Semua artikel
Gangguan Psikologi

Memahami Gangguan Pseudodementia dan Gejalanya

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Dalam dunia kesehatan mental, gangguan pseudodementia menjadi salah satu tantangan diagnostik yang menarik perhatian. Meskipun mungkin kurang dikenal dibandingkan beberapa gangguan mental lainnya, pseudodementia memiliki dampak yang signifikan pada kualitas hidup individu yang terkena.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang gangguan pseudodementia, menggali akar penyebab, gejala yang muncul, serta bagaimana masyarakat dan profesional kesehatan dapat mengidentifikasi dan meresponsnya dengan tepat. Dengan melibatkan pembaca dalam pembahasan ini, kita dapat mengungkap kompleksitas gangguan ini dan memberikan wawasan yang berguna bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang kesehatan mental serta bagi individu yang mungkin mengalami atau memiliki orang terdekat yang terkena gangguan pseudodementia.

Apa Itu Pseudodementia?

Pseudodementia merupakan istilah yang digunakan secara klinis untuk menggambarkan gejala yang menyerupai demensia namun disebabkan oleh kondisi lain, biasanya depresi. Istilah ini pertama kali diciptakan oleh Kiloh pada tahun 1961 untuk menggambarkan profuk kognitif dari gangguan kejiwaan, terutama depresi di usia tua, yang disertai dengan kemunduran kognitif pada demensia.

Perlu diketahui bahwa depresi dan demensia dapa menyebabkan disfungsi kognitif dan memori secara umum. Begitu pun pseudodementia yang ditandai dengan gangguan kognitif yang menyerupai demensia, namun penyebabnya bukan berasal dari degenerasi neurologis, melainkan berasal dari kondisi kejiwaan. Dengan kata lain, pseudodementia ialah kondisi yang beberapa gejalanya menyerupai demensia, namun penyebabnya akibat kondisi gangguan kesehatan mental seperti stres atau depresi.

Pseudodementia pada dasarnya ditandai dengan defisit memori, fungsi eksekutif dan bicara. Oleh karena itu, gejala ini dapat dikacaukan dengan demensia, meskipun ada aspek lain yang memungkinkan untuk membedakannya. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua (terutama mereka yang berusia di atas 50 atau 60 tahun), dan faktor risikonya tumpang tindih dengan faktor risiko depresi.

Secara klinis, pseudodementia identik dengan defisit kognitif yang terlihat pada pasien dengan gangguan depresi mayor. Sesuai dengan istilahnya, ini adalah kondisi klinis, yang muncul dengan gambaran demensia menyeluruh namun sebenarnya merupakan entitas yang berbeda. Artinya sebenarnya kondisi ini memiliki dua komponen, yang juga tercermin dari namanya:

1) Komponen demensia yang merupakan kombinasi dari berbagai defisit kognitif yang ditemukan pada gangguan kejiwaan, dan

2) Komponen semu yang menunjukkan kurangnya demensia neurodegeneratif.

Baca juga: Memahami Neuroplastisitas : Kemampuan Otak dalam Beradaptasi

Gejala-Gejala Pseudodementia

Pseudodementia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan gejala yang mirip dengan demensia, namun penyakit ini berakar pada masalah kejiwaan yang mendasarinya, bukan kerusakan neurologis permanen. Secara mendasar, pseudodementia ditandai dengan suasana hati yang tertekan, gangguan memori, dan kesulitan untuk berkonsentrasi.

Selain itu, ada beberapa hal yang membedakan antara pseudodementia dengan demensia pada umumnya. Satu hal yang membedakan pasien pseudodementia dengan pasien demensia ialah penderita pseudodementia menyadari adanya gangguan kognitif yang dialaminya. Sedangkan penderita demensia tidak selalu mengenai gejala atau menyangkal tingkat defisit yang mereka alami. Dengan demikian, inilah yang dapat menyebabkan peningkatan perasaan depresi dan kecemasan.

Lebih lanjut lagi, berikut adalah gejala umum yang ditemukan pada penderita pseudodementia, yakni:

1) Suasana hati yang tertekan : Pseudodementia sering kali muncul dengan rasa sedih dan putus asa. Individu mungkin menunjukkan suasana hati yang terus-menerus rendah, yang mencerminkan dampak emosional dari kondisi mereka.

2) Perasaan tidak berdaya dan putus asa : Pasien dengan pseudodementia sering kali mengalami perasaan tidak berdaya dan putus asa yang mendalam. Emosi ini dapat berkontribusi pada pandangan negatif terhadap kehidupan dan memperburuk keadaan depresi secara keseluruhan.

3) Masalah Bicara dan Bahasa : Pseudodementia dapat bermanifestasi dalam kesulitan yang berhubungan dengan bicara dan bahasa. Hal ini dapat berupa kelambanan dalam berbicara, kesulitan mengambil kata-kata, dan gangguan lain dalam komunikasi efektif.

4) Gangguan Memori : Gangguan memori adalah ciri khas pseudodemensia. Individu mungkin kesulitan mengingat detail penting, peristiwa, atau bahkan tugas sehari-hari, sehingga berdampak pada fungsi kognitif mereka secara keseluruhan.

5) Kesulitan Berkonsentrasi : Konsentrasi dan fokus menjadi tantangan bagi individu dengan pseudodemensia. Gejala ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas yang memerlukan perhatian dan upaya mental berkelanjutan.

6) Tantangan Organisasi dan Pengambilan Keputusan: Pseudodementia dapat mengganggu keterampilan organisasi dan kemampuan pengambilan keputusan. Tugas-tugas yang melibatkan perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengorganisasian mungkin menjadi sangat berat, sehingga menimbulkan rasa frustrasi dan ketidakberdayaan.

7) Tingkat Energi Rendah: Kelelahan kronis dan tingkat energi yang rendah sering terjadi pada individu dengan pseudodemensia. Gejala-gejala ini selanjutnya dapat berkontribusi pada penurunan kualitas hidup dan menghambat kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

8) Isolasi sosial: Individu dengan pseudodemensia mungkin menarik diri dari interaksi sosial, sehingga menyebabkan isolasi sosial. Kombinasi tantangan kognitif dan gejala depresi dapat membuat sosialisasi menguras emosi.

9) Perubahan Nafsu Makan: Perubahan nafsu makan diamati pada pasien pseudodemensia, yang bermanifestasi sebagai hilangnya nafsu makan atau makan berlebihan. Perubahan ini mungkin merupakan indikasi dampak emosional pada hubungan mereka dengan makanan.

10) Berkurangnya Fungsi Psikomotor: Pseudodementia mempengaruhi fungsi psikomotorik, menyebabkan proses berpikir lebih lambat, penurunan gerakan fisik, reaksi fisik dan emosional yang teredam, dan berkurangnya kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara efektif.

Baca juga: Kecanduan Judi Kini Termasuk Gangguan Kesehatan Mental, Kenali Gejalanya!

 

Sumber:

Mouta S, Fonseca Vaz I, Pires M*, et al*What do we know about pseudodementia?General Psychiatry 2023;**36:**e100939. doi: 10.1136/gpsych-2022-100939

Kang, H., Zhao, F., You, L., Giorgetta, C., D, V., Sarkhel, S., & Prakash, R. (2014). Pseudo-dementia: A neuropsychological review. Annals of Indian Academy of Neurology, 17(2), 147–154. https://doi.org/10.4103/0972-2327.132613

https://www.choosingtherapy.com/pseudodementia/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Memahami Gangguan Pseudodementia dan Gejalanya — DeepTalk