Deeptalk.co.id – Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel dengan judul “Kesulitan Menulis Pada Anak? Waspada Gangguan Disgrafia”, gangguan disgrafia merupakan salah satu gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan menulis.
Gangguan ini bisa diderita oleh segala kalangan usia. Meski demikian, anak-anak memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gangguan tersebut. Pasalnya, gangguan ini umumnya berasal dari bawaan genetik yang mengakibatkan anak kesulitan menulis di awal-awal proses belajarnya.
Anak dengan gangguan disgrafia sering kali mendapatkan kendala di sekolah. Ditambah lagi, gangguan yang satu ini sering kali diikuti dengan jenis gangguan belajar lainnya yang dikenal dengan istilah gangguan disleksia. Disleksia sendiri merupakan kondisi seseorang yang kesulitan untuk membaca atau mengeja.
Anak di usia sekolah sering kali dituntut untuk bisa menguasai setiap bidang di setiap tingkatannya. Salah satunya adalah kemampuan menulis dan membaca. Hal tersebut seringkali membuat anak dengan gangguan disgrafia merasa rendah diri dan tidak berdaya. Orang tua dan guru yang tidak memahami kondisi anak dengan gangguan disgrafia hanya akan memperburuk kondisi anak.
Untuk itu, artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, namun bukan sebagai bahan untuk melakukan self diagnosis. Jika anak memiliki beberapa ciri-ciri yang diungkap dalam artikel ini, bijaknya orang tua untuk memeriksakan kondisi anak ke Psikolog atau Psikiater.
Penyebab Gangguan Disgrafia

Setiap penderita gangguan disgrafia tentu memiliki penyebabnya masing-masing. Berikut beberapa penyebab dari gangguan disgrafia:
Genetik
Gangguan disgrafia yang paling umum ditemukan disebabkan oleh faktor genetik. Dimana anak dengan riwayat keluarga yang memiliki gangguan disgrafia akan beresiko lebih besar mengalami gangguan yang sama.
Cedera otak
Gangguan disgrafia bisa saja dialami saat dewasa. Dalam hal ini, gangguan disgrafia bukan bawaan dari lahir. Bisa saja orang yang sebelumnya sudah bisa menulis, tiba-tiba tidak bisa menulis akibat mengalami kecelakaan, benturan keras, tumor, atau sejenisnya yang mengakibatkan cedera pada otak.
Kesehatan mental anak
Anak dengan beberapa kondisi gangguan mental seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), attention deficit disorder (ADD), autism spectrum disorder (ASD), atau gangguan disleksia, bisa saja mengalami gangguan disgrafia sebagai salah satu gejalanya.
Baca juga: Kesulitan Menulis Pada Anak? Waspada Gangguan Disgrafia
Ciri-Ciri Anak Dengan Gangguan Disgrafia

Gangguan disgrafia perlu dideteksi sejak dini untuk mendapatkan penanganan sesegera mungkin. Gangguan disgrafia sebenarnya bisa dideteksi sebelum usia sekolah. Untuk itu, orang tua perlu lebih peka dalam melihat ciri-ciri disgrafia pada anak.
Orang tua dan guru merupakan orang-orang yang berperan penting dalam kemampuan belajar anak. Keduanya perlu memahami dengan baik ciri-ciri anak dengan gangguan disgrafia. Berikut beberapa ciri-ciri anak dengan gangguan disgrafia:
Usia pra-sekolah
Saat berada di rumah, anak dengan gangguan disgrafia di usia pra-sekolah bisanya menolak untuk menggambar atau mewarnai, mereka akan kesulitan memegang pensil atau crayon, tangan mudah lelah atau pegal saat diminta untuk menulis, kesulitan untuk menghubungkan garis, kesulitan untuk menjepit sesuatu dengan ujung jari. Orang tua bisa memperhatikan ciri-ciri tersebut apakah ada pada anak atau tidak.
Sedangkan saat berada di sekolah, anak dengan gangguan disgrafia di usia pra-sekolah biasanya guru perlu usaha keras untuk membuat anak mengikuti apa yang diucapkan, anak lebih menyukai aktivitas mewarnai daripada menggambar, anak juga akan mencari banyak alasan untuk menghindari aktivitas menggambar atau menulis. Guru bisa memperhatikan ciri-ciri tersebut pada murid, jika terdapat beberapa ciri-ciri di atas bisa langsung dikonfirmasi kepada orang tua untuk tindakan lebih lanjut.
Usia sekolah dasar
Saat berada di rumah, anak dengan gangguan disgrafia di usia sekolah dasar umumnya akan kesulitan untuk menggambar, menebalkan garis, atau membentuk pola. Selain itu, anak juga kesulitan untuk mengikat tali sepatu di usia 8 tahun, tangan atau jari mudah merasa pegal saat menulis. Anak juga kesulitan dalam permainan yang berhubungan dengan motorik halus, seperti menggunting, memasukkan benang dalam jarum, atau mengancing baju. Gerakan tangan anak juga cenderung kaku, kesulitan membedakan tangan kiri dan kanan, tulisan cenderung berantakan, sering typo saat menulis. Mampu menjelaskan pelajaran di sekolah dengan baik, namun kesulitan untuk menuliskannya.
Saat berada di sekolah, anak dengan gangguan disgrafia di usia sekolah dasar umumnya kesulitan untuk menuliskan huruf dengan benar, tangan terlihat kaku saat memegang pensil, gestur badan dan tangan yang salah saat menulis, memiliki tulisan yang tidak rapi, sering typo, tidak bisa membaca tulisan tangan sendiri, sering menghapus dan mengulang tulisan, hingga terkesan lambat saat menulis dengan didikte dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya.
Usia sekolah menengah dan atas
Anak di usia menengah dan atas cenderung kesulitan jika diminta untuk menuliskan apa yang ada dipikirkan. Misalnya jika diminta untuk menuliskan cerita pengalaman liburan, atau diminta untuk menulis puisi. Selain itu, anak juga sering menuliskan kalimat yang tidak lengkap dan cenderung dengakal, sering melupakan beberapa huruf saat diminta untuk menulis cepat, dan juga kesulitan jika diminta untuk merangkum suatu tulisan.
Jika guru dan orang tua menemukan beberapa ciri-ciri di atas pada anak, sebaiknya segera melakukan konsultasi dengan Psikolog untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Dengan demikian, anak dapat melalui proses perkembangannya dengan baik seperti anak-anak pada umumnya. Semoga artikel ini dapat membantu.
Baca juga: Mengenal Dampak dan Cara Menangani Penderita Gangguan Siklotimia



