Deeptalk.co.id – Setiap manusia tentu berbeda satu sama lain, termasuk pada kondisi otak tiap individu yang memiliki keunikan dan perbedaannya sendiri. Inilah yang disebut sebagai neurodiversity atau keanekaragaman saraf yang kemudian membawa diri Anda pada kondisi kesehatan mental yang berkaitan dengan kondisi otak yakni neurodivergent.
Artikel ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan neurodivergent, bagaimana kita dapat mengenali keberagaman otak, dan bagaimana melibatinya secara positif dalam lingkungan sosial dan pekerjaan. Mari kita selami bersama ke dalam pandangan baru ini tentang keragaman otak dan bagaimana kita dapat merayakan keunikannya.
Apa Itu Neurodivergent?

Secara umum neurodivergent merupakan istilah yang mengacu pada seseorang dengan spektrum autisme, atau lebih umum lagi merupakan seseorang yang otaknya memproses informasi dengan cara yang tidak biasa dilakukan kebanyakan orang. Orang dengan kondisi neurodivergent ini memiliki ketidakmampuan belajar, gangguan defisit perhatian dan kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, dan sindrom Tourette. Melalui lensa neurodivergent, kondisi seperti itu mencerminkan berbagai cara hidup yang merupakan pengalaman normal manusia.
Istilah neurodivergent ini berasal dari gagasan “neurodiversity” atau keanekaragaman saraf yang didefinisikan sebagai konsep bahwa terdapat beragam cara otak manusia memproses informasi, berfungsi, dan menampilkan perilaku. Ini mengacu pada variasi alami dalam perkembangan otak dan sifat perilaku manusia, sehingga neurodiversity menyadari bahwa tidak semua orang berpikir atau memproses informasi dengan cara yang sama. Meskipun istilah “keanekaragaman saraf” biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok individu neurodivergent, istilah ini juga merujuk pada seluruh umat manusia.
Gagasan tentang neurodiversity ini mengakui bahwa fungsi otak dan ciri-ciri perilaku hanyalah indikator betapa beragamnya populasi manusia. Hal ini juga bermaksud untuk membingkai segala perbedaan sebagai suatu hal yang pada dasarnya tidak “buruk” atau menjadi masalah. Sebaliknya, istilah neurodiversity memperlakukan mereka dengan cara yang lebih netral dan juga menyoroti berbagai cara untuk merayakan kondisi ini dan bagaimana hal itu dapat bermanfaat.
Istilah neurodivergent dan juga neurodiversity sendiri diperkenalkan pertama kali pada tahun 1990-an oleh sosiolog autis Judy Singer. Ia merupakan seorang pembela autis yang menantang gagasan konvensional tentang apa yang dianggap normal dan abnormal. Sehingga ia menciptakan istilah neurodivergent tersebut sebagai alternatif dari bahasa defisit, seperti “disorder”.
Oleh Singer, neurodivergent didefinisikan sebagai suatu keadaan alamiah yang harus dihormati, sebagai alat analisis untuk mengkaji isu-isu sosial, serta sebagai argumen untuk konservasi dan fasilitas keanekaragaman manusia. Ia juga menjelaskan bahwa neurodivergent memberikan peluang bagi masyarakat untuk belajar lebih banyak tentang individu yang otaknya beroperasi secara berbeda dari apa yang dianggap biasa. Hal ini menantang kita untuk melihat ke luar kebiasaan dalam menyajikan informasi, dan menerima keberagaman dan perbedaan dibandingkan mengkategorikannya sebagai masalah.
Neurodiversity atau keanekaragaman saraf ini kemudian dibagi menjadi dua kategori, yakni:
1) Neurotipikal, merupakan deskripsi yang merujuk pada seseorang dengan fungsi otak, perilaku, dan pemrosesan yang dianggap standar atau tipikal. Orang-orang neurotipikal mungkin tidak menyadari bahwa mereka adalah orang dengan keadaan tersebut karena kemungkinan besar belum pernah muncul sebelumnya.
Individu dengan kondisi neurotipikal biasanya mencapai semua tahap perkembangan dan perilaku mereka pada waktu dan usia yang sama yang dianggap standar bagi kebanyakan orang. Setelah dewasa, mereka biasanya menjalani hidup tanpa harus bertanya-tanya apakah otak mereka berfungsi sama seperti orang lain.
2) Neurodivergent, ialah istilah lain untuk orang-orang yang fungsi otaknya berbeda dalam satu atau lebih cara daripada yang dianggap standar atau tipikal. Ada banyak cara berbeda untuk mewujudkan neurodivergence, mulai dari cara yang sangat ringan yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan orang hingga cara yang lebih jelas yang menyebabkan seseorang berperilaku berbeda dari standar dalam masyarakat.
Baca juga: Kaitan Antara Trauma dengan Terjadinya Amnesia Disosiatif
Kondisi yang Menggambarkan Neurodivergent

Seseorang bisa dikatakan mengalami kondisi neurodivergent tergantung pada bagaimana otak mereka memproses informasi dan merespons rangsangan. Fungsi otak neurodivergent berbeda dari apa yang disebut “normal” atau neurotipikal. Kondisi ini menandakan bahwa otak terhubung dengan cara yang unik, yang dapat menghasilkan berbagai sifat dan karakteristik.
Ada beragam cara berbeda untuk menganggap seseorang merupakan neurodivergent. Hal ini bisa mencakup gejala-gejala seperti gangguan konsentrasi, gangguan fungsi motorik, dan hambatan dalam komunikasi. Gejala atau tanda tersebut umumnya terkait dengan kondisi neurodivergent seperti ADHD, gangguan spektrum autisme, disleksia, dan lain sebagainya.
Selain itu, Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5) memberikan kriteria umum sebagai referensi ketika menentukan tingkat intervensi yang diperlukan pada kondisi neurodivergent. Panduan ini mencantumkan lima tingkat pengukuran utama yang menyoroti faktor-faktor utama yang berkontribusi seperti komunikasi sosial dan perilaku atau minat yang terbatas, berulang dan/atau sensoris. Daftar periksa ini membantu orang tua dan profesional medis memahami tingkat dukungan atau intervensi yang diperlukan untuk membantu individu belajar dan berhasil dengan cara yang sesuai dengan kemampuan unik mereka.
Gejala neurodivergent biasanya mulai terlihat sebagai indikasi pertama ketika di lingkungan sekolah dan pendidikan. Gaya belajar dan mengajar sangat bergantung pada penggunaan komunikasi verbal sehingga ini mulai menempatkan individu-individu tertentu pada posisi yang kurang menguntungkan. Mereka yang mengalami neurodivergent biasanya akan terlihat kesulitan untuk mengikuti kecepatan belajar dibandingkan dengan sebagian besar rekan-rekan lainnya.
Menemukan tanda-tanda kemungkinan neurodivergence harus memicu pemahaman yang lebih mendalam tentang gaya belajar seseorang. Penilaian neurokognitif adalah tes yang menilai cara kerja otak seseorang, dan dapat dilakukan oleh ahli neuropsikologi. Seorang dokter keluarga dapat memberikan rujukan. Hal ini akan membantu orang lain memahami perbedaan gaya belajar mereka, dan memungkinkan rencana pembelajaran yang dipersonalisasi dan lebih fokus pada kekuatan individu.
Baca juga: Ajak Anak Melakukan Hal Sederhana Berikut Untuk Melatih Otak Sejak Dini
Sumber:
https://www.washington.edu/doit/what-do-“neurodiverse”-and-“neurodivergent”-mean
https://evolvetreatment.com/blog/neurodiversity-symptoms/
https://www.forbes.com/health/mind/what-is-neurodivergent/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



