Semua artikel
Emosi

Loneliness Epidemic: Kesepian di Era Digital dan Pengaruhnya pada Gen Z

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Hidup di era digital memungkinkan gen z untuk mengakses banyak sekali informasi di internet. Bahkan, gen z dengan mudah berkomunikasi dengan orang di belahan dunia lain. Kemudahan informasi dan komunikasi tidak lantas membuat gen z terhindar dari rasa sepi. Nyatanya, fenomena loneliness epidemic justru terjadi di kalangan gen z.

Loneliness epidemic atau yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan epidemi kesepian, merupakan istilah untuk menggambarkan bertambahnya tingkap kesepian atau rasa terisolasi walaupun terhubung dengan berbagai komunitas atau lingkungan digital. Artinya, kondisi loneliness epidemic memicu rasa kesepian, baik secara fisik, emosional, dan psikologis.

Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai fenomena loneliness epidemic dan pengaruhnya pada gen z. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Tingkat Kesepian di Kalangan Gen Z

Girl and cat relaxing on sofa

Walaupun memiliki berbagai kemudahan dalam berkomunikasi, nyatanya banyak gen z yang masih mengalami rasa sepi. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh GWI pada November 2024, 80% responden yang merupakan gen z mengaku pernah merasa kesepian dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut berbeda jauh dari responden yang merupakan baby boomer yang hanya terdapat 45% responden dengan perasaan kesepian dalam 12 bulan terakhir.

Tingkat kesepian di kalangan gen z ini tentu bukan tanpa alasan. Berikut beberapa faktor penyebab kesepian dikalangan gen z:

Penggunaan media sosial dan teknologi digital

Walaupun media sosial dan teknologi digital memungkinkan gen z untuk berkomunikasi dengan banyak orang. Tidak bisa dipungkiri bahwa berkomunikasi melalui media online tidak bisa menggantikan interaksi tatap muka. Justru, penggunaan media sosial yang berlebihan bisa memicu ketergantungan, dan berdampak pada penurunan kualitas hubungan interpersonal.

Tekanan sosial

Gen z mengalami banyak sekali tekanan sosial, mulai dari hal-hal yang terkait dengan akademik, karir, hingga ekspektasi sosial. Tekanan semacam itu bisa memicu stress, kecemasan berlebih, dan perasaan terisolasi. Tekanan sosial juga semakin besar akibat sosial media yang menyajikan banyak sekali pencapaian dari orang lain.

Pandemi COVID-19

Gen z adalah generasi yang melalui pandemi COVID-19. Pada pandemi tersebut orang-orang diharuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah untuk memperkecil penyebaran virus. Hal tersebut berdampak pada kondisi mental, dan meningkatkan rasa kesepian banyak orang.

Baca juga: Mengapa Gangguan Mental Meningkat di Kalangan Gen Z?

Dampak Loneliness Epidemic Pada Gen Z

Young male freelancer is lying on the sofa, holding a laptop. Remote work, study from home.

Loneliness epidemic tentu memberikan dampak yang cukup besar bagi gen z. Berikut pengaruh loneliness epidemic bagi gen z:

Dampak loneliness epidemic terhadap kesehatan mental gen z

Dampak loneliness epidemic pertama bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mental gen z. Perasaan kesepian dalam tingkat tertentu bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental, misalnya:

·         Depresi, bisa dipicu oleh penurunan dopamin dan serotonin yang disebabkan oleh rasa kesepian. Selain itu, kesepian juga bisa meningkatkan pikiran negatif, penurunan harga diri, kehilangan dukungan sosial, kurangnya aktivitas fisik, dan masih banyak lagi. Semua kondisi tersebut bisa berujung pada kondisi depresi jika dibiarkan berlarut-larut.

·         Kecemasan, disa dipicu oleh hiperaktivitas amygdala. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih sensitif dengan rasa kesepian dan meningkatkan kecemasan maupun rasa kewaspadaan. Selain itu, kesepian juga cenderung membuat seseorang overthinking dan persepsi negatif terhadap interaksi sosial. Secara tidak langsung, kondisi tersebut bisa menimbulkan kecemasan berlebih.

Dampak loneliness epidemic terhadap kesehatan fisik gen z

Tidak hanya berdampak terhadap kondisi kesehatan mental saja, loneliness epidemic juga memicu berbagai dampak kesehatan fisik pada gen z. Berikut beberapa dampak kesehatan fisik akibat loneliness epidemic:

·         Meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular, rasa kesepian yang berkepanjangan bisa memicu stress kronis yang memicu pelepasan hormon kortisol dan berdampak pada peningkatan tekanan darah, aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), dan meningkatkan risiko serangan jantung serta stroke.

·         Penurunan sistem kekebalan tubuh, rasa kesepian menyebabkan peradangan sistemik yang berdampak pada kerusakan sel organ, memicu gangguan tidur, dan ketidakseimbangan mikrobioma usus. Kondisi semacam itu bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh manusia.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai loneliness epidemic pada gen z, dan dampak yang dialami akibat loneliness epidemic. Jika kamu mengalami rasa kesepian berkepanjangan, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog. Kamu bisa mengunjungi web deeptelk.co.id untuk menemukan psikolog profesional.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Pola Asuh Orang Tua Membentuk Kepribadian People Pleaser Pada Anak

 

Sumber:

Kamal, J. “Understanding Gen Z’s loneliness epidemic”. GWI. https://www.gwi.com/blog/gen-z-loneliness?.com. Diakses pada 16 Februari 2025.

Leigh-Hunt, N., Bagguley, D., Bash, K., Turner, V., Turnbull, S., Valtorta, N., & Caan, W. (2017). An Overview of Systematic Reviews on the Public Health Consequences of Social Isolation and Loneliness. Public Health, 152, 157-171.

Spithoven, A. W. M., Bijttebier, P., Goossens, L. (2017). It Is Complicated: The Relation Between Social Anxiety and Adolescent Loneliness, and the Role of Peer Group Membership. Journal of Adolescence, 54, 55-63.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Loneliness Epidemic: Kesepian di Era Digital dan Pengaruhnya pada Gen Z — DeepTalk