Semua artikel
Emosi

Mengapa Laki-Laki Lebih Sulit Mengungkapkan Emosi Dibandingkan Perempuan?

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Dalam mengungkapkan perasaan, dibandingkan dengan wanita, laki-laki dinilai lebih sulit untuk membuka dirinya sendiri. Sejak usia dini, mereka para laki-laki dikondisikan untuk percaya bahwa mengungkapkan perasaan mereka tidak sesuai dengan identitas gender yang mereka bawa. Mengungkapkan perasaan atau emosi bagi laki-laki dianggap dapat merusak citra mereka yang kuat dan tabah. Pun juga laki-laki diberitahu bahwa menangis di depan orang lain akan mengancam kejantanannya.

Sejalan dengan kondisi kesehatan mental, secara statistik wanita lebih mungkin didiagnosis menderita depresi atau kecemasan. Namun, pria juga banyak yang menghadapi gangguan kesehatan mental dan tekanan mental. Statistik tidak menunjukkan angka dari pihak laki-laki yang bisa jadi lebih banyak dikarenakan kecenderungan laki-laki yang memilih untuk memendamnya sendiri dan enggan untuk membuka dirinya.

Sehingga data menyebutkan lebih dari 30% pria akan mengalami masa depresi di beberapa titik selama hidup mereka. Sedangkan sekitar 9% pria melaporkan mengalami perasaan depresi atau kecemasan setiap hari.

Hanya karena pria disuruh menyembunyikan emosinya, bukan berarti mereka tidak memilikinya. Penelitian menunjukkan bahwa pria mengalami emosi pada tingkat yang sama dengan wanita. Tetapi karena secara sosial tidak dapat diterima bagi seorang pria untuk menangis ketika dia sedih, hal itu dapat membuat pria seolah-olah tidak mengalami kesedihan sama sekali.

Faktanya, pria yang mengalami kesedihan lebih cenderung menyalurkan perasaan tersebut ke dalam berbagai emosi yang dianggap lebih dapat diterima secara sosial. Emosi yang diasosiasikan dengan dominasi atau kekuatan dipandang lebih maskulin, meskipun emosi yang mendasari perilaku tersebut berbeda. Tetapi ketika pria disuruh menyembunyikan emosi mereka dengan cara apa pun, perasaan itu harus pergi ke suatu tempat. Biasanya, mereka mengimbanginya dengan bertindak dengan cara yang lebih maskulin secara stereotip.

Lebih lanjut, berikut adalah beberapa alasan lain mengapa laki-laki cenderung lebih tertutup dan sulit untuk mengungkapkan perasaan atau emosi yang mereka alami.

1. Laki-Laki Tidak Didorong Untuk Mendengarkan Sisi Sensitifnya

Secara fakta, laki-laki juga kadang-kadang berkecil hati untuk melakukan pembicaraan mengenai perasaan atau emosinya. Mereka seringkali tidak didorong untuk membicarakannya, atau cenderung laki-laki itu sendiri yang memilih untuk menghindari percakapan yang rentan.

Fenomena ini mungkin sedikit menyinggung sisi sosial juga secara biologis. Dimana di satu hal laki-laki kurang didukung secara sosial untuk dapat berbicara tentang perasaannya. Bahkan sejak kecil, anak laki-laki hanya diberi lebih sedikit ruang metaforis untuk mengeksplorasi dan berbagi perasaan mereka. Mereka hanya memiliki lebih sedikit waktu untuk menangis, lebih sedikit toleransi terhadap perasaan tersebut karena takut dianggap “banci”. Sehingga akhirnya anak laki-laki tumbuh tanpa mempelajari keterampilan (dalam mengungkapkan perasaan atau emosi) untuk didiskusikan dan kemudian dapat diarahkan.

Selain itu, pada hal lainnya ada kemungkinan produk sampingan dari norma sosial. Di mana laki-laki umumnya lebih kewalahan secara fisiologis ketika mendiskusikan hal-hal sulit. Hal-hal yang sulit dapat berupa percakapan yang mentah dan rentan, seperti seks dan cinta, atau hal-hal yang sulit dapat berupa perasaan putus asa dan kalah. Kewalahan fisiologis itu dapat dihentikan jika orang tersebut mengabaikan topik tersebut, sehingga mereka cenderung menghindar dan tidak terjun ke dunia perasaan.

Baca juga: Cara Menghadapi Catcalling di Tempat Umum

2. Cenderung Untuk Mengabaikannya

Laki-laki juga terbiasa untuk mengabaikan perasaan atau emosi yang mereka alami, alih-alih menghadapinya termasuk ketika mendapati emosi yang sulit. Ini dikarenakan para ahli menilai bahwa laki-laki cenderung lebih berfokus pada solusi.

Secara umum, bagi perempuan, mendiskusikan suatu masalah (tanpa melompat ke solusi) akan lebih melegakan dan membuat masalah lebih mudah ditangani. Sedangkan laki-laki cenderung menjadi tipe orang yang mendengar tentang suatu masalah dan langsung memberikan jawaban untuk memperbaikinya. Sehingga, ketika dihadapkan dengan perasaan dan tidak ada solusi segera, laki-laki justru mencoba untuk mengkotak-kotakkannya atau malah mengabaikannya.

3. Menghadapi Banyak Penghalang Untuk Mereka Membuka Diri

Laki-laki lebih memilih untuk berhasil menyelesaikan beberapa langkah terlebih dahulu sebelum mereka dapat melakukan hal lain. Hal lain yang dimaksud disini ialah percakapan yang produktif tentang perasaan mereka.

Sehingga langkah pertama yakni laki-laki harus mengakui bahwa itu adalah masalah atau mereka sedang berjuang. Tentu ini cukup sulit dan menjadi pergolakan dalam dirinya. Lalu yang kedua, mereka harus mengakui dengan lantang bahwa itu adalah masalah, yang bahkan lebih sulit daripada mengakuinya pada diri sendiri. Ketiga, mereka harus melawan rasa malu karena tidak cukup jantan untuk menanganinya sendiri. Keempat, mereka harus mempelajari cara baru dalam berpikir, merasakan, dan menghadapi sesuatu, dan dengan cara yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

Semua hal tersebut menjadi sulit bagi mereka dan dikombinasikan dengan penilaian masyarakat umum untuk pria yang mengakui kelemahan, itu adalah resep yang dilakukan laki-laki untuk mengabaikan dan berharap masalahnya hilang.

Baca juga: Dampak CatCalling Terhadap Korban

 

Sumber:

Dekin, S. (2020, August 7). Men And Emotions: The Importance Of Becoming Vulnerable. Mission Harbor Behavioral Health. https://sbtreatment.com/blog/men-and-emotions-the-importance-of-becoming-vulnerable/

Bennett, T. (2022, August 5). Why are men less likely to talk about their feelings? Thriveworks. https://thriveworks.com/blog/why-are-men-less-likely-to-talk-about-their-feelings/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mengapa Laki-Laki Lebih Sulit Mengungkapkan Emosi Dibandingkan Perempuan? — DeepTalk