Semua artikel
Perilaku

Media Sosial dan Manipulasi Psikologis: Dari Fear of Missing Out (FOMO) hingga Kontrol Sosial

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Sosial media merupakan salah satu bukti nyata perkembangan zaman yang sangat pesat. Dengan sosial media kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi yang bahkan belum kita cari sebelumnya. Selain itu, sosial media juga membantu kita memiliki banyak koneksi baru, bahkan dengan orang di belahan dunia lain.

Terlepas dari segala manfaat atau dampak positif dari sosial media. Tidak bisa kita pungkiri bahwa banyak juga hal-hal negatif yang dipicu oleh keberadaan sosial media ini. Misalnya dengan mudahnya penyebaran hoax, kasus cyberbullying, dan masih banyak lagi. Tanpa kita sadari, sosial media juga bisa memicu perilaku-perilaku menyimpang, salah satunya perilaku manipulasi.

Manipulasi adalah perilaku dimana seseorang berupaya untuk mengendalikan, memanfaatkan, atau mengontrol orang lain demi kepentingan pribadi. Manipulasi tentu bukan perilaku mendasar manusia. Artinya perilaku tersebut bisa dipicu oleh banyak faktor, salah satunya dari sosial media. Lantas, bagaimana sosial media mempengaruhi perilaku manipulasi seseorang? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental atau perilaku menyimpang. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Pengaruh Sosial Media Terhadap Perilaku Manipulatif

Tren Media Sosial yang Perlu Diketahui Agar Bisnis Anda Tetap Terdepan! -  Netray

Seperti yang dipaparkan di awal. Sosial media memiliki peran tersendiri dalam mengembangkan bibit-bibit manipulatif dalam diri seseorang. Berikut beberapa pengaruh sosial media terhadap perilaku manipulatif:

Media sosial sebagai ruang representasi diri

Berdasarkan kacamata psikologi sosial, media sosial bisa menjadi tempat bagi individu dalam membangun citra diri atau impression management. Di sosial media individu biasanya akan menampilkan sisi positif dirinya, baik itu kesenangan, hiburan, kebersamaan, pencapaian, dan lain sebagainya. Banyak orang yang melakukan hal tersebut demi mendapatkan sejumlah likes, komentar, atau followers.

Upaya yang dilakukan di sosial media ini seringkali melibatkan manipulasi di dalamnya, misalnya dengan mengedit foto, menyembunyikan sisi negatif, atau bahkan melebih-lebihkan pencapaian. Tanpa kita sadari sosial media membiasakan perilaku manipulatif ini berkembang dan menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Reinforcement dan dopamin sosial

Berdasarkan teori penguatan atau operant conditioning, manusia akan cenderung mengulang perilaku tertentu saat mendapatkan reward. Disisi lain, sosial media menyajikan reward instan dari kemudahan mendapatkan perhatian.

Perilaku manipulasi di sosial media (mengedit foto, menyembunyikan sisi negatif, atau bahkan melebih-lebihkan pencapaian) terbukti banyak menghasilkan intensi dari penonton. Respon orang di sosial media dengan likes, koment, dan share menghasilkan dopamin bagi pelaku dan memperbesar kemungkinan manipulasi itu terulang.

FOMO (fear of missing out)

FOMO atau fear of missing out adalah perasaan takut tertinggal akan informasi atau trend yang sedang berlangsung. Sosial media membuat kita dengan mudah mengetahui trend yang ada. Sayangnya, saat mengalami FOMO seseorang cenderung akan membentuk citra diri palsu di sosial media demi tidak ketinggalan trend.

Selain itu, influencer atau brand juga sering memanfaatkan FOMO dengan strategi manipulatif, seperti countdown diskon, konten eksklusif terbatas, atau narasi “jangan sampai ketinggalan.” Hal-hal semacam ini membuat perilaku manipulasi dianggap normal dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk diperbaiki.

Kontrol sosial

Media sosial tidak hanya ruang komunikasi, tetapi juga arena pengawasan sosial. Mekanisme seperti like, komen, unfol, bahkan cancel culture merupakan bentuk kontrol sosial di media sosial. Untuk menghindari hal tersebut seseorang cenderung akan bersikap manipulatif agar bisa sesuai dengan norma komunitas. Hal serupa juga dijelaskan dalam teori conformity, dimana individu akan menyesuaikan perilaku (termasuk manipulatif) agar bisa diterima kelompok.

Baca juga: Psikologi di Balik Manipulasi Anak terhadap Orang Tua: Taktik, Alasan, dan Dampaknya

Dampak Perilaku Manipulatif di Media Sosial

Strategi Terbaik untuk Mengelola Krisis Media yang Harus Anda Ketahui! -  Netray

Walaupun umumnya perilaku manipulatif di media sosial dilakukan demi mendapatkan popularitas atau perhatian warganet. Sayangnya hal tersebut juga bisa memicu berbagai dampak negatif, diantaranya:

  • Sebagai individu, perilaku manipulatif di media sosial bisa meningkatkan narsisme, ketidakjujuran, dan kecanduan validasi eksternal.
  • Dalam perspektif relasi interpersonal, perilaku manipulatif di media sosial bisa memicu menurunnya kepercayaan, meningkatnya konflik, serta risiko penipuan emosional atau finansial.
  • Dalam perspektif masyarakat, perilaku manipulatif di media sosial bisa memicu terbentuknya polarisasi, penyebaran misinformasi, dan budaya manipulatif dalam komunikasi publik.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai perilaku manipulatif di media sosial. Perlu diketahui bahwa segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak berdampak baik untuk kehidupan. Termasuk berlebihan dalam membangun citra positif di media sosial. Jika kamu mengalami kondisi serupa, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Perilaku Manipulatif di Tempat Kerja: Perspektif Psikologi Organisasi

 

Sumber:

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. 

Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321–326. 

Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2011). Online communication among adolescents: An integrated model of its attraction, opportunities, and risks. Journal of Adolescent Health, 48(2), 121–127.
Marwick, A. E. (2013). Status update: Celebrity, publicity, and branding in the social media age. Yale University Press.
Andreassen, C. S., Pallesen, S., & Griffiths, M. D. (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. Addictive Behaviors, 64, 287–293.

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
Asch, S. E. (1955). Opinions and social pressure. Scientific American, 193(5), 31–35.
Bayer, J. B., Ellison, N. B., Schoenebeck, S. Y., & Falk, E. B. (2016). Sharing the small moments: Ephemeral social interaction on Snapchat. Information, Communication & Society, 19(7), 956–977.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Media Sosial dan Manipulasi Psikologis: Dari Fear of Missing Out (FOMO) hingga Kontrol Sosial — DeepTalk