya fisik, tetapi juga melibatkan ketidaknyamanan terhadap pelanggaran moral. Seiring evolusi, rasa jijik telah bertransformasi dari perlindungan tubuh menjadi perlindungan jiwa dan tatanan sosial. Dalam perjalanan emosional ini, kita menemukan bahwa jijik bukan hanya sekadar respons, melainkan komponen penting dalam menjaga keseimbangan dan kesejahteraan manusia.

Baca juga: Bagaimana Ilmu Psikologis Memandang Perasaan Cinta?

Mekanisme Terjadinya Rasa Jijik

Pemicu rasa jijik dapat berasal dari pengalaman indra fisik kita, tindakan dan penampilan orang lain, hingga gagasan yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai kita. Ini bersifat universal, seperti produk tubuh yang dikeluarkan, makanan tertentu, sesuatu yang membusuk atau sekarat, cedera, serta persepsi terhadap ketidaknormalan atau tindakan orang lain. Meskipun demikian, sebagian pemicu rasa jijik bersifat kultural dan individual, menciptakan dinamika yang kompleks dalam pengalaman emosional setiap individu.

Pada tingkat fisiologis, otak, terutama bagian insula, memainkan peran sentral dalam memproses perasaan jijik. Aktivasi insula terjadi ketika kita merasakan rasa dan bau yang tidak menyenangkan, serta saat kita mengenali ekspresi jijik yang ditunjukkan oleh orang lain.

Fascinasi terbesar tentang rasa jijik adalah dampaknya pada ekspresi dan perilaku kita. Rasa jijik terhadap patogen, misalnya, tercermin dalam ekspresi wajah khas dengan lubang hidung tertutup, bibir atas terangkat, dan hidung berkerut. Di dalam tubuh, perasaan mual menjadi tanda khas rasa jijik, tanpa disertai peningkatan detak jantung seperti yang terjadi pada rasa takut atau marah.

Namun, rasa jijik tidak bersifat monolitik. Dalam ranah sosial dan interpersonal, terdapat perdebatan ilmiah apakah bentuk-bentuk rasa jijik tertentu, seperti merasa jijik terhadap penampilan atau kedudukan sosial seseorang, bersifat bawaan atau hasil pembelajaran budaya. Apakah persepsi tentang “tercemar secara moral” berbeda antar budaya? Pertanyaan ini mencerminkan kompleksitas evolusi rasa jijik dalam konteks sosial.

Rasa jijik seksual dan moral, meskipun memiliki elemen penghindaran yang serupa, menunjukkan perbedaan dalam aspek fisiologis. Rasa jijik seksual cenderung memicu kebencian, terutama dalam konteks seksual, sementara rasa jijik moral lebih terkait dengan penghindaran terhadap individu yang dianggap melanggar norma sosial.

Baca juga: Kecanduan Gadget yang Berbahaya Bagi Anak dan Cara Mengatasinya

 

Sumber:

https://www.berkeleywellbeing.com/disgust.html

https://www.paulekman.com/universal-emotions/what-is-disgust/

https://khironclinics.com/blog/emotion-disgust/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mengungkap Sisi Psikologis Rasa Jijik yang Dialami Setiap Orang — DeepTalk