Deeptalk.co.id – Baik anak maupun orang dewasa tentu memiliki kapasitas otak atau memori yang berbeda-beda. Perbedaan kapasitas memori ini akan membuat satu orang dan orang lainnya memiliki kemampuan belajar yang juga berbeda.
Pada beberapa kasus, anak yang mengalami kesulitan dalam belajar akan dianggap sebagai anak yang bodoh, nakal, atau memiliki intelektual di bawah rata-rata. Namun, yang sering kali tidak mendapat perhatian adalah adanya kasus-kasus tertentu dimana anak memang tidak bisa menangkap metode belajar anak-anak pada umumnya. Hal ini tentu terlepas dari kemampuan intelektual dan rajin tidaknya anak tersebut untuk belajar.
Kondisi semacam ini dikenal dengan istilah gangguan belajar. Gangguan belajar sendiri terbagi ke dalam beberapa sub gangguan yang disesuaikan dengan keterbatasan anak dalam belajar. Untuk penjelasan lebih detail, simak pada artikel ini!
Pengertian Gangguan Belajar

Gangguan belajar sendiri merupakan kondisi dimana seseorang mengalami keterbatasan dalam menangkap, mengolah, menganalisis, dan menyampaikan informasi. Anak penderita gangguan belajar sering kali mendapatkan penilaian akademis yang buruk.
Anak dengan gangguan belajar tidak pantas untuk mendapat label bodoh, apa lagi malas. Pasalnya, mereka bahkan bisa menjadi lebih baik dibandingkan anak-anak pada umumnya jika mendapatkan penanganan yang tepat dalam proses tumbuh kembangnya.
Sayangnya, masih banyak sekolah-sekolah yang masih belum menyimpan perhatian lebih terhadap anak-anak dengan gangguan belajar. Untuk itu, orang tua harus lebih peka dalam menempatkan pendidikan dan metode mendidik yang diberikan kepada anak.
Penyebab Gangguan Belajar

Kemampuan belajar seseorang dipengaruhi oleh aktivitas yang terjadi pada otak. Dengan demikian, sebagian besar gangguan belajar anak disebabkan oleh masalah atau gangguan yang terjadi pada otak. Hal tersebut bisa saja terjadi pada usia pranatal, proses kelahiran, hingga anak usia balita.
Diluar itu semua, terdapat beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan resiko anak mengalami gangguan belajar, yaitu:
Genetik
Walaupun belum bisa dipastikan, namun dalam beberapa kasus terdapat anak yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan belajar bisa jadi memiliki gangguan yang sama juga.
Komplikasi pada masa prenatal
Penting untuk Ibu memperhatikan pola makan dan pola hidup sehat saat sedang mengandung. Pasalnya, perkembangan otak sudah terjadi saat anak masih berada di dalam kandungan. Ibu yang mengalami kekurangan nutrisi saat sedang mengandung akan beresiko melahirkan anak dengan gangguan belajar. Selain itu, Ibu hamil juga perlu menghindari alkohol dan obat-obatan terlarang untuk menjaga bayi di dalam kandungan tetap sehat.
Trauma fisik dan psikologis
Anak yang mengalami trauma fisik seperti menjadi korban kekerasan dapat mengganggu perkembangan otak anak. Dengan demikian, resiko gangguan belajar akan lebih besar. Selain itu, trauma fisik seperti benturan pada kepala dapat mempengaruhi saraf yang mengatur perkembangan belajar anak.
Baca juga: Takut Pada Lautan? Bisa Jadi Kamu Memiliki Gangguan Thalassophobia
Macam-Macam Gangguan Belajar

Cukup banyak gangguan belajar yang bisa saja dialami oleh anak. Meski demikian, disleksia, diskalkulia, dan disgrafia merupakan tiga jenis gangguan belajar yang paling umum dijumpai di masyarakat. Berikut penjelasannya:
Disleksia
Gangguan pertama merupakan gangguan dalam membaca atau yang dikenal dengan disleksia. Anak dengan disleksia akan mengalami kesulitan untuk mengenali kata, mengeja, dan hal-hal yang berhubungan dengan huruf dan suara.
Untuk mengetahui anak mengalami disleksia memang bukanlah hal yang mudah. Orang tua akan kesulitan memahami apakah anak sekedar susah untuk memahami saat diajarkan untuk membaca, atau memang anak mengalami disleksia. Untuk itu orang tua perlu berkonsultasi mengenai hal ini dengan psikolog atau psikiater.
Anak dengan disleksia bukanlah anak yang bodoh, mereka hanya membutuhkan metode belajar yang tepat. Orang tua atau guru bisa menggunakan balok untuk membantu anak menggabungkan huruf.
Diskalkulia
Gangguan belajar selanjutnya merupakan gangguan pada kemampuan menghitung atau matematika. Gangguan ini disebut dengan diskalkulia. Anak dengan gangguan diskalkulia bisa jadi menunjukkan gejala yang berbeda-beda, meski demikian kebanyakan dari mereka bahkan tidak bisa mengenali angka.
Saat sudah lebih dewasa, anak dengan gangguan diskalkulia justru tidak bisa melakukan perhitungan walaupun itu merupakan perhitungan sederhana sekalipun. Orang tua dan guru bisa memberikan metode belajar khusus pada anak dengan diskalkulia. Pasalnya mereka memang tidak bisa diajarkan menggunakan metode yang sama dengan anak-anak pada umumnya.
Disgrafia
Gangguan belajar terakhir yaitu disgrafia yang merupakan gangguan pada kemampuan menulis, hal ini termasuk tulisan tangan yang buruk. Gangguan ini membuat anak kesulitan dalam memegang pensil.
Anak dengan gangguan disgrafia cenderung kesulitan untuk menulis kalimat yang baik dan benar. Anak juga tidak menyukai kegiatan menulis atau menggambar menggunakan kertas dan pensil. Hal ini dikarenakan mereka kesulitan untuk sekedar memegang pensil.
Anak dengan gangguan belajar perlu mendapatkan penanganan khusus oleh para ahli. Hal ini bertujuan untuk memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Banyak sekali informasi yang perlu anak tangkap. Untuk itu, memiliki kemampuan belajar merupakan hal yang penting.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Jangan Diabaikan! Ini Dia Ciri-Ciri Gangguan Menentang Pada Anak



