Deeptalk.co.id – Tidak asing lagi untuk kita melihat para gen z melakukan prokrastinasi. Walaupun memang tidak bisa kita generalisasi keseluruhan gen z melakukan prokrastinasi. Namun, perilaku yang satu ini memang sudah sangat sering terjadi. Prokrastinasi adalah perilaku menunda memulai, menyelesaikan, atau mengumpulkan pekerjaan.
Gen z adalah generasi yang lahir pada tahun 1997-2012. Artinya, saat ini gen z sudah memasuki usia yang produktif. Sangat disayangkan jika usia produktif ini dihiasi dengan perilaku prokrastinasi. Pasalnya, prokrastinasi memberikan banyak sekali dampak negatif. Salah satunya adalah mempengaruhi produktivitas. Tidak hanya mempengaruhi produktivitas saja, prokrastinasi juga bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental gen z. Lantas, bagaimana prokrastinasi pada gen z bisa berdampak pada kondisi mental? Artikel kali ini akan secara khusus membahas hal tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu memiliki masalah prokrastinasi dan berdampak pada kondisi mental, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan psikologis dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Dampak Prokrastinasi Terhadap Kesehatan Mental Gen Z

Prokrastinasi sangat berdampak bagi kehidupan para gen z. Pasalnya, perilaku prokrastinasi akan menghambat banyak sekali rencana dan juga aktivitas. Selain itu, prokrastinasi juga tidak jarang membuat para gen z kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri.
Dalam kasus pendidikan, prokrastinasi bisa menurunkan prestasi akademik. Sedangkan dalam kasus pekerjaan, prokrastinasi bisa menghambat perkembangan karir. Adapun dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental gen z adalah sebagai berikut:
Meningkatkan stress dan kecemasan
Dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental gen z pertama adalah mampu meningkatkan stress dan kecemasan. Saat terbiasa menunda mengerjakan tugas, maka tugas itu akan menumpuk. Pada akhirnya gen z memiliki semakin sedikit waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk itu. Hal semacam ini tentu akan memicu stress, terutama jika tugas tersebut sangat sulit untuk dikerjakan. Selain itu, akan timbul rasa takut jika tidak mampu mengerjakan tugas itu dengan baik. Walaupun tugas berhasil diselesaikan, tetap ada rasa cemas mengenai tugas yang bisa saja tidak maksimal atau tidak memenuhi standar. Dampak pertama ini didukung dengan jurnal yang diterbitkan oleh American Psychological Association pada tahun 2020.
Baca juga: Gen Z dan Prokrastinasi: Bagaimana Teknologi Mempengaruhi Kebiasaan Mereka?
Mengurangi motivasi dan rasa percaya diri
Dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental gen z kedua adalah mampu mengurangi motivasi dan rasa percaya diri. Beberapa orang memang memiliki kemampuan untuk mengerjakan tugas di waktu yang singkat. Namun, itu hanya sebagian kecil orang saja. Beberapa lainnya akan mengerjakan tugas dengan sangat sederhana, bahkan tidak mampu menyelesaikannya jika hanya memiliki sedikit waktu penyelesaian. Dengan hasil tugas yang tidak maksimal, individu akan merasa tidak yakin akan kemampuannya, atau kehilangan rasa percaya diri. Hal serupa juga akan mengurang motivasi untuk menjadi lebih baik.
Meningkatkan resiko depresi
Dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental gen z ketiga adalah mampu meningkatkan resiko depresi. Pekerjaan yang tidak terselesaikan tepat waktu, hasil kerja yang tidak maksimal, hingga ketidakmampuan dalam mencapai tujuan akibat perilaku prokrastinasi akan membuat seseorang mengalami rasa sedih mendalam. Tidak jarang hal tersebut juga memicu rasa tidak berdaya, bahkan dalam kasus serius bisa memicu pikiran untuk bunuh diri.
Menghambat kemampuan untuk belajar dan berkembang
Dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental gen z keempat adalah mampu menghambat kemampuan untuk belajar dan berkembang. Seperti yang sudah dipaparkan di awal, saat menunda mengerjakan sesuatu maka seseorang akan kehilangan banyak waktu atau kesempatan untuk melakukan hal lain. Padahal, jika tugas atau pekerjaan diselesaikan lebih cepat, akan ada lebih banyak waktu untuk mempelajari hal baru dan bisa mengembangkan kemampuan.
Meningkatkan resiko kecanduan teknologi
Dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental gen z kelima adalah mampu meningkatkan resiko kecanduan teknologi. Seperti yang kita ketahui, kecanduan atau adiksi merupakan kondisi mental yang cukup serius. Kecanduan terhadap teknologi sedikit berbeda dengan kecanduan yang dipicu oleh zat adiktif. Meski demikian, kecanduan terhadap teknologi juga bisa berdampak buruk. Perilaku prokrastinasi biasanya dilakukan karena sedang sibuk menggunakan teknologi, salah satunya penggunaan sosial media. Perilaku ini tentu tidak asing lagi. Bagaimana notifikasi dari handphone mampu membuat seseorang menghentikan pekerjaan mereka. Jika terus berlangsung, maka penderita harus mendapatkan penanganan untuk mengembalikan produktivitas mereka.
Itu dia beberapa dampak prokrastinasi terhadap kesehatan mental para gen z. Pada dasarnya baik itu prokrastinasi, maupun dampak di atas bisa dialami oleh siapa saja tanpa mengenal generasinya. Namun perlu kita ingat bahwa perilaku prokrastinasi ini menjadi sangat sering dijumpai akhir-akhir ini. Maka dari itu sebagai generasi yang masuk pada usia produktif, sudah seharusnya kita mengatasi perilaku yang satu ini.
Jika kamu merasa telah melakukan prokrastinasi berulang kali, namun tidak mampu untuk mengatasinya. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berkonsultasi dengan psikolog dan para profesional di bidang kesehatan mental. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Gen Z, Overgeneralisasi, dan Kesehatan Mental: Membangun Kesadaran dan Empati
Sumber:
American Psychological Association. (2020). Procrastination. Diakses dari (link unavailable)
Burns, D. D. (1980). Feeling good: The new mood therapy. William Morrow Paperbacks.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.
Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of the literature. Psychological Bulletin, 133(1), 65-94.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



