Deeptalk.co.id – Gen z adalah generasi yang lahir pada tahun 1997-2012. Mereka tumbuh di era perkembangan teknologi yang sangat pesat. Seiring dengan perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan juga turut berkembang. Kemudahan yang disediakan akibat perkembangan teknologi membuat penyebaran pengetahuan menjadi lebih luas dan mudah untuk dijangkau.
Salah satu perkembangan ilmu pengetahuan terjadi di bidang kesehatan mental. Jika diperhatikan, para gen z lebih serius dalam menanggapi masalah kesehatan mental. Hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung lebih fokus terhadap kesehatan fisik.
Keseriusan para gen z dalam menanggapi isu kesehatan mental menimbulkan banyak sekali istilah-istilah yang dulunya jarang didengar, menjadi sangat familiar. Salah satunya tentang gaslighting yang merupakan salah satu bentuk pelecehan emosional.
Gaslighting adalah upaya untuk memanipulasi korban agar mengikuti apa yang diinginkan pelaku, dan membuat korban meragukan kemampuan, pikiran, bahkan pengalamannya sendiri. Tindakan semacam itu cukup jahat, mengingat pelaku tidak peduli dengan perasaan dan kondisi korbannya. Maka dari itu, gaslighting termasuk dalam bentuk kekerasan atau pelecehan emosional.
Lalu, bagaimana gaslighting bisa mempengaruhi para gen z? Artikel ini akan secara khusus membahas hal tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik pembahasan utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami masalah mental akibat gaslighting atau lainnya. Segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Cara Pelaku Gaslighting Mempengaruhi Korbannya

Gaslighting memang nyata adanya. Walaupun merupakan salah satu bentuk kekerasan. Namun kekerasan yang satu ini cukup sulit untuk dideteksi. Berbeda dengan kekerasan fisik yang bisa langsung tampak di depan mata. Gaslighting hanya diketahui oleh pelaku, korban, dan orang-orang yang sangat peka akan hal tersebut. Bahkan tidak jarang juga para korban justru tidak sadar kalau dirinya sedang dalam kendali pelaku gaslighting.
Pada dasarnya, pelaku gaslighting mampu melakukan berbagai macam cara untuk mempengaruhi korbannya. Berikut beberapa cara yang mereka lakukan:
Mempengaruhi persepsi
Cara pertama yang dilakukan oleh pelaku gaslighting adalah dengan mempengaruhi persepsi korbannya. Dalam hal ini pelaku bisa memanipulasi informasi untuk membuat korban mempercayai hal yang salah. Selain itu, tidak jarang pelaku juga menggunakan kekerasan emosional yang membuat korban merasa tidak berharga dan kehilangan rasa percaya diri.
Mempengaruhi emosi
Cara kedua yang umumnya dilakukan oleh pelaku gaslighting kepada korbannya adalah dengan mempengaruhi emosi korbannya. Perlu diingat bahwa pelaku gaslighting adalah orang yang sangat manipulatif. Mereka mampu membuat korbannya merasa bersalah, walaupun pada dasarnya tidak seperti itu. Selain itu, pelaku gaslighting ini juga pandai membuat korbannya merasa terisolasi. Sehingga korban merasa tidak memiliki dukungan dari orang lain. Dimana hal semacam ini akan membuat korban semakin terikat dengan pelaku.
Mempengaruhi perilaku
Cara ketiga yang umumnya dilakukan oleh pelaku gaslighting kepada korbannya adalah dengan mempengaruhi perilaku korbannya. Kemampuan manipulatif yang miliki oleh pelaku gaslighting mampu membuat korbannya dengan suka rela melakukan apa yang diinginkan oleh pelaku. Pelaku gaslighting juga cenderung sangat mengontrol. Mereka bahkan membuat korbannya tidak memiliki kontrol akan hidup yang dimiliki.
Baca juga: Gaslighting pada Gen Z: Dampaknya pada Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya
Dampak Gaslighting Pada Gen Z

Segala bentuk upaya yang dilakukan oleh pelaku gaslighting kepada korbannya tentu akan memberikan dampak negatif bagi korban. Terlepas dari itu, pelaku gaslighting tidak peduli dengan apa yang sedang atau akan dirasakan oleh korbannya. Mereka hanya peduli tentang bagaimana korban bisa selalu dalam kendalinya.
Dampak gaslighting bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Terlebih lagi jika hal tersebut dialami oleh gen z yang baru mulai menjajaki lingkungan sosial yang lebih dalam. Berikut beberapa dampak gaslighting yang bisa dialami oleh para gen z:
Kerusakan harga diri
Dampak pertama gaslighting bisa berupa kerusakan harga diri. Gen z memerlukan harga diri untuk membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Dimana hal tersebut akan sangat membantu mereka dalam berinteraksi di lingkungan sosial. Saat harga diri dirusak, tentu akan timbul masalah-masalah baru lagi.
Stress dan kecemasan
Dampak kedua gaslighting bisa berupa stress dan kecemasan. Walaupun keduanya normal untuk batasan tertentu. Namun jika stress dan cemas terjadi terus-menerus dalam dalam tingkat keparahan yang lebih tinggi, tentu bukan hal yang normal lagi.
Depresi
Dampak ketiga dari gaslighting bisa berupa depresi. Depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan rasa sedih, dan kehilangan minat akan aktivitas sehari-hari. Dalam kasus depresi yang lebih serius, penderita bisa menimbulkan pikiran bunuh diri.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai cara pelaku gaslighting mempengaruhi korbannya, dan dampak terhadap gen z. Jika kamu mengalami masalah mental akibat gaslighting, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog. Kamu bisa mengunjungi deeptalk.co.id untuk menemukan para profesional di bidang kesehatan mental.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengenal Gaslighting: Cara Mengenali dan Menghadapi Manipulasi Emosional pada Gen Z
Sumber:
National Domestic Violence Hotline. (n.d.). Gaslighting.
American Psychological Association. (2020). Gaslighting.
Stern, R. (2018). The Gaslight Effect: How to Spot and Survive the Manipulation Tactics People Use to Control Others. Harmony Books.
Bancroft, L. (2002). Why Does He Do That?: Inside the Minds of Angry and Controlling Men. Berkley Books.
Journal of Interpersonal Violence. (2020). The Effects of Gaslighting on Mental Health. (DOI: 10.1177/0886260520948846)
Psychological Trauma: Theory, Research, Practice, and Policy. (2019). Gaslighting and Emotional Abuse. (DOI: 10.1037/tra0000464)
Journal of Clinical Psychology. (2016). Gaslighting and Narcissistic Personality Disorder. (DOI: 10.1002/jclp.22323)
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



