Deeptalk.co.id – Kamu pasti pernah mendengar istilah narsis. Narsis merupakan istilah yang tentunya sudah tidak asing lagi. Istilah narsis umumnya menjadi julukan bagi mereka yang memiliki rasa kagum berlebih terhadap diri sendiri. Berbeda dengan percaya diri yang membawa dampak positif untuk diri sendiri, seseorang yang narsis mencintai diri sendiri secara berlebihan dan mendatangkan berbagai dampak negatif termasuk gangguan kesehatan mental.
Gangguan kepribadian narsistik atau yang biasa dikenal dengan istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) merupakan gangguan mental yang disebabkan adanya perasaan ego yang tinggi dan kekaguman yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Orang dengan gangguan kepribadian narsistik umumnya kurang memperhatikan orang lain, dan hanya fokus terhadap keberhasilan diri sendiri.
Seseorang dengan gangguan narsistik cenderung lemah terhadap kritikan sekecil apapun itu. Mereka juga kehilangan empati terhadap orang-orang disekitar mereka. Tidak jarang hal tersebut membuat mereka selalu menampilkan penampilan terbaik mereka.
Orang dengan gangguan mental ini sangat haus akan pujian. Mereka akan merasa sedih jika tidak mendapatkan pujian yang diharapkan. Bahkan, mendapatkan nasihat dari orang lain bisa membuat mereka merasa depresi.
Untuk mengenal lebih dalam mengenai gangguan kepribadian narsistik, artikel ini akan memberikan pembahasan secara lebih mendalam.
Penyebab Timbulnya Gangguan Kepribadian Narsistik

Banyak ahli yang sepakat bahwa gangguan kepribadian narsistik diakibatkan oleh kegagalan pada salah satu proses perkembangan saat kecil. Pada dasarnya, anak mempelajari segala hal dari orang tua dan lingkungan sekitar. Hal ini termasuk menunjukkan empati. Anak yang tidak mendapatkan empati dari orang tua akan mencari figur ideal untuk memenuhi kebutuhan empatinya.
Sigmund Freud berkeyakinan bahwa perilaku narsis muncul dari kombinasi pujian orang tua dan penolakan. Pujian yang berlebihan akan membuat anak merasa dirinya yang terbaik, dan orang lain tidak ada artinya. Sedangkan penolakan akan membuat anak mencari figur ideal yang sesuai dengan ekspektasi mereka.
Meski demikian belum diketahui secara pasti mengenai penyebab utama dari timbulnya gangguan kepribadian narsistik. Namun, terdapat beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya gangguan kepribadian narsistik, yaitu faktor psikologis dan faktor biologis.
Secara psikologis, seseorang yang tidak mendapatkan pengakuan yang tepat akan berpeluang lebih besar mengalami gangguan kepribadian narsisme. Secara biologis, anak yang memiliki orang tua dengan gangguan neurotik banyak mengalami gangguan kepribadian narsisme.
Dampak Gangguan Kepribadian Narsistik

Gangguan kepribadian narsistik membawa berbagai dampak negatif bagi penderitanya. Misalnya, dapat merusak relasi dan hubungan baik dengan orang disekitar. Hal ini diakibatkan oleh sikap mereka yang kurang empati dan susah untuk menerima kritikan.
Kehilangan relasi akan membuat penderita mempersempit lingkup sosial yang dimiliki. Sedangkan manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi yang cukup. Selain itu, penderita gangguan kepribadian narsistik juga membutuhkan pengakuan dan pujian dari orang lain. Hal ini akan membuat mereka depresi karena tidak bisa mendapatkan sesuai dengan harapan yang telah mereka gantungkan.
Dengan demikian, gangguan kepribadian narsistik dapat bermutasi menjadi beragam gangguan kesehatan mental lainnya. Untuk itu, hal ini perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang tepat. Hal ini tentunya bertujuan untuk mengatasi gejala-gejala yang timbul dari gangguan kepribadian narsistik.
Baca juga: Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Remaja
Ciri-Ciri Gangguan Kepribadian Narsistik

Dalam DSM-V, buku panduan diagnosa gangguan mental yang cukup sering digunakan oleh para ahli menyatakan bahwa individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsistik, akan merasa diri paling hebat walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Selain itu, mereka juga memiliki fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati. Mereka juga merasa diri layak untuk diperlakukan istimewa, membutuhkan pengakuan, kurang empati, merasa orang lain iri terhadap apa yang mereka miliki, dan cenderung bersikap angkuh.
Jika kamu memiliki beberapa ciri-ciri di atas, tidak perlu takut. Bisa jadi yang kamu alami hanyalah memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Untuk itu, kamu perlu mengkonsultasikannya kepada psikolog untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Penanganan Pada Penderita Gangguan Kepribadian Narsistik

Langkah utama yang perlu dilakukan jika kamu atau orang disekitarmu menunjukkan ciri-ciri dari gangguan kepribadian narsistik adalah mendapatkan diagnosis. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, perlu dilakukan oleh psikolog atau psikiater.
Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat dan dinyatakan memiliki gangguan kepribadian narsistik, Psikolog umumnya akan memberikan beberapa terapi psikologi untuk membantu meminimalisir simtom dari gangguan tersebut. Terapi psikologi yang umum digunakan adalah terapi bicara untuk membantu penderita memiliki komunikasi yang baik dengan orang lain, dan terapi perilaku kognitif untuk membantu penderita memperbaiki perilaku yang tidak semestinya.
Sedangkan penanganan oleh psikiater umumnya akan berupa pemberian obat-obatan jika memang dirasa perlu. Umumnya obat-obatan yang diberikan akan mengatasi depresi, mengendalikan mood yang kurang baik, atau gejala depresi dan kecemasan.
Baca juga: Identifikasi Kesehatan Mental Pada Anak Sejak Dini



