Deeptalk.co.id – Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi (DP-DR) adalah suatu kondisi psikologis yang mengubah persepsi dan pengalaman individu terhadap diri sendiri dan dunia sekitarnya. Penderita DP-DR merasakan diri mereka terpisah atau terasing dari tubuh, pikiran, dan emosi mereka sendiri, sehingga mereka merasa seperti “menonton” kehidupan mereka dari jauh.
Selain itu, mereka juga dapat mengalami sensasi bahwa dunia sekitar mereka terasa tidak nyata, seperti sedang berada di dalam mimpi atau melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang tidak biasa. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai gangguan Depersonalisasi-Derealisasi, serta mengenali gejala-gejalanya yang dapat membantu dalam mengidentifikasi kondisi ini.
Apa Itu Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi?

Gangguan depersonalisasi-derealisasi terjadi ketika Anda secara terus-menerus atau berulang kali merasa bahwa Anda sedang mengamati diri sendiri dari luar tubuh Anda. Atau Anda merasa bahwa hal-hal di sekitar Anda tidak nyata, atau keduanya. Perasaan depersonalisasi dan derealisasi bisa sangat mengganggu dan mungkin terasa seperti hidup dalam mimpi.
Banyak yang mengalami depersonalisasi atau derealisasi pada beberapa waktu. Namun ketika hal ini terus muncul atau sulit untuk hilang sama sekali dan mengganggu kemampuan Anda untuk bisa berfungsi dengan normal, ini akan berkembang menjadi gangguan depersonalisasi-derealisasi. Gangguan ini lebih sering dialami oleh mereka yang pernah mengalami pengalaman traumatis.
Hingga saat ini masih belum pasti seberapa umum gangguan depersonalisasi-derealisasi ini terjadi. Tetapi sejauh data yang ditunjukkan bahwa kondisi ini berdiri kerap berdiri sendiri antara depersonalisasi atau derealisasi. Gangguan ini mungkin memengaruhi 1 persen populasi dengan prevalensi yang hampir sama dengan skizofrenia.
Kondisi ini sangat mungkin untuk diremehkan karena psikiater pun jarang menemui kondisi ini. Juga orang-orang enggan atau bahkan kesulitan untuk menjelaskan pengalaman mereka ketika mengalami gangguan DP-DR ini. Secara umum penderitanya mengalami gejala selama bertahun-tahun sebelum gangguan mereka didiagnosis.
Di antara populasi psikiatri, depersonalisasi jauh lebih umum, terjadi pada 80 persen pasien. Dokter yang menyaring gangguan tersebut mengamati bahwa depersonalisasi mungkin merupakan gejala kejiwaan paling umum ketiga, setelah kecemasan dan suasana hati yang tertekan.
Baca juga: Emotionally Mature : Apa Saja yang Membuat Emosi Lebih Matang?
Gejala Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi

Gangguan depersonalisasi-derealisasi sama sekali tidak menampakkan gejala yang terlihat jelas karena ini melibatkan perubahan hanya dalam pengalaman subjektif. Gejala utamanya yakni ada perasaan tidak menyenangkan saat mengalami perilaku, pikiran, dan perasaan sendiri dari jarak yang seperti mimpi.
Sedangkan menurut DSM-5, gejala dari gangguan depersonalisasi-derealisasi meliputi perasaan mati rasa secara emosional atau seolah-olah tidak dapat mengendalikan kata-kata dan tindakan, serta merasa terlepas dari sensasi pada umumnya seperti sentuhan, haus, lapar, dan lain-lain.
Orang dengan gangguan depersonalisasi-derealisasi merasa seperti orang asing bagi diri mereka sendiri. Depersonalisasi dan derealisasi melibatkan rasa keterasingan dari pengalaman perasaan tidak nyata dan keterpisahan dari diri dan/atau lingkungan.
Peneliti mengidentifikasi beberapa komponen berbeda dari pengalaman depersonalisasi-derealisasi ini. Pertama dan yang paling utama adalah perasaan tidak nyata, atau perasaan terlepas dari proses mental dan tubuh seseorang. Kadang, pasien melaporkan dirinya menjadi sebagai seorang pengamat atau “seolah-olah dalam mimpi” atau film (yang terpisah dari dirinya).
Mereka merasakan rasa tidak berwujud, seolah-olah tubuh mereka bukan milik mereka. Bahkan mungkin suara mereka sendiri terdengar jauh dan tidak nyata. Mereka merasakan perasaan diri yang berkurang, dan membawa pada perasaan “seolah-olah kami adalah robot”.
Pada saat yang sama, ada mati rasa emosional dimana mereka tidak merasakan kecemasan atau emosi sama sekali. Mereka tidak mengalami reaktivitas emosional dan tidak ada yang dapat memengaruhinya, pun ada juga rasa kehadiran yang terdistorsi.
Gangguan depersonalisasi-derealisasi didiagnosis ketika episode tersebut menyebabkan seseorang mengalami tekanan yang signifikan secara klinis dan/atau mempersulit orang tersebut untuk berfungsi secara normal di tempat kerja, di sekolah, atau di lingkungan sosial. Mereka juga tidak boleh disebabkan oleh kondisi psikologis lain seperti skizofrenia.
Individu dengan gangguan depersonalisasi-derealisasi mungkin mulai menunjukkan tanda-tanda pada masa kanak-kanak. Gejalanya memang jarang terjadi pertama kali pada orang dewasa di atas usia 40 tahun, dan hanya 5 persen terjadi pada orang dewasa di atas usia 25 tahun.
Episode terjadinya depersonalisasi-derealisasi dapat berlangsung berjam-jam atau berhari-hari dan berulang selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Setiap saat, individu biasanya menyadari baik pikiran batinnya maupun apa yang terjadi di sekitar mereka.
Akibatnya, mereka sadar akan fakta bahwa mereka merasa terlepas dari tubuh dan/atau lingkungannya. Biasanya orang dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi takut bahwa mereka tidak benar-benar ada, atau bahwa gejala mereka adalah akibat dari kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki.
Baca juga: Membangun Kembali Kesehatan Mental Anak yang Kehilangan Sosok Ayah
Sumber:
Depersonalization / Derealization Disorder. (2023, May 1). Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/depersonalizationderealization-disorder
Depersonalization-derealization disorder – Symptoms and causes. (2017, May 16). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/depersonalization-derealization-disorder/symptoms-causes/syc-20352911
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



