Deeptalk.co.id – Memiliki hubungan jangka panjang bukan keinginan semua orang. Nyatanya, beberapa orang lebih senang dengan hubungan singkat tanpa melibatkan emosi yang mendalam di dalamnya. Orang-orang semacam ini biasanya akan tiba-tiba menghilang saat hubungan sudah mulai serius, atau yang kita kenal dengan istilah ghosting.
Istilah ghosting tentu tidak asing lagi ditelinga kita. Bahkan, ghosting sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Walaupun kebanyakan hanya digunakan untuk menggambarkan hubungan asmara. Pada kenyataannya, perilaku ghosting bisa berlaku dalam hubungan pertemanan maupun hubungan profesional sekalipun.
Seseorang yang melakukan ghosting dikenal dengan sebutan ghoster, sedangkan korban dari ghoster ini dikenal dengan sebutan ghostee. Baik ghoster maupun ghostee memiliki dampaknya masing-masing. Terlepas dari itu, ghoster biasanya tidak menyadari dampaknya. Sedangkan ghostee akan lebih merasakan dampaknya.
Lantas, apa sebenarnya alasan seseorang melakukan ghosting? Artikel kali ini akan secara khusus membahas alasan seseorang melakukan ghosting dalam perspektif psikologi sosial dan emosional.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu salah satu pelaku ghosting dan ingin berubah, atau mengalami dampak psikologis akibat menjadi korban ghosting. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan penanganan yang tepat.
Penyebab Perilaku Ghosting dalam Perspektif Psikologi Sosial
Pada dasarnya perilaku ghosting bisa dipicu oleh banyak hal. Bisa jadi ghoster tidak menyadari kesalahan dari perilakunya. Bisa juga ghoster melakukannya dengan sengaja. Terlepas dari itu, dalam beberapa penelitian perilaku ghosting ini bisa dipicu oleh berbagai kondisi yang bisa dilihat dengan kacamata psikologi sosial. Berikut penyebab perilaku ghosting dalam perspektif psikologi sosial:
Norma sosial dan budaya digital
Tanpa kita sadari, perkembangan zaman dan teknologi sedikit menggeser norma sosial yang dulunya kita anut. Budaya komunikasi digital juga membuat segalanya serba cepat. Munculnya akun-akun anonim juga membuat orang merasa mudah untuk menghilang tanpa konsekuensi sosial.
Teori pertukaran sosial
Perilaku ghosting juga bisa dijelaskan dengan teori pertukaran sosial. Menurut teori tersebut, seseorang akan mempertahankan hubungan dengan orang lain, jika orang tersebut mendatangkan keuntungan atau manfaat untuk dirinya. Pandangan semacam ini akan membuat hubungan lebih transaksional. Sehingga, orang yang tidak mendatangkan manfaat akan ditinggalkan begitu saja, atau yang kita kenal dengan perilaku ghosting.
Konformitas terhadap trend sosial
Dalam beberapa lingkungan sosial, perilaku ghosting justru dianggap sebagai hal yang normal atau umum untuk dilakukan. Trend yang satu ini cukup familiar di kalangan remaja dan dewasa muda. Dengan demikian, orang-orang bisa terdorong untuk melakukan hal yang sama agar dianggap sama dengan lingkungannya.
Baca juga: Dampak Psikologis Ghosting: Ketika Diam Menjadi Senjata
Penyebab Perilaku Ghosting dalam Perspektif Emosional
Selain bisa karena faktor-faktor sosial yang ada di masyarakat, perilaku ghosting juga bisa dipicu oleh hal-hal yang bersifat emosional. Berikut beberapa penyebab perilaku ghosting dalam perspektif emosional:
Penghindaran emosional (emotional avoidance)
Beberapa orang melakukan ghosting dengan alasan untuk menghindari emosi negatif, seperti rasa bersalah, malu, cemas, atau menyakiti perasaan orang lain. Sekilas alasan yang satu ini sangat bisa dipahami secara rasional. Namun, terkadang perilaku ghosting justru memberikan pandangan bertolak belakang bagi para ghostee.
Memiliki regulasi emosi yang rendah
Perkembangan emosi berlangsung sejak masa kanak-kanak. Sayangnya, tidak semua orang mendapatkan akses untuk memaksimalkan perkembangan emosi mereka. Hal tersebut bisa memicu kemampuan regulasi emosi yang buruk. Seseorang dengan regulasi emosi yang buruk cenderung melakukan ghosting. Pasalnya, mereka tidak mampu mengelola ketegangan emosional dalam suatu hubungan, dan pada akhirnya mengambil langkah ghosting sebagai pilihan yang paling cepat dan sederhana untuk dipraktekan.
Gaya keterikatan (attachment style)
perilaku ghosting juga bisa dipicu oleh gaya keterikatan, khususnya gaya keterikatan avoidant. Individu dengan gaya keterikatan avoidant memiliki kecenderungan tidak nyaman dengan kedekatan emosional. Sehingga, jika hubungan yang dijalin sudah terlalu dalam dan mengarah pada ikatan emosional yang lebih dalam. Orang tersebut cenderung menghindar, atau memutuskan komunikasi.
Kebutuhan melindungi diri
Tidak semua ghoster merupakan orang-orang dengan minim empati. Justru, beberapa dari mereka melakukan ghosting sebagai bentuk perlindungan terhadap dirinya sendiri. Mereka takut akan luka yang timbul akibat hubungan yang terlalu dalam, atau merasa dirinya terlalu rentan secara emosional. Maka dari itu, mereka cenderung membatasi diri dan menghindari hubungan emosional.
Itu dia sedikit penjelasan tentang beberapa alasan perilaku ghosting dalam perspektif psikologi sosial dan emosional. Perlu diingat bahwa perilaku ghosting tetap memiliki dampak negatif untuk diri sendiri. Terlepas dari apa alasan dibalik perilaku tersebut. Maka dari itu, jika kamu memiliki ciri-ciri ghoster, cobalah mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Ghosting: Luka Psikologis dari Keheningan yang Tak Terjelaskan
Sumber:
LeFebvre, L. E. (2017). Phantom lovers: Ghosting as a relationship dissolution strategy in the technological age. Journal of Social and Personal Relationships, 36(11–12), 3032–3055.
Koessler, R. B., Kohut, T., & Campbell, L. (2019). Let’s (not) talk about it: The implications of ghosting on romantic relationships. Social Psychological and Personality Science, 11(6), 748–755.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change. Guilford Press.
Thibaut, J. W., & Kelley, H. H. (1959). The Social Psychology of Groups. Wiley.
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
Leary, M. R., & Baumeister, R. F. (2000). The nature and function of self-esteem: Sociometer theory. Advances in Experimental Social Psychology, 32, 1–62.
Cialdini, R. B., & Goldstein, N. J. (2004). Social influence: Compliance and conformity. Annual Review of Psychology, 55, 591–621.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



