Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu mengikuti kata orang lain yang padahal kamu tidak menyukai hal tersebut? Apakah kamu berpikir bahwa orang tersebut sedang menghipnotis kamu? Bisa jadi kamu sedang mendapatkan perilaku manipulatif dari orang lain. Orang dengan perilaku manipulatif memang memiliki kecenderungan mengontrol orang lain, tanpa orang tersebut menyadarinya.
Manipulatif sendiri merupakan tindakan mengendalikan orang lain demi mendapatkan keuntungan pribadi. Perilaku manipulatif sendiri cukup beragam, misalnya dengan berbohong, menyangkal, atau menyalahkan orang lain demi keuntungan peribadi. Orang dengan perilaku manipulatif ini tidak peduli jika orang lain harus disalahkan, selama dirinya mendapatkan keuntungan.
Perilaku manipulatif menjadi pembahasan menarik di dunia psikologis. Dari banyaknya pembahasan tersebut, timbul beberapa kemungkinan motif timbulnya perilaku manipulatif, dan macam-macam strategi manipulatif. Artikel kali ini akan secara khusus membahas hal tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Motif Manipulatif dalam Psikologi

Perilaku manipulatif seringkali dilakukan dengan cara-cara yang terselubung demi melancarkan aksinya. Hal inilah yang terkadang membuat korban tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam kendali orang lain. Dalam ilmu psikologi, motif dari perilaku manipulatif ini dijelaskan dalam berbagai teori, yaitu:
Teori psikoanalisis
Teori psikoanalisis adalah salah satu teori psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Inti teori ini menjelaskan bahwa tingkah laku manusia didominasi oleh alam bawah sadarnya, yaitu Id, Ego, dan Superego. Berdasarkan teori ini, perilaku manipulatif seseorang berasal dari kebutuhan alam bawah sadar manusia, misalnya kebutuhan akan rasa aman, kontrol, atau kompensasi terhadap kelemahan diri. Artinya, orang dengan kecenderungan perilaku manipulatif mempertahankan egonya demi menutupi kecemasan.
Teori belajar
Teori psikologi lainnya adalah teori belajar yang salah satunya dikembangkan oleh Bandura. Menurut Bandura, belajar adalah hasil individu dalam memaknai suatu pengetahuan atau informasi. Berdasarkan teori ini, perilaku manipulatif seseorang merupakan pembelajaran yang didapatkan sebelumnya, misalnya dari pengalaman atau meniru orang-orang sekitarnya.
Teori kebutuhan
Teori psikologi berikutnya adalah teori kebutuhan yang dikembangkan oleh McClelland pada tahun 1961. Berdasarkan teori psikologi yang satu ini, perilaku manipulatif didorong oleh 3 motif utama, yaitu dorongan untuk mengendalikan orang lain (need of power), keinginan mempertahankan hubungan (need of affiliation), dan kebutuhan untuk mencapai tujuan pribadi (need of achievement).
Teori attachment
Teori psikologi berikutnya adalah teori attachment yang dikembangkan oleh Bowlby pada tahun 1969. Teori ini menjelaskan bahwa individu dengan anxious attachment cenderung berperilaku manipulatif karena didorong oleh perlindungan diri akan penolakan atau rasa takut ditinggal orang terdekatnya.
Teori dark triad personality
Teori psikologi berikutnya adalah teori dark triad personality yang dikembangkan oleh Paulhus dan Williams pada tahun 2002. Teori ini menjelaskan bahwa terdapat tiga dimensi kepribadian, yaitu narsisisme, machiavellianisme, dan psikopati, yang berkaitan erat dengan perilaku manipulasi. Individu dengan skor tertinggi machiavellianisme memiliki motif manipulasi sebagai sarana mencapai tujuan kekuasaan dan keuntungan pribadi.
Baca juga: Strategi Psikologis Mengelola Perilaku Posesif dalam Hubungan Interpersonal
Strategi Manipulasi dalam Psikologi

Seperti yang sudah dipaparkan di awal, perilaku manipulasi sendiri cukup beragam. Dalam ilmu psikologi, berikut beberapa strategi manipulasi yang ada:
- Gaslighting, adalah strategi manipulasi yang cukup familiar di dunia psikologi. Gaslighting merupakan perilaku manipulatif yang membuat orang lain meragukan ingatan persepsi, bahkan kewarasannya sendiri. Hal ini bertujuan agar korban bergantung sepenuhnya kepada pelaku.
- Guilt induction atau menimbulkan rasa bersalah, yaitu perilaku manipulatif yang memanfaatkan rasa bersalah orang lain untuk mengontrol atau mengendalikan orang tersebut demi mendapatkan keuntungan pribadi.
- Playing the victim, merupakan strategi manipulatif yang cukup familiar dalam hubungan asmara. Playing the victim sendiri merupakan upaya untuk menciptakan suasana terbalik, dimana pelaku akan bertindak sebagai korban, dan korban akan digambarkan sebagai pelaku. Kembali lagi, tindakan ini adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi, atau melemparkan kesalahan ke orang lain.
- Love bombing, yang juga merupakan strategi manipulatif yang familiar dalam hubungan asmara. Love bombing adalah perilaku dimana individu akan memberikan kasih sayang, perhatian, dan cinta yang melimpah di awal hubungan, demi mendapatkan cela untuk mengendalikan korban. Setelah dapat mengendalikan korban, pelaku tidak ragu melakukan kekerasan.
- Silent treatment, yaitu menghentikan komunikasi sebagai bentuk hukuman atau agar korban mau mengikuti apa kata pelaku.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai motif perilaku manipulatif dan beberapa strategi manipulatif dalam psikologi. Jika kamu menjadi korban perilaku manipulatif, cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Perilaku Posesif dan Gangguan Kepribadian: Hubungan dengan Borderline, Narsistik, dan Dependen
Sumber:
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Bowlby, J. (1969). Attachment and loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books.
Freud, S. (1923). The ego and the id. London: Hogarth Press.
McClelland, D. C. (1961). The achieving society. Princeton, NJ: Van Nostrand.
Paulhus, D. L., & Williams, K. M. (2002). The Dark Triad of personality: Narcissism, Machiavellianism, and psychopathy. Journal of Research in Personality, 36(6), 556–563.
Simon, G. K. (1996). In sheep’s clothing: Understanding and dealing with manipulative people. A. J. Christopher & Company.
Stosny, S. (2013). Living and loving after betrayal: How to heal from emotional abuse, deceit, infidelity, and chronic resentment. New York: William Morrow.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



