Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu mendengar istilah perilaku abnormal? Istilah ini sering digunakan dalam dunia psikologi untuk menggambarkan perilaku seseorang yang dianggap tidak normal atau tidak sesuai dengan norma sosial.
Namun, apakah kamu tahu bahwa definisi perilaku abnormal bisa berbeda-beda tergantung pada perspektif yang digunakan?
Perilaku abnormal juga dapat dijelaskan berdasarkan kebudayaan yang berbeda tiap negara. Karena itu, kita tidak bisa memberikan definisi perilaku abnormal secara tunggal.
Dalam pembahasan kali ini, kita akan membahas perilaku abnormal dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, kita bisa memahami lebih dalam terkait konsep dasar dari perilaku abnormal. Jadi mari kita bahas perilaku abnormal.
Perilaku Abnormal Dalam Perspektif Psikologi

Dalam perspektif psikologi, perilaku abnormal biasanya diidentifikasi berdasarkan empat kriteria. Keempat kriteria tersebut yaitu ketidaknormalan, ketidakfungsian, ketidaknyamanan, dan ketidakpatuhan terhadap norma sosial.
- Ketidaknormalan merujuk pada perilaku yang tidak biasa atau tidak lazim.
- Ketidakfungsian merujuk pada perilaku yang mengganggu fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan seseorang.
- Ketidaknyamanan merujuk pada ketidaknyamanan yang dirasakan oleh individu akibat perilaku mereka.
- Ketidakpatuhan terhadap norma sosial merujuk pada perilaku yang melanggar aturan dan nilai-nilai sosial yang dianggap berlaku.
Namun, definisi perilaku abnormal yang didasarkan pada kriteria-kriteria tersebut memiliki kelemahan karena mengasumsikan bahwa perilaku manusia selalu bisa dikategorikan secara jelas sebagai normal atau abnormal. Padahal, banyak faktor yang bisa memengaruhi perilaku seseorang seperti budaya, lingkungan, dan kepercayaan individu.
Perilaku Abnormal Dalam Perspektif Statistik

Selain itu, perspektif statistik juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi perilaku abnormal. Dalam perspektif ini, perilaku dianggap abnormal jika jarang terjadi. Dengan kata lain, berada di luar rentang normal distribusi perilaku manusia secara umum.
Namun, kriteria ini juga memiliki kelemahan karena perilaku yang jarang terjadi tidak selalu bisa dianggap abnormal. Jika perilaku yang jarang itu tidak mengganggu fungsi sosial atau menimbulkan ketidaknyamanan. Maka secara statistik tetap dikatakan tidak normal.
Sebagai contoh, misalkan di suatu kota berbicara santai cenderung kasar degan orang yang lebih tua sudah di anggap lumrah. Namun jarang sekali orang yang lebih muda berbicara sopan kepad orang yang lebih tau. Maka secara statistik, berbicara sopan dianggap perilaku abnormal. Karena secara statistik sedikit yang melakukannya.
Baca juga: Perbedaan dan Persamaan Antara Malingering dan Gangguan Konversi
Perilaku Abnormal Dalam Perspektif Sosial

Definisi perilaku abnormal juga bisa berbeda-beda tergantung pada nilai dan aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya, di beberapa budaya, perilaku yang dianggap abnormal di suatu tempat bisa saja dianggap normal di tempat lain. Sebagai contoh, perilaku seperti berbicara dengan arwah nenek moyang dianggap normal di beberapa budaya tertentu. Sementara di budaya lain perilaku tersebut dianggap tidak normal.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa definisi perilaku abnormal tidak selalu bisa diterapkan secara universal. Sehingga harus dipertimbangkan berdasarkan konteks sosial, kultural, dan individual. Jangan mudah mengkategorikan perilaku seseorang sebagai abnormal tanpa memahami faktor-faktor yang memengaruhinya.
Gangguan Kejiwaan Sebagai Suatu Perilaku Abnormal Yang Pasti

Namun, hal yang penting juga untuk diingat adalah bahwa ada beberapa jenis perilaku yang memang dianggap abnormal secara universal. Seperti gangguan mental dan kecanduan. Gangguan mental dianggap abnormal karena menyebabkan disfungsi dalam pikiran dan perilaku seseorang. Mereka memerlukan perhatian medis dan psikologis. Sedangkan kecanduan dianggap abnormal karena perilaku tersebut merusak kesehatan dan kesejahteraan individu.
Kita juga perlu memahami bahwa ada faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi perilaku abnormal. Misalnya, pengalaman trauma, kecemasan, depresi, atau stres yang berlebihan bisa memicu perilaku yang dianggap abnormal. Oleh karena itu, penting untuk memberikan dukungan dan pengobatan yang tepat bagi individu yang mengalami gangguan mental atau perilaku yang tidak sehat.
Dalam kasus-kasus tertentu, tindakan atau perilaku yang dianggap abnormal bisa berbahaya dan merugikan bagi orang lain. Sebagai contoh, perilaku kekerasan atau menyakiti orang lain secara fisik atau emosional tidak hanya dianggap abnormal, tetapi juga melanggar norma sosial dan hukum. Dalam situasi seperti ini, kita perlu mengambil tindakan yang sesuai untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.
Tidak Semua Perilaku Yang Dianggap Abnormal Harus Dianggap Negatif

Namun, tidak semua perilaku yang dianggap abnormal harus dianggap negatif. Ada banyak individu yang memiliki perilaku yang unik dan berbeda. Tetapi tetap berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu memahami dan menerima perbedaan individu, termasuk perilaku mereka.
Penting untuk memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup dan bebas dari diskriminasi dan stigmatisasi. Terlalu sering orang-orang yang memiliki perilaku yang dianggap abnormal dianggap sebagai orang yang tidak normal atau inferior. Padahal, stigma dan diskriminasi bisa memperburuk kondisi mereka dan membuat mereka sulit untuk mendapatkan bantuan yang tepat.
Maka definisi perilaku abnormal bisa berbeda-beda tergantung pada perspektif yang digunakan. Namun, penting untuk memahami bahwa faktor-faktor seperti budaya, lingkungan, dan individual harus dipertimbangkan dalam mengidentifikasi perilaku yang dianggap abnormal.
Kita juga perlu memahami bahwa gangguan mental dan kecanduan dianggap abnormal secara universal dan memerlukan perhatian medis dan psikologis. Di sisi lain, kita juga harus menghargai perbedaan individu dan mencegah stigmatisasi dan diskriminasi terhadap mereka yang memiliki perilaku yang dianggap abnormal.
Baca juga: Mengenal Malinggering, Kondisi Seseorang Yang Berpura-Pura Sakit
Sumber:
Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2017). Psikologi Abnormal Edisi Ke-7. Depok: PT Raja Grafindo Persada.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



