Deeptalk.co.id – Memiliki keinginan untuk mendapatkan sesuatu dengan standar yang tinggi tentu hal yang wajar. Siapa pula yang tidak menginginkan sesuatu yang terbaik? Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi para perfeksionis (begitulah kami menyebut orang dengan perfeksionisme). Hidup mereka selalu berpegang pada standar yang sangat tinggi, hingga membawa pemikiran atas apapun yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik.
Perfeksionisme menjadi bahaya akibat standar yang dipegang terlalu tinggi dan tidak realistis yang seringkali sulit untuk dicapai karena tidak sesuai dengan kemampuannya. Lalu ketika perfeksionis gagal mencapai kesempurnaan, mereka pun akan menyalahkan diri mereka sendiri. Mereka akan terlalu keras mengkritik diri mereka sendiri, enggan untuk bangkit kembali dan sulit untuk belajar dari kesalahan.
Adanya kecenderungan tersebut membawa perfeksionisme pada ketidakbahagiaan pada hidup. Ini bisa menyebabkan seorang dengan perfeksionisme akutnya menjadi depresi, gangguan kecemasan, gangguan makan hingga self-harm. Akhirnya, ini juga dapat membuat mereka berhentu berusaha untuk berhasil, hingga pada kasus lainnya bisa mengganggu kualitas hidup, memengaruhi hubungan pribadi, pendidikan atau pekerjaan.
Selain itu, pada beberapa penelitian mengenai dampak perfeksionisme yang mengejar kesempurnaan tanpa henti dapat menyebabkan low self-esteem, stres tingkat tinggi saat menghadapi kegagalan dan bahkan bunuh diri. Akibatnya perfeksionisme bukannya menjadi motivator malah berakhir dengan pencapaian yang jauh lebih sedikit daripada yang mereka cita-citakan. Hal ini didorong juga oleh perasaan menahan diri, menunda-nunda dan bahkan berhenti mengambil tantangan sama sekali.
Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa perfeksionisme bisa membawa beberapa jenis gangguan kesehatan mental pada pengidapnya. Tak hanya itu, akan ada banyak konsekuensi yang datang dengan jenis pemikiran perfeksionisme ini dari lain sisi, diantaranya sebagai berikut.
1. Produktivitas yang Menurun

Perfeksionisme juga menyebabkan seseorang terjebak pada procrastination atau penundaan. Hal tersebut berawal dari adanya pemikiran “sempurna atau tidak sama sekali”. Lalu ketika sudah memasuki tenggat waktu, perfeksionis akan melihatnya baik atau buruk.
Mereka mungkin begitu terjebak dalam apa pun yang mereka coba untuk menjadi sempurna sehingga akhirnya tidak melakukannya sama sekali. Atau bahkan mereka menunda proyek hingga melewati masa deadline karena sangat khawatir proyek tersebut tidak akan sempurna. Jenis pemikiran inilah yang membawa pada penurunan produktivitas yang pada gilirannya akan menyebabkan lebih banyak stres dan anxiety.
Baca juga: Catastrophising : Pengertian dan Penyebabnya
2. Peningkatan Kerentanan Diri

Seorang perfeksionis memberi banyak tekanan pada diri mereka sendiri atau dari orang-orang dalam hidup dan lingkungannya. Bahkan perfeksionis yang menuntut semuanya untuk tampil sempurna akan meningkatkan rasa ketidakabaran, amarah dan frustasi pada diri mereka. Semua itu bisa membawa pada stres tingkat tinggi dan ketika sudah demikian, mereka mungkin lebih rentan terhadap masalah gangguan kesehatan mental lainnya yang lebih berbahaya, seperti kecemasan, depresi, hingga pikiran untuk bunuh diri.
Kerentanan pada perfeksionis bisa juga memunculkan impostor syndrome, yakni ketika seseorang membandingkan diri dengan orang lain dan merasa tidak cocok dengan mereka. Terutama dalam hal kemampuan dan kecerdasan. Ini bisa menimbulkan perasaan diri yang sangat rendah yang juga dapat menghalangi untuk melakukan yang terbaik di sekolah maupun tempat kerja.
3. Kecemasan dan Depresi

Pemicu kecemasan dan depresi pada perfeksionisme akibat adanya stres berkepanjangan yang menumpuk saat mereka tidak dapat memenuhi standar tinggi yang mereka tetapkan untuk diri sendiri. Pun beberapa orang dapat dianggap “perfeksionis emosional” yang pandai menyembunyikan perasaan cemas dan depresi ini.
Ini bisa menjadi sangat berbahaya, terutama jika mereka memiliki pikiran untuk bunuh diri atau merasa tidak berharga. Jika sudah demikian, perlu untuk menghubungi pihak terpercaya kesehatan mental untuk membicarakan perasaan dan emosi tersebut.
4. Masalah Kesehatan Fisik

Kebutuhan akan kontrol ketat atas hidup perfeksionis dapat berbatasan dengan gangguan obsesif-kompulsif. Kecenderungan mereka biasanya berputar di sekitar kontrol. Sehingga ketika mereka kehilangan kendali tersebut, kondisi kesehatan mental juga fisik dapat timbul. Ini yang mendorong perfeksionisme kemungkinan mengalami gangguan makan seperti orthorexia nervosa, akibat mereka yang merasa perlu mempertahankan pola makan yang sempurna dan kaku.
5. Hubungan Sosial yang Tegang

Konsekuensi lain dari perfeksionisme adalah hubungan yang tegang dengan keluarga atau teman. terutama jika perfeksionis menaruh standar tinggi pada orang yang mereka cintai. Tentu ini akan menambah stres dan tekanan stres ekstra pada hubungan mereka hingga berujung pada kegagalan.
Selain itu, saat seseorang membawa proses pemikiran ini ke dalam hubungan sosialnya, termasuk kolega, teman, dan pasangan yang biasanya berbaur, seorang perfeksionis akan menilai orang lain sama seperti mereka menilai diri mereka sendiri. Ini adalah kecenderungan yang tidak sehat untuk ditempatkan dalam hubungan apa pun.
6. Kehilangan Fokus

Kelemahan lain dari pola pikir perfeksionis adalah bahwa perfeksionis seringkali tidak benar-benar hadir pada saat itu. Ini dikarenakan mereka khawatir atau mengkritik apa yang terjadi pada sekitarnya, dan mereka hidup di kepala mereka. Perfeksionis mungkin khawatir tentang keputusan di masa depan atau mengulangi sesuatu yang terjadi di hari ini. Itu batasan lain yang mengarah pada penundaan dan membenci diri sendiri.
Baca juga: Meluapkan Rasa Duka Dengan Cara yang Sehat
Sumber:
Perfectionism: 6 Consequences to Watch For. (2021, August 17). WebMD. https://www.webmd.com/balance/features/consequences-perfectionism
Perfectionism: Symptoms, Treatment, and Prevention. (2023). Perfectionism: Symptoms, Treatment, and Prevention. https://www.healthline.com/health/perfectionism
Advice | Perfectionists: Lowering your standards can improve your mental health. (2022, October 19). Washington Post. https://www.washingtonpost.com/wellness/2022/10/19/perfectionism-anxiety-excellence/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



