Deeptalk.co.id – Dalam dunia kompleks psikologi manusia, terdapat fenomena menarik yang dikenal sebagai teori proses ironis atau ironic process theory. Fenomena ini menggambarkan bagaimana usaha keras untuk mengendalikan pikiran atau perasaan tertentu seringkali berakhir dengan hasil yang kontraproduktif, bahkan bisa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Artikel ini akan membahas dasar-dasar dari teori proses ironis, menggali studi-studi kasus yang relevan, serta pengaplikasian ironic process theory pada kesehatan mental. Melalui pemahaman lebih mendalam tentang ironic process theory, kita dapat membuka pintu untuk merenungkan bagaimana otak kita beroperasi, bagaimana cara kita mengatasi kecemasan, obsesi, atau perasaan-perasaan lain yang mungkin tidak kita inginkan. Selain itu, penjelasan tentang teori ini juga dapat membantu kita memahami mengapa terapi atau teknik tertentu dalam bidang psikologi dapat efektif atau bahkan kontraproduktif dalam kasus tertentu.
Apa Itu Ironic Process Theory?

Ironic Process Theory (IPT) atau teori proses ironi merupakan fenomena psikologis yang menunjukkan individu yang dengan sengaja mencoba untuk menghindari pemikiran tertentu atau merasakan emosi tertentu, namun justru menghasilkan efek paradoks. Dengan kata lain, Anda berusaha untuk tidak memikirkannya, namun justru sebaliknya Anda malah memikirkannya.
Fenomena ini pertama kali diidentifikasi melalui studi penekanan pikiran dalam psikologi eksperimental oleh seorang psikolog sosial asal Amerika, Daniel Wegner pada tahun 1987. Minatnya terhadap penekanan pikiran ini didasarkan pada teori psikopatologi milik Freud. Dalam teori tersebut Freud mengemukakan bahwa ketidaksadaranlah yang membantu menyembunyikan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan, namun ia gagal menjelaskan kasus-kasus sehari-hari di mana individu dengan sengaja melakukan upaya untuk menekan suatu pikiran.
Sementara penelitian menunjukkan bahwa menekan pikiran secara sadar sulit dilakukan karena pikiran tersebut selalu melekat di pikiran. Untuk menjelaskan hal ini, Wegner menjadi salah satu peneliti yang memulai penyelidikan dengan melakukan dua percobaan laboratorium dan meminta partisipan untuk menghilangkan pemikiran tentang beruang putih.
Dari penelitian tersebut, Wegner pun menyimpulkan dan menjelaskan bahwa ketika individu mencoba untuk menekan suatu pikiran, mereka mungkin merasa kesulitan dan kemdian menjadi penasaran mengapa pikiran tersebut begitu persisten. Meskipun mereka mungkin dapat menekan pikiran tersebut untuk sementara, pengingat akan pikiran tersbut di kemudian hari dapat menimbulkan keasyikan dengan pikiran yang sebelumnya tersembunyi. Oleh karena itu, penekanan awal secara paradoks meningkatkan frekuensi pikiran yang tidak diinginkan pada akhirnya.
Akan tetapi, generalisasi dari teori ini masih menjadi pertanyaan. Penelitian Wegner menggunakan beruang putih, dan penelitian selanjutnya di bidang ini hanya menggunakan satu stimulus juga. Tidak diketahui apakah hasil serupa akan ditemukan ketika rangsangan lain digunakan, karena sifat pikiran yang ditekan, seperti apakah pikiran itu emosional, mudah dibayangkan, familier, atau kompleks, dapat memengaruhi hasil.
Baca juga: Keistimewaan dan Kelemahan Menjadi Introvert
Bukti Penelitian Fenomena Ironic Process Theory

Ironic process theory berkaitan dengan perilaku makan dari pemakan yang terkendali. Ini memperkirakan bahwa menekan keinginan untuk makan secara paradoks dapat menyebabkan makan berlebihan karena terbatasnya sumber daya kognitif.
Untuk menjelaskan fenomena tersebut, Boom dan kawan peneliti lainnya melakukan percobaan pada tahun 2002 untuk menyelidiki interaksi antara penekanan, gangguan dan kandungan kalori yang dirasakan dari rangsangan makanan. Percobaan ini dilakukan dengan meminta partisipan untuk mengonsumsi es krim dalam situasi uji rasa yang kemudian untuk diukur.
Hasilnya, partisipan yang dibatasi makan lebih banyak dibandingkan partisipan yang tidak dibatasi. Dan ketika ada gangguan, mereka makan lebih banyak lagi. Temuan ini mendukung ironic process theory dimana upaya mereka untuk menghambat keinginan makan hanya membuahkan hasil yang ironis, yakni makan lebih banyak es krim.
Selain itu, ada juga penelitian lain yang mendukung ironic process theory yang menyebutkan penekanan kemarahan pada tingkat keparahan nyeri dan perilaku nyeri. Ini dijelaskan oleh penelitian yang dilakukan Burns pada tahun 2008 untuk menyelidiki hubungan antara penekanan amarah, keparahan nyeri, dan perilaku nyeri pada pasien punggung bawah kronis.
Berdasarkan ironic process theory, para peneliti menduga bahwa penekanan awal terhadap kemarahan ironisnya akan membuat perasaan marah menjadi intens. Peserta secara acak ditugaskan ke kelompok penindasan atau tanpa penindasan. Selama percobaan, pertama-tama mereka menyelesaikan tugas yang memicu kemarahan mereka, diikuti dengan tugas perilaku menyakitkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok penekan melaporkan kemarahan dan intensitas rasa sakit yang lebih besar. Mereka juga menunjukkan lebih banyak perilaku nyeri. Upaya untuk menekan kemarahan dapat memperburuk rasa sakit yang berkaitan dengan kondisi klinis mereka melalui peningkatan perasaan marah yang ironis.
Pengaplikasian Ironic Process Theory

Ironic process theory dapat diterapkan dalam pengobatan pasien dengan gangguan mood, seperti kecemasan dan depresi. Upaya pasien yang mencoba menghindari pikiran dan perasaan negatif, seperti ide untuk bunuh diri dan frustasi, mungkin justru membuat pikiran tersebut semakin melekat dalam pikiran mereka.
Sama halnya dengan mencoba untuk tidak bersedih lama-kelamaan justru bisa menimbulkan kesedihan yang parah. Oleh karena itu, terapis harus memberi tahu pasien bahwa pikiran negatif mungkin bermanfaat dan mendorong mereka untuk menerima perasaannya daripada menekannya. Bahkan penelitian juga membuktikan bahwa metode ini dapat mengurangi depresi.
Baca juga: Apa Itu Emotions Wheel dan Fungsinya?
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



