Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah menjumpai anak yang hyperaktif dan cenderung melakukan kegiatan impulsif? Bisa jadi anak itu mengalami ADHD atau attention deficit hyperactivity. Jika kamu cukup familiar dengan sebutan “anak berkebutuhan khusus”, ADHD ini merupakan salah satunya.
ADHD ini merupakan salah satu bagian dari gangguan kesehatan mental yang terjadi pada anak-anak dan bertahan hingga dewasa. Anak yang menderita ADHD akan mengalami kesulitan untuk memfokuskan perhatian, hyperaktif, dan melakukan perilaku impulsif.
Kondisi yang dialami oleh anak dengan ADHD akan membuat anak kesulitan untuk memenuhi proses perkembangannya, termasuk dalam proses belajar mereka. Hingga saat ini juga belum temukan metode atau obat-obatan yang dapat memulihkan anak dari ADHD. Dengan demikian, gangguan tersebut akan dibawa seumur hidup.
Walaupun belum ditemukan metode penyembuhannya, namun dengan menyadari gangguan tersebut sedini mungkin, dan melakukan segala jenis penanganan maka akan membantu anak untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
Pengertian ADHD

ADHD (attention deficit hyperactivity) merupakan kondisi dimana anak mengalami gangguan perkembangan otak dan saraf yang memberikan dampak terhadap perkembangan motorik pada anak. ADHD sendiri dibedakan ke dalam 3 kelompok, yaitu dominan inatentif, dominan hiperaktif-impulsif, dan kombinasi antara inatentif dan hiperaktif-impulsif.
Kelompok pertama yaitu dominan inatentif merupakan kumpulan penderita ADHD yang mengalami kesulitan untuk fokus dan memusatkan perhatian terhadap satu hal. Kelompok kedua yaitu dominan hiperaktif-impulsif merupakan kumpulan penderita ADHD yang hyperaktif dan melakukan tindakan impulsif atau melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan dampak dari tindakan tersebut. Untuk kelompok ketiga yaitu kombinasi antara inatentif dan hiperaktif-impulsif yang merupakan kumpulan penderita ADHD dengan kesulitan fokus, hiperaktif, dan melakukan perilaku impulsif.
Penyebab ADHD

Selain penyembuhan terhadap gangguan yang satu ini, penyebab dari ADHD sendiri juga belum ditemukan secara pasti. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan resiko ADHD pada seorang anak, yaitu:
Genetik
Cukup banyak kasus bahwa ADHD merupakan warisan dari anggota keluarga sebelumnya. Untuk itu walaupun belum diketahui berapa persen kemungkinan ini terjadi, namun dipercaya bahwa anak dengan riwayat keluarga dengan ADHD memiliki resiko mengalami gangguan yang sama.
Fungsi dan struktur otak
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa anak dengan ADHD cenderung memiliki struktur otak yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Beberapa bagian akan tampak lebih besar, dan bagian lainnya akan lebih kecil.
Selain itu, penderita ADHD mungkin memiliki ketidakseimbangan dalam tingkat neurotransmitter di otak. Beberapa ahli juga beranggapan beberapa bahan kimia pada otak bisa jadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Ibu yang merokok atau mengkonsumsi minuman alkohol di masa kehamilan
Inilah mengapa saat masa kehamilan Ibu akan diminta setidaknya untuk sementara tidak mengkonsumsi alkohol dan merokok. Hal tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan janin di dalam perut. Ibu yang merokok atau mengkonsumsi minuman beralkohol juga dipercaya meningkatkan resiko bayi lahir dengan kondisi ADHD.
Baca juga : Anxiety Disorder: Jangan Remehkan Kejadian Traumatis! Kenali Lebih Jauh Tentang Gangguan Stress Pasca Trauma
Gejala ADHD

Untuk dapat mengidentifikasi apakah seseorang mengalami ADHD atau tidak, tentu perlu diketahui gejala apa saja yang ditunjukkan oleh penderita ADHD. Meski demikian setelah mengetahui gejala ADHD, kamu masih perlu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pasalnya, beberapa gangguan juga bisa memiliki gejala yang sama.
Berikut beberapa gejala yang ditunjukkan oleh penderita ADHD berdasarkan usianya:
Gejala ADHD pada anak
Pada usia anak, akan terlihat anak mengalami kesulitan untuk fokus dan mudah terdistraksi. Selain itu, anak dengan ADHD juga memiliki kemampuan perhatian yang rendah baik itu saat bermain maupun belajar. Tidak jarang, mereka juga terlihat gelisah, menggeliat, atau kesulitan duduk diam. Anak dengan ADHD cenderung selalu melakukan gerakan, berlarian, bicara berlebihan, hingga menyalahkan orang lain.
Gejala ADHD pada remaja
Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya bahwa ADHD memang dialami saat usia anak, namun akan berlangsung hingga dewasa. Pada remaja, ADHD mungkin akan menunjukkan gejala yang sedikit berbeda, yaitu akan mengalami kesulitan mengerjakan tugas, selalu melakukan kesalahan dalam mengerjakan tugas, susah fokus, memiliki masalah manajemen waktu, pelupa akan hal-hal kecil sekalipun, menghindari tugas-tugas yang berat, hingga mengalami peningkatan frustasi dan kepekaan emosional.
Gejala ADHD pada dewasa
Sedangkan pada usia dewasa, penderita ADHD akan menunjukkan gejala berupa kesulitan mengerjakan dan menyelesaikan tugas kuliah atau tugas pekerjaan, adanya masalah harga diri dan kesejahteraan mental, melakukan penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan juga mengkonsumsi alkohol berlebih, hingga sering mengalami kecelakaan atau cedera.
Jika kamu atau orang disekitar mu memiliki beberapa gejala di atas, hendaklah melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Semakin dini mendeteksi adanya ADHD pada diri seseorang, maka semakin besar kemungkinan penderita dapat beradaptasi dengan baik di lingkungannya.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Ini Dia 5 Tipe Gangguan Spektrum Autisme



