Semua artikel
Gangguan Psikologi

Mengapa Seseorang Bisa Terjebak Pada Peter Pan Syndrome?

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Peter pan syndrome atau sindrom peter pan merupakan kondisi psikologis di mana seseorang merasa kesulitan untuk memasuki tahap dewasa, sehingga mereka memilih untuk mempertahankan gaya hidup yang lebih mirip dengan masa kanak-kanak. Dengan kata lain, para pengidap peter pan syndrome ini hidup layaknya anak-anak di usia nya yang sudah memasuki masa dewasa.

Gejala dari sindrom ini mencakup ketidakmampuan atau keengganan untuk menghadapi tanggung jawab sebagai seorang yang sudah dewasa. Mereka menjadi ketergantungan dengan ornag lain dan cenderung menghindari komitmen jangka panjang. Seseorang dengan peter pan syndrome kerap menunjukkan ketidakmatangan emosional dan sulit beradaptasi dengan tuntutan kehidupan dewasa.

Ada beberapa faktor yang mendorong atau berkontribusi pada perkembangan sindrom peter pan ini. Seperti kesepian yang dapat memicu ketergantungan emosional seseorang pada orang lain, sementara ketakutan akan komitmen dapat memicu penolakan terhadap tanggung jawab jangka panjang.

Selain itu, diketahui juga bahwa narsisme dapat memainkan peran dengan fokus yang berlebihan pada diri sendiri dan kurangnya empati terhadap kebutuhan orang lain. Juga perilaku yang memfasilitasi seperti keluarga atau teman yang terus menerus membantu tanpa menuntut pertanggungjawaban, dapat memperkuat kecenderungan ini. Dengan mengetahui beberapa faktor tersebut, seseorang dapat memahami dan mengatasi terjadinya peter pan syndrome dan ini penting untuk memfasilitasi perkembangan individu menuju kedewasaan yang sehat.

Di antara faktor-faktor paling signifikan yang terlibat dalam studi sindrom Peter Pan adalah:

1) Lingkungan Keluarga dan Gaya Pengasuhan

Keluarga merupakan kontak terdekat yang dimiliki seseorang dengan dunia luar. Faktor penting dalam perkembangan emosi seorang anak adalah dinamika keluarga dan hubungan dengan orang tua. Individu yang diberi tanggung jawab yang tidak mencukupi ketika mereka tumbuh dewasa dan sangat bergantung pada anggota keluarga mereka bahkan untuk kebutuhan dasar cenderung lebih rentan.

Dalam lingkungan yang terlalu protektif, seorang anak tidak memiliki cukup ruang untuk bereksplorasi. Akibatnya, mereka cenderung menjadi takut dan terbatas serta sering meminta dukungan orang tua.

Dua gaya pengasuhan yang paling banyak terlibat dalam penelitian sindrom peter pan adalah gaya pengasuhan permisif dan protektif. Pola asuh permisif merupakan salah satu bentuk pola asuh dimana orang tua tidak memberikan tuntutan yang ekstrim kepada anaknya, dan juga peka terhadap kebutuhan emosional anak, sehingga tidak memberikan batasan kesehatan seperti itu.

Baca juga: Memahami Gangguan Pseudodementia dan Gejalanya

2) Tidak Adanya Keterampilan Sebagai Orang Dewasa

Jika anak tidak diberi tanggung jawab yang cukup seperti mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri, membereskan tempat tidur, melakukan pekerjaan rumah tangga, mengelola uang saku, mereka tidak mengembangkan keterampilan dasar sebagai orang dewasa. Saat dewasa, mereka menjadi tidak mampu menangani tanggung jawab dasar sekalipun dan kurang memiliki kematangan emosi. Mereka tidak mengembangkan keterampilan dasar untuk mengatasi masalah dan menjadi tidak mampu menangani masalah kecil sekalipun.

3) Adanya Peran Gender dalam Konteks Budaya

Dalam berbagai budaya, perempuan dianggap bertanggung jawab atas semua tugas rumah tangga dan tanggung jawab keluarga. Anak-anak mereka diberi makan, dibersihkan, dan dirawat oleh mereka. Hal ini dapat membuat pasangan mereka kurang tanggap terhadap tindakan mereka dan mungkin selalu bergantung pada pasangannya untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam beberapa budaya, orang cenderung hidup seumur hidup, jadi mengamati seorang anak sebagai seorang ibu yang melakukan segala sesuatu yang dilakukan anak laki-laki mungkin akan mengembangkan gagasan tentang peran mereka yang telah ditentukan sebelumnya dalam keluarga. Mereka mungkin selalu menghormati ibu mereka dan kemudian pasangan romantisnya untuk mendapatkan dukungan emosional.

Hal ini sering disebut dengan enmeshment, ketika tidak ada batasan kesehatan dalam suatu hubungan, akibatnya orang tersebut selalu bergantung pada orang tersebut. Proses ini seringkali dimulai sejak masa kanak-kanak itu sendiri.

4) Trauma Masa Kanak-Kanak

Ada kalanya orang “terjebak” akibat trauma yang mereka alami. Akibat dari emosi sulit yang mereka alami, mereka mungkin merasa sulit untuk memilih untuk maju. Individu yang pernah mengalami trauma dan gejolak emosi di masa kanak-kanak yang memungkinkan mereka menikmati masa muda mungkin akan membuat mereka ingin melepaskan semua tanggung jawab. kehidupan dewasa dan hidup sembarangan.

5) Kesendirian Hingga Kesepian

Individu yang mengalami kesepian mungkin mengembangkan ketergantungan pada orang lain untuk mendapatkan dukungan emosional dan persahabatan. Ketergantungan ini dapat menghambat pertumbuhan dan kemandirian pribadi.

Untuk menghindari perasaan terisolasi, beberapa orang mungkin berpegang teguh pada gaya hidup yang lebih riang dan kekanak-kanakan, menghindari tanggung jawab yang terkait dengan masa dewasa.

6) Penghindaran Tanggung Jawab Jangka Panjang

Ketakutan akan komitmen dapat menyebabkan penghindaran tanggung jawab jangka panjang, seperti komitmen karier, hubungan serius, atau perencanaan keuangan. Hal ini dapat mengakibatkan keengganan untuk mengambil keputusan yang penting untuk pengembangan pribadi dan profesional.

7) Narsisisme

Kecenderungan narsistik dapat berkontribusi pada fokus pada keinginan dan kebutuhan diri sendiri, terkadang dengan mengorbankan mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Individu dengan sifat narsistik mungkin merasa kesulitan untuk berempati dengan perjuangan dan tanggung jawab orang lain. Sehingga ini berkontribusi pada kurangnya pemahaman tentang tuntutan kehidupan orang dewasa.

Penting untuk dicatat bahwa faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri-sendiri, dan seseorang mungkin menunjukkan kombinasi dari sifat-sifat ini. Selain itu, sindrom Peter Pan merupakan fenomena kompleks dan perkembangannya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Memahami dan mengatasi faktor-faktor yang berkontribusi ini sangat penting bagi individu yang mencari pertumbuhan pribadi dan pendekatan yang lebih seimbang menuju masa dewasa.

Baca juga: Memahami Neuroplastisitas : Kemampuan Otak dalam Beradaptasi

 

Sumber:

https://www.psychologs.com/peter-pan-syndrome-a-child-trapped-in-an-adults-body/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mengapa Seseorang Bisa Terjebak Pada Peter Pan Syndrome? — DeepTalk