Semua artikel
Perilaku

Memahami Pola Kecanduan Dalam Kebiasaan Procrastination atau Menunda-Nunda

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Kecanduan adalah suatu fenomena yang sangat kompleks dan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam kebiasaan procrastination atau menunda-nunda. Menunda-nunda sebenarnya bukanlah suatu kondisi yang harus dipertahankan, namun seringkali menjadi kebiasaan yang sulit diubah.

Pola kecanduan yang terbentuk akibat suatu sistem atau skema yang dipercayai seseorang dalam mengatasi suatu masalah dengan cara yang merugikan diri dapat memperburuk perilaku menunda-nunda, dan memicu kecemasan serta depresi. Oleh karena itu, penting untuk memahami pola kecanduan dalam kebiasaan menunda-nunda agar kita dapat mengatasi masalah ini dengan lebih efektif.

Memahami Pola Kecanduan Pada Seseorang

Mengapa beberapa orang, bahkan yang pintar sekalipun bisa terjebak dalam pola kecanduan? Seperti misal konsumsi alkohol atau zat terlarang yang tidak terkontrol, hingga kebiasaan menunda yang sulit diatasi?

Sebenarnya mereka telah melihat bahwa hal tersebut berbahaya bagi diri mereka dan menjadi mangsa yang terjebak pada perangkap. Dimana mereka mengatakan ingin berhenti namun hanya jika tidak ada suatu kerumitan atau masalah yang ingin dihindari. Sedang yang lain menipu diri mereka sendiri untuk percaya bahwa mereka dapat melakukannya tanpa adanya kerugian. Lalu kelompok lainnya akan berpikir mereka tetap sengsara atas apapun yang mereka lakukan.

Setiap individu beroperasi dengan sistem atau skema kepercayaan yang berbeda. Beberapa yang lainnya bahkan lebih berbahaya daripada baik untuk diri sendiri. Termasuk perangkap penyangkalan atau penolakan, yang mungkin akan sulit Anda kenali karena tidak terlihat kasat mata. Ini bisa menjadi sumber dari pola kecanduan pada diri Anda sendiri terhadap kebiasaan yang buruk bagi kesehatan.

Penolakan atau penghindaran ini yang menyelubungi suatu masalah, sehingga Anda berakhir tidak melihat inti dari suatu masalah atau justru tidak mengakui masalah yang serius itu. Bahkan Anda bisa memperkeruhnya dengan menghindari masalah tersebut. Entah itu memang disengaja, terjadi secara otomatis atau bahkan keduanya, Anda mungkin akan kesulitan mengenali kecenderungan ini.

Namun, penyangkalan dalam diri dapat Anda perhatikan melalui hasilnya. Misal saat sudah menyadari bahwa Anda telah terlalu banyak keseringan minum alkohol hingga kecanduan. Lepas saja sulit sehingga ini membebani diri Anda. Zat aditif seperti ini biasanya dapat menyedot uang Anda, sehingga bisa berakibat fatal pada kehidupan atau aktivitas sehari-hari Anda. Juga kemudian dapat membebani hubungan sosial Anda, hingga mungkin menyebabkan timbulnya masalah kesehatan pada tubuh Anda.

Sehingga ketika Anda menghubungkan kaitan antara kebiasaan minum Anda yang buruk dengan hasilnya, pandangan Anda mengenai kebiasaan tersebut berubah dari penyangkalan menjadi keinginan kuat untuk berhenti. Dengan demikian, Anda pun menemukan cara kerja dari penyangkalan sehingga Anda dapat mengembangkan keterampilan penalaran yang mendukung diri Anda untuk berhenti dan mencegah kekambuhan dari kecenderungan kecanduan.

Mungkin pada prinsipnya ini terlihat sederhana untuk dilakukan, namun tentu tidak mudah untuk dilakukan dalam praktiknya. Sehingga tetap saja Anda mungkin harus mengarungi banyak alasan otomatis dan menyangkah setiap alasan yang ada. Proses ini butuh waktu dan kesabaran untuk mendapatkan hasil dan manfaatnya.

Baca juga: Tips dan Strategi Mengatasi Hambatan Dalam Regulasi Emosi Anda

Kecanduan Dalam Kecenderungan Procrastination

Penundaan atau procrastination berbagi karakteristik dengan kecanduan. Kecenderungan menunda-nunda pekerjaan jika terlalu sering dilakukan bisa menjadi tanda bahwa Anda telah berada dalam lingkarang kecanduan untuk melakukannya.

Procrastination dapat dipicu oleh perasaan yang tidak nyaman yang melibatkan sesuatu yang tidak ingin Anda laklukan. Ketidaknyamanan yang sebenarnya ini dapat muncul di otak sebagai perasaan sakit fisik.

Sebelumnya, perlu dipahami bahwa inti dasar dari penundaan adalah tentang emosi, bukan produktivitas. Sehingga solusinya tidak sekedar melibatkan pengunduhan aplikasi manajemen waktu atau mempelajari strategi baru untuk pengendalian diri. Ini karena procrastination ada hubungannya dengan mengelola emosi dengan cara baru.

Ahli psikiater mengatakan bahwa otak manusia selalu mencari imbalan relatif. Lalu jika seseorang memiliki kebiasaan menunda-nunda, tetapi masih belum menemukan hadiah yang lebih baik, otak akan terus melakukannya berulang kali sampai mereka memberikan sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Inilah yang membentuk pola kecanduan pada perilaku procrastination atau menunda-nunda.

Oleh karena itu, dalam kasus kecanduan procrastination, Anda harus menemukan hadiah yang lebih baik daripada dengan melakukan penghindaran atau penolakan. Hadiah yang bisa Anda berikan berupa sesuatu yang dapat meredakan perasaan menantang Anda saat ini tanpa membahayakan diri Anda di masa depan.

Selain itu, kesulitan untuk mematahkan kecanduan procrastination khususnya adalah bahwa ada tindakan pengganti potensial dalam jumlah tak terbatas yang masih akan menjadi bentuk penundaan. Itu sebabnya, solusi yang digunakan harus secara internal dan tidak bergantung pada apapun kecuali dari diri sendiri.

Ada banyak pilihan yang dapat Anda lakukan dalam mengatasi kecanduan dari procrastination. Diantaranya yakni dengan memaafkan diri sendiri pada saat Anda menunda-nunda. Lalu ada juga taktik lainnya dengan praktik self-compassion atau welas asih, yakni dengan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan dan pengertian saat menghadapi kesalahan atau kegagalan diri. Self-compassion ini dapat mendukung motivasi dan pertumbuhan diri demi menghilangkan kecanduan dari procrastination.

Baca juga: Fugue disosiatif. Amnesia yang Menciptakan Identitas Baru dan Melarikan Diri dari Rumah

 

Sumber:

Knaus, B., EdD. (2019, June 14). Overcome Addictions and Procrastination Simultaneously. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/science-and-sensibility/201004/overcome-addictions-and-procrastination-simultaneously

Lieberman, C. (2019, March 27). Why You Procrastinate (It Has Nothing to Do With Self-Control). The New York Times. https://www.nytimes.com/2019/03/25/smarter-living/why-you-procrastinate-it-has-nothing-to-do-with-self-control

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Memahami Pola Kecanduan Dalam Kebiasaan Procrastination atau Menunda-Nunda — DeepTalk