Deeptalk.co.id – Konformitas bisa merujuk pada perilaku kita yang mencoba menyesuaikan diri dengan standar yang ditentukan oleh masyarakat atau kelompok. Faktanya, dalam situasi tertentu, perilaku ini sangat dibutuhkan untuk memelihara kerja sama dan harmoni.
Di sisi lain, mungkin kamu juga pernah merasa perlu untuk tunduk dan mengikuti keputusan yang diambil oleh otoritas. Baik itu guru, orang tua, atau atasan di kantor, meski sebetulnya kamu memiliki sudut pandang sendiri. Ini adalah situasi di mana kita berhadapan langsung dengan konsep otoritas. Otoritas biasanya mendapatkan kepercayaan dan kewenangan untuk memutuskan hal-hal tertentu dan memberikan arahan bagi anggotanya.
Menariknya, terkadang kita dihadapkan pada situasi yang membuat kita bertanya-tanya, “Haruskah aku selalu mengikuti aturan ini?” atau “Bisakah aku mengekspresikan pendapatku sendiri kadang-kadang?”. Nah, disinilah kita mulai menimbang konformitas dan otoritas. Tantangan nyata adalah mengetahui kapan waktunya kita harus berani melawan.
Pengertian Konformitas dan Otoritas

Jadi, apa sih konformitas dan otoritas itu? Kalau kita bicara tentang konformitas, itu artinya ketika seseorang berupaya menyesuaikan diri mereka dengan aturan dan standar di masyarakat. Gampangnya, kita ngikutin apa yang dianggap “normal” dan diterima oleh kebanyakan orang di sekitar kita.
Nah, lalu apa itu otoritas? Otoritas itu kekuasaan dan hak yang dimiliki seseorang atau lembaga untuk memimpin dan mengatur orang-orang yang ada di bawah mereka. Jadi, lewat otoritas ini, mereka bisa memberikan instruksi atau petunjuk kepada orang lain.
Konformitas dan otoritas ini sebenarnya penting banget buat kehidupan kita di masyarakat. Konformitas bisa bikin keadaan jadi lebih harmonis dan menjaga kerjasama antar anggota masyarakat. Sementara otoritas membuat ada ketertiban dan arahan yang jelas untuk menjalani kegiatan sehari-hari.
Baca juga: Apa Saja Manfaat Metode RULER Bagi Emosional?
Konformitas vs Otoritas

Konformitas dan otoritas tuh sama-sama penting, tapi ada plus minusnya. Misalnya, konformitas ini kan membantu kita biar tetap bisa setuju-setujuan sama orang lain dan tidak bikin keributan. Tapi, sebaliknya, konformitas ini bisa jadi malah bikin kita jadi tidak bisa berpikir out of the box. Sehingga kita hanya ikut-ikutan aja sama apa yang orang lain pikirkan, nggak bagus kan?
Kemudian, soal otoritas ini kan fungsinya biar ada aturan dan instruksi yang jelas untuk kita ikuti. Cuma, kalo otoritas ini disalahgunakan bisa juga malah jadi menyiksa dan menindas kita. Intinya, kita harus pintar dalam menimbang antara konformitas dan otoritas. Ini biar nggak jadi korban si otoritas atau terjebak di lingkaran tekanan peer group yang nggak sehat.
Apa Perbedaan Antara Konformitas Dan Otoritas?

Konformitas itu seperti kita “nurut-nurut aja” sama apa yang dilakuin banyak orang atau apa yang dianggap ‘normal’ sama kalangan mayoritas. Jadi kita ikut gaya mereka biar bisa nyatu dan nggak dianggap aneh. Atau seperti saat teman-teman satu kantor pada sarapan nasi goreng. Kita jadi ngiler juga pengen nasi goreng. Meskipun sebenarnya kita lagi diet. Itu adalah contoh konformitas.
Sementara itu, otoritas tuh lebih ke wewenang atau hak seseorang atau sebuah lembaga untuk mengatur atau memerintah. Jadi, ada seseorang atau suatu institusi dengan posisi ‘di atas’ yang punya kuasa dan hak untuk machen orang lain. Kayak atasan di kantor yang berhak memberi tugas dan arahan kepada bawahannya. Atau polisi yang punya wewenang dalam penegakan hukum.
Intinya, perbedaannya ada di mana kita mendapatkan ‘pengaruhnya’. Konformitas datang dari tekanan kelompok atau lingkungan sekitar. Sedangkan otoritas itu datangnya dari kekuasaan atau hak resmi seseorang atau sebuah institusi.
Kapan Waktunya untuk Berani Melawan

Bicara soal “Kapan Waktunya untuk Berani Melawan”, ada beberapa kondisi yang bisa kita pertimbangkan. Mungkin, kita perlu mulai berani bicara, jika merasa hak-hak kita nggak dianggap atau ketika nilai-nilai yang kita pegang itu terancam. Konteksnya bisa jadi kayak ngeliat ada ketidakadilan terjadi atau kebenaran yang nggak diresapi. Atau misalnya, ketika ada otoritas yang main berkuasa semaunya, tebang pilih, sampe nindas hak-hak yang semestinya kita dapat. Nah, momen-momen kayak seperti inilah yang mungkin jadi waktu yang tepat buat berani melawan, demi kebaikan bersama.
Berikut adalah beberapa titik, kapan sebaiknya kita berani untuk melawan:
· Hak Tidak Dihormati
Pelanggaran terhadap hak asasi kita bisa menjadi tanda bahwa kita harus berdiri dan melawan. Ini bisa mencakup diskriminasi, penyalahgunaan, atau pengabaian hak kita oleh orang lain atau lembaga.
· Nilai Penting Terancam
Jika kita melihat bahwa nilai-nilai penting yang kita pegang. Seperti kejujuran, keadilan, atau empati, dipertanyakan atau dilanggar, mungkin saatnya kita berbicara dan melawan.
· Ketidakadilan yang Nyata
Ketika kita menjadi saksi atau korban tidak adil, kita harus berani untuk melawan.
· Otoritas Bertindak Tirani
Jika otoritas berperilaku dengan cara yang menekan atau tiran. Seperti menyalahgunakan kekuasaan atau melecehkan individu. Kita harus berani guna melindungi diri kita dan orang lain.
Jadi, biasanya saat yang tepat untuk berani melawan adalah ketika kita melihat pelanggaran terhadap hak. Selain itu juga nilai-nilai kita, ketidakadilan yang jelas, atau penyalahgunaan kekuasaan oleh otoritas. Prinsipnya adalah melindungi diri sendiri dan orang lain dari keterbatasan dan penyalahgunaan yang tidak adil.
Baca juga: Kenali Perbedaan Mania dan Hipomania Pada Gangguan Bipolar
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



