Deeptalk.co.id – Saat melihat orang kesurupan, umumnya kebanyakan orang akan menghubungkan hal tersebut dengan sesuatu yang berhubungan dengan dunia lain atau makhluk halus. Namun tahukah kamu bahwa di dunia medis kondisi tersebut bisa jadi gejala dari gangguan skizoafektif atau schizoaffective disorder.
Untuk penjelasan lebih detail mengenai gangguan skizoafektif, artikel ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. namun perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukatif dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis.
Jika kamu atau orang sekitar mengalami kondisi serupa dengan apa yang dijelaskan dalam artikel ini, jangan ragu untuk segera konsultasikan dengan para ahli seperti Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu, kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Pengertian Gangguan Skizoafektif

Gangguan skizoafektif merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan adanya gejala skizofrenia dan gangguan suasana hati. Gangguan skizofrenia ini mencakup delusi dan halusinasi, sedangkan gangguan suasana hati mencakup depresi dan mania.
Gangguan skizoafektif ini juga merupakan bagian dari gangguan skizofrenia, yang dimana kasus pada penderita skizoafektif ini mencapai 1/3 dari total kasus gangguan skizofrenia secara keseluruhan. Kondisi ini bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan, meski demikian perempuan beresiko lebih besar mengalami kondisi tersebut.
Walaupun gangguan skizoafektif ini merupakan bagian dari gangguan skizofrenia, namun karena salah satu gejalanya adalah gangguan suasana hati, kondisi ini sering disalah artikan sebagai depresi ataupun bipolar. Untuk itulah, agar dapat mengetahui kondisi kesehatan mental secara detail maka diperlukan pemeriksaan secara medis oleh Psikolog maupun Psikiater.
Mengingat kondisi gangguan skizoafektif ini menyerang suasana hati dan delusi serta halusinasi, maka tidak heran jika penderita gangguan skizoafektif mengalami cukup banyak kendala dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, penderita gangguan skizoafektif tetap bisa beraktivitas layaknya orang-orang pada umumnya, selama mereka mendapatkan penanganan yang tepat.
Penyebab Gangguan Skizoafektif

Sama halnya dengan gangguan skizofrenia dan gangguan mental lainnya, penyebab pasti dari gangguan skizoafektif ini juga belum diketahui hingga saat ini. Meski demikian, banyak ahli yang beranggapan bahwa beberapa faktor dipercaya dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan skizoafektif. Berikut faktor-gaktor yang dimaksud:
Genetik
Faktor yang satu ini memang sudah cukup sering disebut dalam berbagai pembahasan mengenai gangguan mental. Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi kesehatan mental seseorang salah satunya dipengaruhi oleh genetik. Dengan demikian, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan skizoafektif, skizofrenia, atau gangguan bipolar, akan beresiko mengalami gangguan skizoafektif.
Lingkungan
Selain faktor genetik, faktor lingkungan juga tidak kalah besar mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Termasuk dalam kondisi gangguan skizoafektif. Seseorang yang tinggal di lingkungan dengan tekanan yang tinggi, atau menyebabkan stress berlebih, dapat meningkatkan resiko orang tersebut mengalami gangguan skizoafektif.
Baca juga : Ini Dia Gejala dan Penanganan Pada Penderita Skizofrenia
Kondisi otak
Dalam kasus gangguan skizoafektif ini, kondisi otak juga dapat meningkatkan resiko. Dalam hal ini, ukurang otak yang tidak sesuai khususnya pada bagian otak yang dikenal dengan nama hipokampus dan talamus, dapat meningkatkan resiko gangguan skizoafektif.
Gejala Gangguan Skizoafektif

Penderita gangguan skizoafektif bisa jadi menunjukkan gejala dan tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda setiap penderitanya. Kondisi penderita gangguan skizoafektif ini juga bisa memburuk jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Namun, gejala juga bisa diminimalisir dengan adanya penanganan.
Adapun beberapa gejala yang dialami oleh penderita gangguan skizoafektif yaitu:
Delusi
Umumnya penderita gangguan skizoafektif mengalami delusi. Delusi sendiri merupakan kondisi dimana seseorang meyakini hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kondisi ini juga yang sering membuat penderita kesulitan untuk mendapatkan penanganan.
Halusinasi
Sering dikira sama dengan delusi, namun sebenarnya halusinasi juga merupakan kondisi yang berbeda. Halusinasi sendiri merupakan kondisi dimana seseorang melihat, mendengar, mencium. atau merasakan sesuatu yang tidak nyata. Kondisi ini yang sering membuat penderita gangguan skizoafektif dianggap gila atau kesurupan.
Gejala depresi
Penderita gangguan skizoafektif juga menunjukkan beberapa gejala depresi. Depresi sendiri merupakan kondisi dimana seseorang merasakan kesedihan mendalam hingga kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Perubahan suasana hati
Selain depresi, beberapa penderita skizoafektif juga mengalami perubahan suasana hati atau peningkatan energi secara signifikan. Penderita bisa seakan menjadi orang yang berbeda dalam waktu sekejap mata. Kondisi ini sering kali membuat gangguan skizoafektif dianggap sebagai bipolar atau juga kepribadian ganda.
Tidak sesuai dalam menjawab pertanyaan
Gejala yang satu ini cukup memperumit proses pemeriksaan. Pasalnya, penderita skizoafektif juga terkadang tidak efektif dalam menjawab pertanyaan. Ada kalanya mereka hanya menjawab setengah dari pertanyaa, atau bahkan menjawab dengan pertanyaan dengan tidak sesuai konteks.
Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari
Karena kondisi suasana hati dan delusi serta halusinasi yang dialami oleh penderita skizoafektif, mereka cenderung mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Contohnya mereka mengalami penurunan produktivitas kerja, atau menurunya prestasi akademik.
Mengabaikan penampilan
Tidak jarang juga ditemukan bahwa penderita gangguan skizoafektif ini abai akan penampilan mereka. Mereka tidak bisa merawat diri sehingga mengakibatkan penampilan yang berantakan dan berbau tidak sedap.
Seperti itulah penjelasan mengenai gangguan skizoafektif. Jika kamu menemukan orang dengan kondisi serupa, maka segera antarkan untuk berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater. Pasalnya beberapa dari mereka bahkan tidak menyadari kondisi tersebut.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Jangan Salah Pengertian! Ini Dia Penjelasan Mengenai Skizofrenia
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



