Deeptalk.co.id – Istilah maskulinitas tentu sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Maskulinitas sendiri merupakan sifat yang menggambarkan bagaimana seorang laki-laki dalam berperilaku, berpikir, bersikap, dan lain sebagainya. Sedangkan pada perempuan dikenal dengan sifat feminim.
Pada dasarnya maskulinitas merupakan sifat yang normal ada pada laki-laki. Namun, jika sifat tersebut sudah berlebihan dan cenderung toxic, maka tentu akan berdampak buruk untuk diri sendiri dan orang-orang disekitar. Kondisi semacam itu dikenal dengan istilah toxic masculinity.
Toxic masculinity adalah sebuah fenomena dimana seorang laki-laki diharapkan untuk selalu bersifat dan bersikap ideal seperti yang digambarkan dalam sifat-sifat maskulinitas. Fenomena tersebut akhirnya membuat ruang gerak laki-laki semakin terbatas, bahkan sampai tidak bisa mengekspresikan kesedihan yang mereka miliki.
Fenomena toxic masculinity ini sudah sepantasnya untuk diberantas, karena dikhawatirkan akan membada dampak negatif untuk kesehatan mental dan fisik. Untuk itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai dampak dan penanganan pada fenomena toxic masculinity.
Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu atau orang disekitar sedang terjebak dalam situasi toxic masculinity, terlebih lagi jika sudah berdampak pada kesehatan mental, segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai dampak dan penanganan fenomena toxic masculinity.
Dampak Toxic Masculinity

Fenomena toxic masculinity ini bisa dikatakan sebagai tuntutan besar bagi setiap laki-laki. Dengan demikian, tidak heran jika fenomena tersebut akhirnya memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental. Tidak hanya itu, hubungan dengan lawan jenis juga akan terganggu. Untuk itu, berikut beberapa dampak toxic masculinity:
Stress
Fenomena toxic masculinity ini menuntut setiap laki-laki untuk menghindari segala sesuatu yang bersifat feminim. Salah satu diantaranya yang dianggap fenimim adalah mengekspresikan perasaan-perasaan sedih dengan menangis, mengeluh, dan lain sebagainya. Hidup ditengah orang-orang yang menjunjung tinggi toxic masculinity ini akan membuat laki-laki tidak memiliki cela untuk mengekspresikan kesedihannya tersebut.
Kesedihan yang terus terpendam dan tidak diekspresikan ini akhirnya bisa menumpuk dan mengakibatkan seseorang rentan mengalami stress. Stress yang tidak mendapatkan pengelolaan yang baik juga bisa menjadi lebih parah dan beresiko mengalami depresi. Dalam kasus yang cukup berat kondisi mental ini juga dapat menghadirkan keinginan untuk bunuh diri. Dengan demikian, fenomena toxic masculinity sangat mungkin untuk menjadi alasan seseorang memilih untuk bunuh diri.
Baca juga : Benarkah Laki-Laki Tidak Boleh Menangis? Ini Dia Penjelasan Tentang Toxic Masculinity
Kesepian
Fenomena toxic masculinity menggambarkan laki-laki sebagai makhluk yang paling mandiri. Mereka seakan tidak pantas untuk mendapatkan bantuan dari orang lain. Sayangnya fenomena ini seakan membuatnya lupa bahwa baik laki-laki maupun perempuan, keduanya adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan dari orang lain untuk menjalani hidup.
Laki-laki diharuskan untuk melakukan segala sesuatunya seorang diri tanpa mendapatkan bantuan dari orang lain. Pandangan mengenai sifat mandiri laki-laki inilah yang akhirnya membuat mereka merasa kesepian.
Hubungan dengan lawan jenis yang tidak harmonis
Fenomena toxic masculinity ini seakan membuat tembok pembatas yang cukup besar antara laki-laki dan perempuan. Hal inilah yang akhirnya membuat mereka kesulitan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan lawan jenisnya.
Laki-laki yang terjebak dalam fenomena ini sering kali menganggap remeh perempuan, dan cenderung mendominasi dalam segala hal. Mereka juga seakan memiliki keharusan untuk berkuasa dan berlebihan dalam mempertahankan nama baik yang dimiliki. Dengan demikian, terciptalah batasan yang jelas antara laki-laki dan perempuan.
Penanganan Pada Fenomena Toxic Masculinity

Untuk dapat memberantas fenomena toxic masculinity ini rasanya akan sangat sulit jika seseorang hanya bergerak sendiri. Pasalnya pandangan mengenai toxic masculinity terbentuk oleh lingkungan. Untuk itu diperlukan kontribusi dari segala pihak dalam menangani fenomena tersebut. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menangani fenomena toxic masculinity:
Mengekspresikan kesedihan
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan menimbulkan kesadaran bahwa laki-laki juga berhak memiliki empati dan mengekspresikan kesedihan mereka. Dalam melancarkan aksi yang satu ini diperlukan kemampuan dalam mengenali emosi, serta cara yang baik dalam mengekspresikan emosi tersebut.
Sebagai respon dari empati dan mengekspresikan emosi, tentunya orang-orang disekitar juga perlu paham bahwa hal tersebut bukanlah kelemahan. Melainkan respon normal yang bisa dilakukan baik laki-laki maupun perempuan.
Menghargai wanita
Langkah selanjutnya adalah dengan menimbulkan perasaan menghargai wanita. Pemahaman mengenai kesetaraan gender akan membantu untuk memangkas fenomena toxic masculinity. Dengan adanya laki-laki yang menghargai wanita, tentunya gap antara keduanya akan terkikis. Akhirnya keduanya bisa membangun hubungan yang harmonis satu sama lain.
Konsultasi dengan para ahli
Jika fenomena toxic masculinity ini sudah berdampak pada kondisi mental seseorang, maka langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan konsultasi dan pemeriksaan dengan Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu akan didapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Itu dia beberapa penjelasan mengenai dampak dan penanganan pada fenomena toxic masculinity. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Sindrom Peter Pan : Perilaku Kekanak-Kanakan yang Dialami Orang Dewasa
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



