Deeptalk.co.id – Ketakutan merupakan salah satu emosi manusia yang dipicu oleh ancaman yang dirasakan. Ini adalah mekanisme dasar dalam bertahan hidup dengan memberi sinyal pada tubuh untuk merespon bahaya dengan respon ‘fight-or-flight’. Inilah bagian penting yang dapat menjaga kita tetap aman. Meskipun demikian, jika rasa takut tersebut bertahan secara terus menerus dalam tubuh, ini dapat memberikan konsekuensi atau dampak lainnya bagi tubuh.
Pada prosesnya dalam tubuh, rasa takut mempersiapkan tubuh untuk bereaksi terhadap bahaya. Begitu Anda merasakan potensi bahaya, tubuh Anda akan melepaskan hormon yang memperlambat / mematikan fungsi yang tidak diperlukan untuk bertahan hidup, serta mempertajam fungsi yang mungkin bisa membantu dalam bertahan hidup seperti penglihatan.
Ketika ketakutan, detak jantung ikut meningkat dan darah mengalir ke otot sehingga Anda bisa berlari lebih cepat. Tubuh juga meningkatkan aliran hormon ke area otak yang dikenal sebagai amigdala untuk membantu Anda fokus pada bahaya yang muncul dan menyimpannya dalam memori Anda.
Bagaimana Rasa Takut Mempengaruhi Pemikiran Kita

Ketakutan dapat mempengaruhi pemikiran Anda. Yakni begitu jalur rasa takut ditingkatkan, otak bereaksi dengan cara yang dapat diprediksi. Diantaranya otak mempersingkat jalur pemrosesan yang lebih rasional, serta langsung bereaksi terhadap sinyal dari amigdala, alih-alih pemrosesan yang lebih rasional.
Selain itu, ketakutan juga memengaruhi otak untuk menganggap suatu persitiwa tersebut sebagai hal yang negatif. Ketika dalam keadaan terlalu aktif ini, atau terkadang disebut amigdala hyjack, otak menganggap peristiwa sebagai negatif dan mengingatnya seperti itu.
Juga saat rasa takut muncul, Anda menjadi memperhatikan segalanya dan menyimpan semua secara detail. Otak menyimpan semua detail seputar bahaya, termasuk pemandangan, suara, bau, waktu, cuaca, dan sebagainya. Kenangan ini cenderung sangat tahan lama, meski mungkin juga terfragmentasi.
Kemudian detail peristiwa tersebut bisa memicu ketakutan nantinya. Dimana pemandangan, suara, dan perincian kontekstual lainnya dari peristiwa yang menakutkan dapat mengembalikan ingatan, atau dapat menyebabkan Anda merasa takut tanpa mengetahui alasannya secara sadar. Karena isyarat ini dikaitkan dengan bahaya sebelumnya, otak mungkin melihatnya sebagai prediktor ancaman.
Dalam kasus yang parah, ini dapat menyebabkan PSTD. Bereaksi terhadap isyarat dikaitkan dengan bahaya sebelumnya sebagai prediktor ancaman, sering terjadi dengan gangguan stres pasca-trauma (PSTD). Misalnya, seorang tentara yang mengalami pengeboman pada hari berkabut mungkin akan panik ketika cuaca berubah menjadi berkabut, tanpa mengetahui alasannya.
Baca juga: Alzheimer : Menguak Faktor-Faktor Penyebab yang Mempengaruhi
Dampak Ketakutan Kronis

Hidup di bawah ancaman konstan memiliki konsekuensi kesehatan yang serius. Diantaranya rasa takut atau ketakutan kronis ini dapat berdampak pada kesehatan fisik, penyimpanan atau memori pada otak, kemampuan pemrosesan dan reaktivitas otak, hingga pada kesehatan mental yang bisa menimbulkan beragam gangguan terkait rasa takut kronis.
Ketakutan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda dan dapat menyebabkan kerusakan kardiovaskular, masalah pencernaan seperti maag dan sindrom iritasi usus besar, serta penurunan kesuburan. Ini dapat menyebabkan penuaan yang dipercepat dan bahkan kematian dini.
Lalu rasa takut juga bisa berdampak pada penyimpanan di otak. Dimana ketakutan dapat mengganggu pembentukan ingatan jangka panjang dan menyebabkan kerusakan pada bagian otak tertentu, seperti hippocampus. Hal ini dapat membuat semakin sulit untuk mengatur rasa takut dan dapat membuat seseorang sering cemas. Bagi seseorang yang mengalami ketakutan kronis, dunia terlihat menakutkan dan ingatan mereka menegaskan hal itu.
Selain itu, rasa takut yang memberikan dampak pada otak lainnya juga dapat mengganggu pemrosesannya yang memungkinkan Anda dalam mengatur emosi, membaca isyarat non-verbal dan informasi lain yang disajikan kepada Anda, merenung sebelum bertindak, dan bertindak secara etis.
Ini memengaruhi pemikiran dan pengambilan keputusan Anda dengan cara negatif, membuat Anda rentan terhadap emosi yang kuat dan reaksi impulsif. Semua efek ini dapat membuat Anda tidak dapat bertindak dengan tepat.
Dampak lain dari rasa takut kronis ini bisa memengaruhi kesehatan mental. Konsekuensi lain dari ketakutan jangka panjang termasuk kelelahan, depresi klinis, dan PSTD. Semua ancaman ini dapat memengaruhi keamanan Anda secara nyata atau dapat dirasakan, termasuk pada kesejahteraan mental dan fisik Anda.
Akibat Lain Yang Mungkin Terjadi

Namun, selain secara internal, rasa takut juga memungkinkan Anda akan mendapatkan akibat lainnya. Salah satunya yang mungkin Anda tidak menduganya ialah ini bisa berakibat pada biaya ekonomi kehidupan Anda.
Jajak pendapat Gallup 2012 dari 31 negara menemukan bahwa kurang dari separuh orang dewasa yang disurvei melaporkan merasa aman berjalan sendirian di malam hari. Ada dampak global yang serius terhadap statistik ini, ketika orang merasa kurang nyaman keluar di malam hari untuk bekerja atau membeli barang, perekonomian akan menderita.
Ada juga dampak secara komunitas, yakni ketika sekelompok orang di komunitas Anda mengkhawatirkan keselamatan mereka setiap hari karena warna kulit atau ekspresi gender mereka atau persepsi identitas lainnya, ketidakadilan ini dan trauma yang diakibatkannya berdampak pada semua orang. Anda mungkin tidak dapat memiliki komunitas yang aman sampai semua anggota komunitas aman.
Rasa takut kronis ini juga bisa membawa trauma bawaan. Ini memungkinkan seseorang mengalami ketakutan dan kecemasan karena trauma yang bahkan tidak menimpanya sebelumnya. Namun, penelitian di bidang ini masih terus berkembang, meskipun sudah ada beberapa bukti bahwa dampak trauma dapat diwariskan dari nenek moyang kita.
Misalnya, beberapa anak dan cucu korban selamat Holocaust mungkin memiliki risiko kecemasan, depresi, dan ketakutan kronis yang lebih tinggi. Keturunan yang selamat dari trauma besar lainnya, terutama perbudakan dan percobaan genosida, seringkali melaporkan gejala yang mirip dengan yang dialami oleh orang-orang yang mengalami trauma itu sendiri.
Akibatnya, komunitas orang Afrika-Amerika, penduduk asli, dan kelompok terpinggirkan lainnya mungkin mengalami rasa duka dan ketakutan yang sama. Trauma yang diwariskan ini seringkali diperparah oleh kenyataan diskriminasi dan kebrutalan yang terus berlangsung.
Baca juga: Mengenal Butterfly Hug : Metode Untuk Menjaga Kestabilan Emosi
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



