Deeptalk.co.id – Tahukah kamu bahwa dalam konteks manipulasi emosional hanya sebagian kecil dari pelaku yang meminta pertolongan psikologis. Justru banyak korban yang berusaha mendapatkan pertolongan psikologis, karena dampak dari manipulasi emosional yang didapatkan. Maka dari itu, kita perlu membentengi diri dari para pelaku manipulasi emosional.
Manipulasi emosional adalah upaya seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar dapat dimanipulasi atau dikendalikan dalam konteks negatif. Tanpa kita sadari, pelaku manipulasi emosional ini bisa saja ada disekitar kita. Pasalnya, sikap mereka yang licik dan manipulatif sering membuat banyak orang terkecoh. Bahkan menciptakan citra positif untuk dirinya sendiri.
Membentengi diri dari pala pelaku manipulasi emosional ini bukan hal yang mudah. Justru terdapat beberapa kondisi yang membuat seseorang rentan terhadap manipulasi emosional. Artikel kali ini akan membahas mengenai alasan mengapa orang-orang rentan terhadap manipulasi emosional.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu merasa rentan mengalami manipulasi emosional, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Berikut beberapa alasan mengapa seseorang rentan mengalami manipulasi emosional:
Harga Diri yang Rendah (Low Self Esteem)
Harga diri adalah pandangan atau nilai yang diberikan secara subjektif terhadap diri sendiri secara keseluruhan. Harga diri inilah yang membatu seseorang lebih percaya diri dan memiliki semangat untuk melakukan banyak hal.
Orang dengan harga diri yang rendah adalah kebalikannya, mereka memiliki rasa percaya diri yang rendah, perasaan tidak berharga, cenderung menetapkan batasan, dan menganggap diri tidak berdaya untuk melakukan banyak hal.
Seseorang dengan harga diri yang rendah atau low self esteem memiliki kecenderungan untuk selalu mencari validitas dan bergantung pada orang lain. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku manipulasi emosional. Pelaku manipulasi emosional hadir di kehidupan korban dengan menawarkan diri sebagai support system yang baik. Namun disisi lain, membuat korbannya tergantung hingga akhirnya bisa dimanipulasi.
Ketergantungan Emosional (Emotional Dependency)
Ketergantungan emosional atau emotional dependency adalah kondisi dimana seseorang terlalu bergantung dengan orang lain (bisa jadi pasangan, teman, atau keluarga) untuk mendapatkan rasa aman, perlindungan, dan juga validitas diri.
Seseorang yang memiliki kecenderungan ketergantungan emosional ini memiliki rasa takut yang besar jika ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Mereka seakan tidak bisa hidup secara mandiri, dan terikat secara toxic. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pelaku manipulasi emosional.
Pelaku manipulasi emosional hadir sebagai sosok yang bisa diandalkan. Mereka akan memberikan rasa aman, perlindungan, dan validitas diri yang semu kepada korban. Saat korban sudah sangat terikat, maka pelaku akan berbuat seenaknya. Termasuk mengancam meninggalkan korban jika korban tidak melakukan hal-hal yang diinginkan.
Baca juga: Gaslighting dan Bentuk Manipulasi Emosional Lainnya dalam Relasi Interpersonal
Pendidikan Emosional yang Buruk (Poor Emotional Education)
Pendidikan emosional adalah proses pembelajaran yang dimulai dari mengenali emosi, hingga bagaimana mengontrol emosi dengan baik. Perkembangan emosional sebenarnya sudah berlangsung sejak masa kanak-kanak. Sayangnya, tidak semua orang mendapatkan pendidikan emosional yang baik. Pendidikan emosional yang buruk inilah yang membuat individu tidak maksimal dalam perkembangan emosionalnya.
Saat seseorang memiliki pendidikan emosional yang buruk, mereka tidak mengenali dengan baik seperti apa emosi itu. Salah satu dampak dari hal tersebut adalah mereka tidak tahu saat seseorang melakukan manipulasi emosional terhadap dirinya. Jika mereka sadar sekalipun, mereka tidak bisa menetapkan batasan untuk tidak menjadi korban manipulasi emosional. Artinya, seseorang dengan pendidikan emosional yang buruk akan lebih rentan mengalami manipulasi emosional.
Rasa Bersalah yang Tinggi (Excessive Guilt or Conscientiousness)
Rasa bersalah merupakan emosi intropeksi yang merupakan hasil dari refleksi diri dan peristiwa negatif. Normalnya, rasa bersalah ini bisa membantu individu memiliki empati dan tidak melakukan kesalahan berulang. Namun, jika rasa bersalah terlalu berlebihan justru bisa menimbulkan dampak negatif untuk diri sendiri.
Seseorang dengan rasa bersalah yang tinggi memiliki empati yang terlalu besar atau rasa tanggung jawab yang sangat tinggi, bahkan walaupun mereka tidak melakukan kesalahan sama sekali atau tidak merugikan orang lain. Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku manipulasi emosional.
Pelaku manipulasi emosional akan memanfaatkan rasa bersalah yang terlalu tinggi pada korban untuk mengendalikan atau mengontrol korbannya. Karena korban memiliki kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya. Pelaku akan mulai seenaknya membuat korban melakukan apa yang mereka inginkan.
Itu dia beberapa kondisi yang menjadi alasan mengapa seseorang rentan menjadi korban manipulasi emosional. Jika kamu memiliki beberapa kondisi di atas, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog agar bisa membentengi diri dari para pelaku manipulasi emosional. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengenali Manipulasi Emosional: Taktik Halus yang Menguras Mental
Sumber:
Bowlby, J. (1969). Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. Basic Books.
Swann, W. B. (1983). Self-verification: Bringing social reality into harmony with the self. In Psychological Perspectives on the Self.
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice-Hall.
Costa, P. T., & McCrae, R. R. (1992). Revised NEO Personality Inventory (NEO PI-R).
Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. Norton.
Carnes, P. (1997). The Betrayal Bond: Breaking Free of Exploitive Relationships. Health Communications.
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357.
Forward, S. (1997). Emotional Blackmail. HarperCollins.
Thomas, S. (2016). Healing from Hidden Abuse. MAST Publishing.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



