Deeptalk.co.id – Pada dasarnya setiap orang memiliki emosinya masing-masing. Baik itu emosi positif maupun negatif. Emosi inilah yang nantinya akan mempengaruhi seseorang dalam berekspresi. Misalnya saat sedang merasakan kesedihan, umumnya orang akan berekspresi dengan kemurungan atau tangisan. Begitu juga dengan orang yang sedang merasa bahagia, mereka akan berekspresi dengan senyuman atau tawa.
Kemampuan mengenal dan mengekspresikan emosi yang kita rasakan umumnya akan dipelajari sejak masa kanak-kanak. Seperti yang kita ketahui, masa kanak-kanak adalah masa dimana proses perkembangan terjadi dengan sangat cepat. Salah satunya yaitu perkembangan emosional.
Sayangnya, tidak semua anak mendapatkan haknya dalam hal perkembangan emosional ini. Hal inilah yang tidak jarang membuat anak mengalami masalah dalam mengekspresikan perasaan mereka. Selain tidak mendapatkan perkembangan emosional yang baik, masih banyak faktor lainnya yang mempengaruhi hal tersebut.
Tahukah kamu bahwa, kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan untuk mengekspresikan emosinya biasa dikenal dengan istilah emotionally unavailable. Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan ekspresi dan respon yang datar terhadap suatu objek dan situasi di sekitarnya. Hal ini pada akhirnya berdampak pada rusaknya hubungan dengan lingkungan sosialnya.
Maka dari itu, penting bagi kita mengenal lebih jauh mengenai kondisi emotionally unavailable. Selain dapat mengantisipasi kondisi tersebut pada diri kita, kita juga bisa lebih mengerti orang-orang yang sedang dalam kondisi tersebut. Untuk itu, pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai gejala emotionally unavailable. Namun perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera konsultasi dan periksakan lebih lanjut kepada psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Setiap penderita emotionally unavailable bisa jadi menunjukan gejala dan tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda. Meski demikian, umumnya penderita emotionally unavailable akan menunjukan beberapa gejala berikut:
Menolak Untuk Membangun Komitmen

Penderita emotionally unavailable tidak hanya kesulitan dalam mengekspresikan emosi mereka. Mereka juga cenderung kesulitan untuk membangun sebuah komitmen. Terlepas dari besar atau kecilnya komitmen tersebut. Misalnya komitmen untuk menjalin hubungan romantis, atau bahkan komitmen untuk janji temu di kemudian hari.
Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa penderita emotionally unavailable tetap memiliki antusias dalam membangun hubungan romantis. Namun banyak diantara mereka yang membiarkan ketidakjelasan hubungan tersebut, seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, banyak juga pasangan dari penderita emotionally unavailable yang merasa tidak benar-benar dicintai. Kembali lagi, hal ini merupakan dampak dari kondisi mereka yang tidak bisa berekspresi seperti orang-orang pada umumnya.
Baca juga : Emotionally Unavailable : Tidak Tertarik Untuk Berbagi Perasaan Dengan Orang Lain
Minim Empati

Selain mengalami masalah dalam berkomitmen, penderita emotionally unavailable juga umumnya minim atau bahkan sama sekali tidak memiliki empati. Empati sendiri adalah kemampuan untuk dapat memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain. Kemampuan yang satu ini sebenarnya sangat penting dalam kehidupan bersosial. Maka tidak heran jika banyak dari penderita emotionally unavailable yang juga mengalami masalah sosial.
Penderita emotionally unavailable sangat jarang atau bahkan tidak sama sekali menunjukan emosi yang mereka rasakan. Hal inilah yang membuat mereka sulit untuk mengidentifikasi perasaan orang lain dari emosi yang mereka tampilkan.
Meski demikian, minimnya empati yang mereka miliki bukan berarti mereka tidak perhatian terhadap orang disekitarnya. Hanya saja, mereka tidak memahami dengan baik kondisi orang disekitarnya. Untuk itu, mereka cenderung butuh untuk dijelaskan secara detail, dibandingkan harus menebak-nebak dari ekspresi yang ditampilkan.
Menolak Untuk Menceritakan Masalah Mereka

Gejala yang satu ini merupakan suatu gejala yang membuat penderita emotionally unavailable kesulitan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pada umumnya, penderita emotionally unavailable menolak untuk menceritakan masalah mereka. Terutama mengenai hal-hal yang bersifat emosional. Misalnya, saat mereka baru saja ditinggal oleh orang terkasih, jangan harap mereka menangis-nangis di depanmu dan mengharapkan kamu untuk mendengarkan cerita mereka. Hal tersebut adalah kondisi yang cukup mustahil dilakukan oleh penderita emotionally unavailable.
Penderita emotionally unavailable juga tidak suka untuk berbagi perasaan. Maka tidak heran jika mereka akan menghindar jika seseorang sedang membahas apa yang sedang dirasakan. Bahkan dalam beberapa kondisi, mereka akan mengeluarkan lelucon disaat orang lain hendak menceritakan kesedihannya.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai gejala dari emotionally unavailable. Gejala diatas hanyalah sebagian kecil dari banyak gejala lainnya yang dialami oleh penderita emotionally unavailable. Untuk itu, jika kamu merasa kesulitan dalam mengekspresikan emosi, serta kondisi itu dianggap mengganggu, maka jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Tips Bangkit Dari Sebuah Kegagalan
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



