Semua artikel
Gangguan Psikologi

Mengenal Sindrom Asperger. Apakah Sama Dengan Autisme?

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Gangguan spektrum autisme merupakan gangguan pada fungsi otak dan saraf yang mengakibatkan penderitanya kesulitan untuk berkomunikasi, bersosialisasi, dan memiliki masalah perilaku.

Gangguan spektrum autisme sendiri terbagi ke dalam 5 tipe, yaitu autistic disorder, asperger syndrome, childhood disintegrative disorder, pervasive developmental disorder, dan sindrom rett. Jika berbicara apa perbedaan autisme dan sindrom asperger, maka sindrom asperger merupakan bagian dari autisme.

Meski demikian, penderita sindrom asperger tidak memiliki masalah keterlambatan bahasa seperti yang terjadi pada gangguan autisme lainnya. Untuk mengenal lebih dalam mengenai sindrom asperger, silahkan simak artikel ini sampai habis.

Apa Itu Sindrom Asperger?

Sama seperti gangguan autis lainnya, sindrom asperger sendiri merupakan gangguan pada fungsi otak dan saraf. Anak dengan sindrom asperger masih memiliki kecerdasan dan kemampuan bahasa yang sama dengan anak-anak pada umumnya. Hanya saja, mereka kurang bisa dan cenderung canggung untuk melakukan interaksi sosial.

Sindrom asperger pertama kali diungkapkan oleh seorang dokter anak bernama Hans Asperger pada tahun 1944. Meski demikian, sindrom ini baru diteliti lebih lanjut dan diakui secara luar pada tahun 1980an. Banyak ahli juga yang mendeskripsikan sindrom asperger sebagai bentuk gangguan autis dalam tahap ringan.

Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya bahwa penderita sindrom asperger tidak memiliki masalah dalam kemampuan bahasa. Hanya saja, mereka mengalami kesusahan dalam memahami bahasa non-verbal. Bisa dikatakan, mereka memahami bahasa seperti apa yang dituliskan dalam kamus. Hal ini justru membuat anak dengan sindrom asperger cenderung memiliki perbendaharaan kata dan wawasan yang melebihi anak-anak seusianya.

Karena sifat mereka yang cenderung pemalu dan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, penderita sindrom asperger sering menjadi korban bullying. Hal tersebut lebih sering terjadi pada usia anak dan remaja.

Penyebab Sindrom Asperger

Sindrom asperger umumnya dialami oleh anak-anak, dan bertahan hingga mereka dewasa. Hingga saat ini belum ditemukan secara pasti apa penyebab dari sindrom yang satu ini. Meski demikian, banyak ahli yang sependapat bahwa terdapat beberapa faktor yang meningkatkan resiko sindrom asperger.

Kelainan genetik pada anak dipercaya menjadi salah satu faktor yang meningkatkan resiko sindrom asperger. Pasalnya, kelainan genetik ini mengakibatkan kesalahan informasi antar sel di otak.

Infeksi pada masa kehamilan seperti rubella dan cytomegalovirus, serta paparan racun dan zat pemicu kanker selama masa kehamilan, juga dipercaya meningkatkan resiko anak lahir dengan gangguan asperger.

Selain itu, faktor lainnya seperti kelahiran prematur, berat badan bayi yang rendah, dan paparan terhadap obat asam valproat dan thalidomide ketika hamil juga dipercaya dapat meningkatkan resiko gangguan asperger pada anak.

Meski demikian, pemberian vaksin pada anak dipercaya tidak meningkatkan resiko anak mengalami sindrom asperger.

Baca juga : Tangani Sejak Dini! Ini Dia Ciri-Ciri Anak Autis

Gejala Sindrom Asperger

Untuk mendapatkan penanganan yang tepat, orang tua perlu tahu gejala apa saja yang ditunjukkan oleh anak dengan sindrom asperger. Berikut gejala yang dimaksud:

Memiliki bakat tertentu

Penderita sindrom asperger umumnya tidak menyukai perubahan dan selalu menekuni satu bidang. Hal tersebut membuat mereka memiliki bakat dibidang tertentu. Baik itu pada bidang intelektual ataupun artistik. Tidak jarang diantara mereka menjadi orang-orang yang ahli pada bidangnya.

Tidak ekspresif

Penderita sindrom asperger juga cenderung datar dan tidak ekspresif seperti anak-anak pada umumnya. Selain itu, mereka juga kesulitan untuk memahami perasaan orang dan ekspresi yang ada pada orang lain.

Perbedaan pada gaya bahasa

Karena tidak ekspresif, penderita sindrom asperger cenderung datar termasuk dalam berbicara. Hal ini membuat perbedaan yang cukup mencolok dengan anak-anak seusianya. Nada bicara mereka cenderung kaku dan monoton. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk mengatur volume suara sesuai dengan tempatnya.

Keterlambatan perkembangan motorik

Beberapa anak dengan sindrom asperger juga mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya. Bagi anak dengan motorik halus yang lambat, bisa jadi mereka kesulitan untuk memegang pensil atau sendok. Sedangkan keterlambatan dalam motorik kasar bisa berupa keterlambatan dalam berjalan, lempar tangkap bola, dan lain sebagainya.

Canggung

Anak dengan sindrom asperger cenderung canggung dalam interaksi sosial. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, mereka tidak ada masalah dengan kemampuan bahasa. Hanya saja mereka malu dan kesulitan untuk menempatkan diri di lingkungan sosial.

Orang dewasa dengan sindrom asperger memiliki gejala yang sama dengan anak-anak, hanya saja mereka juga cenderung monoton, berlebihan dalam menjalankan rutinitas dan aturan, serta cenderung memperhatikan apapun dalam jangka waktu yang cukup lama.

Penanganan pada Penderita Sindrom Asperger

Walaupun sindrom asperger tidak lebih parah jika dibandingkan dengan gangguan autis lainnya, mereka tetap perlu mendapatkan penangnan yang tepat agar dapat menjalani kehidupannya dengan mandiri.

Untuk itu, jika orang tua atau orang dewasa menemukan anak dengan gejala sindrom asperger, ada baiknya langsung dibawa ke klinik tumbuh kembang atau berkonsultasi dengan psikolog terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Emosi Naik Turun Pasca Melahirkan? Berikut Penjelasannya

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mengenal Sindrom Asperger. Apakah Sama Dengan Autisme? — DeepTalk