Deeptalk.co.id – Istilah love bombing mungkin masih terdengar sedikit asing bagi beberapa orang. Namun, fenomena love bombing justru sedang booming akhir-akhir ini. Bahkan, sebuah series di WeTV yang berjudul “Cinta Mati”, mengangkat tema love bombing dan menjadi salah satu series yang cukup populer beberapa waktu belakangan ini.
Kehadiran sosial media yang seharusnya mempermudah kita untuk berkomunikasi. Justru menjadi ladang empuk bagi pelaku love bombing untuk mendapatkan mangsa mereka. Terutama untuk mereka para gen z yang terbilang masih awam dalam dunia percintaan. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang love bombing di media sosial, dan bagaimana bisa gen z terjebak dalam fenomena tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu menjadi salah satu korban love bombing. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan diagnosa dan pertolongan yang tepat terhadap masalah yang kamu hadapi.
Pengertian Love Bombing

Love bombing adalah salah satu bentuk manipulasi emosional. Dimana pelaku akan memberikan cinta, kasih sayang, perhatian, serta pujian yang berlebihan dan sangat intens di awal. Tujuan pelaku adalah untuk mendapatkan kepercayaan korban, dan setelah itu pelaku akan mulai mengendalikan atau memanipulasi korban.
Pelaku love bombing akan memanfaatkan rasa bersalah, tidak percaya diri, dan ketergantungan emosional yang dimiliki oleh korban. Dimana semua itu sudah dibentuk oleh pelaku di awal pengenalan.
Selain itu, pelaku love bombing juga merupakan sosok yang manipulatif. Hal inilah yang membuat korban sering kali tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam hubungan yang toxic. Hingga pada akhirnya korban mendapatkan berbagai bentuk kekerasan fisik, mental, dan juga emosional. Namun jika hendak menjauh, pelaku akan mulai mengancam korban dengan berbagai macam cara. Salah satu yang paling populer adalah dengan menyebarkan aib, informasi pribadi, bahkan video atau foto tidak senonoh yang dimiliki korban.
Baca juga: Dari Romantis ke Manipulatif: Cara Mengenali Love Bombing dalam Hubungan
Love Bombing di Media Sosial

Gen z adalah generasi yang memiliki kelekatan khusus dengan teknologi dan media sosial. Bagaimana tidak, mereka tumbuh bersama pesatnya perkembangan teknologi. Dengan demikian, hal biasa bagi mereka mengoperasikan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Media sosial pada awalnya memang diciptakan untuk mempermudah komunikasi dan penyebaran informasi. Namun, tentu ada saja dampak negatif, terutama jika digunakan dengan tidak bijak. Kemudahan penyebaran informasi terkadang membuat beberapa orang lepas kendali untuk menyebarkan informasi pribadi miliknya. Hal inilah yang menjadi sasaran empuk bagi para pelaku love bombing.
Pelaku love bombing akan dengan mudah mendapatkan akses untuk berkomunikasi melalui media sosial dengan korban yang ditargetkannya. Selain itu, informasi pribadi korban yang ada di sosial media bisa dijadikan bahan untuk mendekatkan diri kepada korban.
Para gen z juga umumnya menyukai pujian atau perhatian yang diberikan di sosial media. Misalnya mendapatkan like, komentar, dan juga pesan melalui media sosial. Para pelaku love bombing tentu akan memanfaatkan fitur tersebut untuk mulai mendekati korbannya.
Tidak hanya sebagai media untuk mendekati korban saja. Media sosial juga sering digunakan sebagai ancaman jika korban sudah tidak bersikap kooperatif lagi kepada pelaku. Misalnya dengan mengancam untuk menyebarkan foto atau video tidak senonoh korban di media sosial. Dengan demikian bisa dibayangkan bagaimana bahayanya jika media sosial digunakan dengan cara-cara yang tidak baik seperti ini.
Ciri-Ciri Love Bombing di Media Sosial

Penting untuk kita memproteksi diri sejak awal. Gunanya agar kita tidak terjebak dalam hubungan yang toxic, atau cinta yang palsu dari pelaku love bombing. Penggunaan sosial media juga harus bisa lebih bijak. Terutama untuk para gen z yang sangat familiar dengan sosial media. Maka dari itu, penting untuk kita mengenali ciri-ciri love bombing di media sosial berikut:
Intensitas komunikasi yang tidak proporsional
Di awal perkenalan, pelaku love bombing akan berusaha sesering mungkin untuk berkomunikasi dengan korbannya. Hal inilah yang membuat mereka akan terus-menerus menghubungi korban dengan berbagai cara. Salah satunya melalui media sosial, bisa dengan mengirimkan pesan singkat di media sosial, mengomentari postingan korban, atau memberikan boom like di semua postingan.
Terlalu cepat menyatakan cinta atau keinginan berkomitmen
Mereka yang serius memang akan segera menyampaikan keseriusannya. Namun tidak dengan waktu yang terlalu singkat. Misalnya langsung melamar di minggu-minggu pertama pengenalan. Tentu hal ini bisa menjadi tanda untuk kamu berhati-hati dengan orang semacam itu.
Perubahan perilaku yang ekstrim
Setelah pelaku love bombing merasa aman, atau saat korban sudah mulai termanipulasi olehnya. Mereka akan menunjukan perubahan perilaku yang ekstrim. Jika sebelumnya pelaku adalah sosok yang pengertian, mereka akan jadi sangat mengekang. Jika kamu memiliki pasangan yang seperti ini, maka kamu perlu waspada.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai love bombing di media sosial. Jika kamu korban love bombing dan ingin pulih dari trauma yang disebabkannya. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog yang ada disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Fenomena Love Bombing di Era Digital: Ancaman Tersembunyi bagi Gen Z
Sumber:
Karpman, S. (1968). Fairy Tales and Script Drama Analysis. Transactional Analysis Bulletin, 7(26), 39-43.
Rehman, U. (2022). Love Bombing: A Form of Psychological Abuse. Journal of Emotional and Behavioral Health, 14(2), 101-109.
Durvasula, R. (2015). Should I Stay or Should I Go? Surviving a Relationship with a Narcissist. Post Hill Press.
Koenig, A. M., & Dalbert, C. (2018). Online Dating and Manipulation: A Study of Love Bombing Tactics. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 21(9), 562-568.
Psychology Today. (2021). What Is Love Bombing?. https://www.psychologytoday.com/us/basics/love-bombing.
Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy. Atria Books.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



