Deeptalk.co.id – Kamu atau orang disekitar mu mungkin pernah makan dalam jumlah yang banyak untuk menjadikan pelarian dari rasa sedih yang sedang dialami. Tidak sedikit orang yang mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar saat baru putus dari pasangannya. Kondisi semacam ini bisa jadi gejala dari emotional eating .
Untuk mengenal lebih dalam mengenai emotional eating , artikel ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. namun, perlu ketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan dalam melakukan self diagnosis.
Jika pembaca menemukan kesamaan kondisi antara isi artikel dengan apa yang terjadi pada diri sendiri atau orang sekitar, jangan ragu untuk mendatangi dan berkonsultasi dengan para ahli seperti Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu, kamu akan mendapatkan diagnosis dan juga penanganan yang tepat.
Pengertian Emotional Eating

Emotional eating merupakan kondisi dimana seseorang menjadikan makanan sebagai pelarian emosi, bukan sebagai pemenuhan rasa laparnya saja. Seseorang yang mengalami emotional eating umumnya mencoba untuk menetralisir perasaan-perasaan negatif yang mereka alami. Bisa jadi itu sedih, marah, kecewa, dan lain sebagainya. Kondisi ini membuat penderita emotional eating makan dengan tidak terkendali. Hasilnya, mereka akan rentan mengalami obesitas atau berat badan berlebih.
Beberapa makanan memang bisa membuat mood menjadi lebih baik. Misalnya saja coklat, permen, atau makanan manis lainnya. Selain itu, saat seseorang mengalami stress umumnya akan mengalami peningkatan nafsu makan sebagai upaya untuk menyediakan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Seseorang yang mengalami emotional eating akan makan secara berlebih bukan karena rasa lapar mereka, melainkan sebagai bentuk pertahanan diri dari emosi-emosi negatif yang mereka alami saat itu. Penderita emotional eating juga akan makan tanpa mempertimbangkan sudah seberapa banyak makanan yang mereka konsumsi atau apa saja makanan yang telah dikonsumsi.
Penyebab Emotional Eating

Setiap kejadian emotional eating umumnya disebabkan oleh kondisi yang berbeda-beda. Sebuah artikel yang diterbitkan oleh cleveland clinic menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi yang membuat seseorang akhirnya mengalami emotional eating , yaitu:
· Kesulitan membedakan keinginan makan untuk memenuhi rasa lapar dengan keinginan makan untuk memenuhi kebutuhan psikologis.
· Mengikuti program diet yang membatasi untuk tidak memakan jenis makanan tertentu juga justru bisa menyebabkan stress dan mengalami emotional eating .
· Merasakan kecemasan yang tinggi sehingga memiliki keinginan untuk menghilangkan rasa cemas tersebut dengan mengkonsumsi makanan dan berakhir dengan kondisi emotional eating .
· Sedang menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan memicu stress. Hal ini dapat mengakibatkan seseorang mengalami emotional eating .
· Mengalami stress yang diakibatkan oleh musim. Misalnya saja saat musim panas, seseorang cenderung lebih mudah mengalami stress dan hal ini dapat memicu terjadinya emotional eating .
Baca juga : Ini Dia Gejala dan Penanganan Pada Penderita Gangguan Makan Pica
Selain beberapa penyebab di atas, masih ada lagi penyebab lainnya seperti :
Masalah percintaan
Kondisi yang satu ini paling sering mengakibatkan seseorang mengalami emotional eating . Pasalnya, saat sedang putus cinta seseorang cenderung kehilangan semangat dan mencari cara untuk mengalihkan perasaan sedih yang sedang diderita. Pengalihan perasaan ini salah satunya adalah dengan makan secara berlebihan.
Kondisi ini akan semakin parah jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Pasalnya, orang yang mengalami putus cinta juga beresiko mengalami depresi. Untuk itu, mengatasi masalah percintaan perlu dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kondisi kesehatan mental. Salah satunya emotional eating .
Tidak mendapatkan dukungan
Salah satu kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial adalah mendapatkan dukungan dari orang-orang disekitarnya. Jika hal ini tidak didapatkan makan bisa saja memicu stress dan berdampak pada emotional eating . Tidak hanya dukungan secara fisik, namun juga dukungan secara emosional tidak kalah penting untuk kondisi mental seseorang.
Masalah kesehatan
Penyebab emotional eating lainnya adalah masalah kesehatan. Seseorang yang didiagnosis suatu masalah kesehatan tertentu, terlebih lagi jika ini menyangkut dengan kemungkinan hidup yang minim bisa menjadi pemicu stress dan berdampak pada kondisi emotional eating .
Sebagai contoh orang tua yang didiagnosa penyakit jantung dengan kemungkinan sembuh yang cukup minim bisa jadi mengalami stress karena seakan tidak memiliki semangat lagi. Untuk mengatasi stress yang dialami, orang tersebut bisa jadi makan dalam jumlah besar sebagai bentuk pelariannya.
Insomnia
Tidak sedikit diantara kita yang akhirnya makan di tengah malam dengan porsi yang besar. Hal ini biasanya didasari oleh insomnia atau gangguan tidur. Sebagian besar orang yang mengalami insomnia didasari oleh stress.
Stres menyebabkan hyperarousal, yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan antara tidur dan terjaga. Hal ini akhirnya berdampak pada kesulitan untuk tidur atau yang biasa dikenal dengan istilah insomnia.
Seperti itulah penjelasan seputar emotional eating . Perlu diketahui bahwa kondisi ini dapat mengundang berbagai masalah kesehatan. Diantaranya obesitas, diabetes, masalah pencernaan, dan lain sebagainya.
Untuk itu, mengatasi emotional eating perlu untuk dilakukan. Jangan ragu untuk berkonsultasi perihal kondisi ini dengan para ahli seperti Psikolog atau Psikiater. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Makan Makanan yang Tidak Wajar? Waspada Gangguan Makan Pica
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



