Deeptalk.co.id – Menunda pekerjaan pada dasarnya merupakan tindakan yang tidak baik. Selain bisa berdampak pada hasil kerja, hal tersebut juga bisa memperburuk citra diri yang dimiliki. Meski demikian, setiap orang memiliki alasannya masing-masing mengapa mereka sampai memilih langkah tersebut. Walaupun kebanyakan alasannya hanya untuk menutupi sifat malas yang dimiliki.
Kebiasaan menunda tugas atau pekerjaan dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah prokrastinasi. Prokrastinasi sendiri cukup sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam dunia pendidikan atau dinia corporate sekalipun.
Pada dasarnya, pelaku prokrastinasi tidak memiliki niat untuk menghindari pekerjaan. Hanya saja mereka menunda untuk mengerjakan pekerjaan tersebut sampai mendekati deadline waktu yang telah ditentukan. Hasilnya mereka tidak bisa memberikan hasil kerja yang maksimal karena kurangnya waktu untuk melakukan riset yang lebih dalam, dan kurangnya waktu untuk memeriksa kembali hasil pekerjaan. Kebiasaan semacam itu tentu bisa menimbulkan berbagai masalah, baik itu di dunia kerja, pendidikan, atau bahkan kehidupan sehari-hari.
Namun perlu diketahui juga bahwa setiap tindakan tentu memiliki penyebab, begitu juga dengan prokrastinasi. Untuk itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai penyebab seseorang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi.
Namun sebelum kita masuk pada topi utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami masalah kesehatan mental atau timbulnya perilaku menyimpang, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Kembali lagi pada topik pembahasan utama. Sayangnya hingga saat ini belum ditemukan penyebab pasti seseorang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan. Meski demikian, kondisi tersebut bisa dipicu oleh beberapa kondisi. Kondisi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Kecemasan

Saat mendapatkan tugas yang dianggap cukup berat, beberapa orang cenderung mengalami kecemasan. Walaupun tingkat kecemasan di masing-masing orang tentunya berbeda. Meski demikian, kecemasan ini diperkirakan dapat memicu perilaku prokrastinasi atau menunda pekerjaan.
Saat merasa cemas, seseorang tidak bisa berpikir dengan jernih. Akhirnya mereka akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa menetralisir pikiran dan perasaannya. Disaat semuanya dianggap sudah membaik barulah mereka bisa mulai untuk mengerjakan tugasnya.
Kecemasan yang timbul saat mendapatkan tugas atau tanggung jawab tertentu juga bisa dipicu oleh tingginya stress yang menimpa seseorang. Sehingga kecemasanlah yang menjadi respon emosional dari stress tersebut. Stress sendiri timbul akibat penilaian terhadap tugas atau tanggung jawab yang dibebankan sebagai sebuah ancaman.
Kurangnya Self Depreciation

Selain kecemasan, kondisi lain yang dapat memicu perilaku prokrastinasi adalah kurangnya self depreciation. Self depreciation sendiri merupakan penghargaan terhadap diri sendiri. Disaat seseorang kurang dalam memberikan penghargaan terhadap diri sendiri, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri walau hanya karena hal-hal sepele.
Kurangnya self depreciation ini juga dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Dengan demikian hal ini akan berdampak pada mulai atau tidaknya seseorang dalam mengerjakan tugas. Mereka akan berpikir terlalu lama hanya untuk memulai mengerjakan tugas. Selain itu. Mereka juga mengalami masalah dalam menyusun suatu rencana. Kembali lagi, ini tentang rasa percaya diri akan kemampuan yang dimiliki.
Baca juga : Mengenal Ciri-Ciri dan Contoh Pelaku Prokrastinasi
Stress

Seperti yang sudah dibahas secara singkat pada poin pertama bahwa stress juga dapat memicu tindakan prokrastinasi. Saat stress seseorang akan mengalami banyak hambatan dalam menjalani hidup, termasuk dalam memulai atau menyelesaikan tugas dan pekerjaan mereka. Maka tidak heran jika orang dengan stress tinggi cenderung melakukan prokrastinasi.
Orang dengan kondisi stress tidak bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan baik. Dengan demikian mereka memiliki anggapan bahwa lebih baik mengerjakannya disaat stressnya sudah meredah. Kabar buruknya, stress tersebut justru bisa dipicu oleh beratnya tugas yang hendak mereka kerjakan. Jadi, prokrastinasi akan terus terjadi selama mereka tidak memiliki manajemen stress yang baik.
Depresi

Sama halnya dengan stress, depresi juga bisa memicu perilaku prokrastinasi. Pada dasarnya penjelasannya sendiri tidak jauh berbeda dengan stress itu sendiri. Hanya saja pada kondisi depresi, emosi-emosi negatif lebih berkontribusi besar dalam diri seseorang. Dampaknya, penundaan akan tugas bisa lebih lama, atau bahkan tidak dikerjakan sama sekali.
Dalam kondisi depresi yang sudah cukup berat, penderita justru membutuhkan bantuan dari profesional untuk bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan baik. Lantas, bagaimana bisa mereka mengerjakan tugas jika untuk terus melanjutkan hidup mereka membutuhkan bantuan dari orang lain?
Gangguan Obsesif Kompulsif (OCD)

Kondisi kesehatan mental lainnya yang bisa memicu perilaku prokrastinasi adalah gangguan obsesif kompulsif. Gangguan yang satu ini memiliki hubungan kuat dengan perilaku perfeksionisme. Dengan demikian, mereka mendapatkan hasil yang sempurna. Walaupun sekilas tampak positif, namun hal ini bisa menunda seseorang dalam mengerjakan tugas karena terlalu mempertimbangkan banyak sisi. Termasuk hal-hal yang tidak perlu untuk dipertimbangkan.
Itu dia beberapa kondisi yang dapat memicu seseorang menjadi pelaku prokrastinasi. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Prokrastinasi : Kebiasaan Menunda Tugas atau Pekerjaan
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



