Semua artikel
Kecerdasan

Ketahui Ciri dan Bahayanya Jika Memiliki IQ yang Rendah

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia6 menit baca

Deeptalk.co.id – Inteligensi adalah komponen penting dalam kehidupan manusia, mempengaruhi berbagai aspek seperti pemecahan masalah, belajar, dan berinteraksi dengan dunia sekitar. Namun, tidak semua individu memiliki tingkat intelijensi yang sama, dan beberapa mungkin memiliki IQ yang lebih rendah dari rata-rata. Artikel ini akan menjelaskan tentang IQ rendah, penyebabnya, dampaknya, serta bagaimana masyarakat dan individu dapat memberikan dukungan yang bermakna.

IQ yang rendah merujuk pada tingkat kecerdasan intelektual yang berada di bawah rata-rata populasi. IQ atau Intelligence Quotient adalah angka yang dihasilkan dari tes kecerdasan standar yang dirancang untuk mengukur kemampuan kognitif seseorang dalam berpikir logis, memahami konsep-konsep kompleks, dan menyelesaikan masalah. Biasanya, rata-rata IQ populasi didefinisikan sebagai 100, dengan sekitar 68% individu memiliki IQ antara 85 hingga 115. 

Dalam konteks IQ rendah, seseorang biasanya dianggap memiliki IQ di bawah 70. Namun, penting untuk diingat bahwa IQ hanya mengukur satu aspek kecerdasan dan tidak mencakup semua aspek kecerdasan manusia. Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi IQ seseorang, termasuk faktor genetik, lingkungan tumbuh besar, pendidikan, serta pengalaman hidup.

Individu dengan IQ rendah mungkin menghadapi tantangan dalam beberapa area seperti pembelajaran akademis, pemecahan masalah kompleks, dan interaksi sosial. Namun, penting untuk diingat bahwa IQ rendah tidak menentukan seluruh potensi atau nilai seseorang sebagai individu. Dukungan pendidikan, lingkungan yang mendukung, dan pendekatan yang inklusif dapat membantu individu dengan IQ rendah mengembangkan keterampilan dan potensi mereka dalam cara yang positif.

Selain itu, ada beberapa penelitian yang mengemukakan beberapa bahaya dan dampak negatif ketika seseorang memiliki IQ yang rendah, di antaranya yakni sebagai berikut:

Ketidakberhasilan Dalam Pendidikan, Pekerjaan dan Perekonomian

Para ahli telah sepakat bahwa tingkat IQ seseorang dapat memengaruhi keberhasilan seseorang dalam hidupnya, termasuk pada bidang pendidikan dan pekerjaan. Sehingga, jika seseorang memiliki IQ yang rendah memiliki kemungkinan lebih besar mengalami kegagalan dalam hidupnya.

Sebuah fakta mengungkapkan bahwa orang dengan IQ antara 75 hingga 90 memiliki kemungkinan 88 kali lebih besar untuk putus sekolah, tujuh kali lebih besar untuk dipenjara dan lima kali lebih besar untuk hidup dalam kemiskinan dibandingkan dengan mereka yang memiliki IQ di atas 110.

Selain itu, ada juga sebuah penelitian yang selaras dengan fakta tersebut. Studi tersebut dilakukan dengan menggunakan populasi pria di Denmark yang lahir antara tahun 1968 hingga 2016 untuk mengetahui pencapaian pada pendidikan dan pekerjaannya. Sehingga hasil penelitian pun menunjukkan bahwa IQ yang rendah merupakan prediktor yang kuat dan konsisten untuk semua indikator ketidakberhasilan pencapaian pendidikan dan pekerjaan.

Sebagai kesimpulan, temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa penilaian inteligensi dapat memberikan informasi penting untuk perencanaan pendidikan dan konseling bagi anak-anak dan remaja yang memiliki fungsi yang kurang baik. Baik untuk tujuan pendidikan jangka pendek maupun untuk masa depan yang lebih jauh, yaitu masa depan yang berhubungan dengan pekerjaan.

Baca juga: Tanda Bahwa Kamu Seorang Introvert

Perasaan Untuk Bunuh Diri

Pada sebuah penelitian dikemukakan adanya keterkaitan antara kecerdasan atau IQ yang rendah dan kontrol emosi yang rendah pula dengan peningkatan risiko bunuh diri. Oleh peneliti asal Swedia, mereka menambahkan penelitian tersebut untuk melihat bagaimana hubungan antara perilaku bunuh diri pada orang dengan kecerdasan dan kontrol emosi yang rendah kemudian berkembang selama hampir 40 tahun.

Meskipun ada banyak faktor yang berperan, para peneliti Swedia telah menarik hubungan antara skor IQ yang lebih rendah dan perasaan ingin bunuh diri. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Medicine ini dilakukan dengan mengikutkan hampir 50.000 pria Swedia dari tahun 1970-an hingga saat ini.

Studi ini menunjukkan bahwa risiko bunuh diri di kemudian hari tetap tinggi pada orang dengan kecerdasan rendah di masa muda. Korelasi negatif yang stabil yang sama tidak terlihat pada orang-orang yang dianggap memiliki kontrol emosi yang rendah di tahun-tahun awal mereka. Bagi orang-orang ini, risiko bunuh diri menurun seiring berjalannya waktu.

Aspek yang paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa efek negatif dari stabilitas emosi yang rendah paling kuat terjadi pada masa remaja. Di antara orang-orang berusia 50-an, hubungan antara stabilitas emosi yang rendah dan bunuh diri jauh lebih lemah. Hal ini menambah tingkat harapan tertentu dan mendukung deskripsi bunuh diri sebagai solusi permanen untuk masalah sementara.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa orang dengan kecerdasan terendah memiliki kemungkinan enam kali lebih besar untuk mencoba atau meninggal akibat bunuh diri dibandingkan dengan mereka yang memiliki kecerdasan tertinggi. Demikian pula, pria dengan kontrol emosi yang paling rendah memiliki risiko hampir tujuh kali lipat lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri dibandingkan dengan pria dengan kategori tertinggi. Untuk pria dengan IQ rendah, hubungan yang kuat tetap ada dari waktu ke waktu, sedangkan pria dengan kontrol emosi yang rendah pada masa remaja tampak kurang rentan terhadap bunuh diri seiring bertambahnya usia.

Kurangnya Kebahagiaan

Terdapat penelitian yang menemukan adanya hubungan latar belakang kebahagiaan dengan IQ secara independen yang terkait dengan hasil kesehatan yang positif. Namun ini masih belum menjelaskan secara konsisten mengenai hubungan antara IQ dan tingkat kebahagiaan. Sehingga para peneliti dari University College London melaporkan dalam Psychological Medicine bahwa orang dengan IQ lebih rendah cenderung kurang bahagia dan memiliki kesehatan yang lebih buruk secara umum dibandingkan individu dengan IQ yang lebih tinggi.

Selain itu, ada juga para peneliti lainnya yang mengumpulkan dan mempelajari data dari Adult Psychiatric Survey, Inggris, 2007. Semua partisipan berusia minimal 16 tahun dan tinggal di rumah tangga dengan total informasi yang dimasukkan sebanyak 6.870 orang. Kebahagiaan dinilai berdasarkan pertanyaan yang telah divalidasi dengan skala tiga poin. Sementara IQ verbal diukur berdasarkan tes Membaca Orang Dewasa Nasional. Tim menganalisis IQ kategoris dan kontinu.

Para penulis menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara IQ dan tingkat kebahagiaan. Yakni orang dengan IQ terendah (IQ 70 hingga 99) ditemukan memiliki tingkat kebahagiaan yang paling buruk. Sedangkan orang dengan IQ tertinggi (IQ 120 hingga 129) ditemukan memiliki tingkat kebahagiaan tertinggi.

Terdapat beberapa faktor, seperti tingkat pendapatan, kesehatan, gejala neurotik, dan aktivitas kehidupan sehari-hari berdampak pada tingkat kebahagiaan seseorang. Faktor-faktor tersebut ternyata mengurangi hubungan antara kebahagiaan dan IQ sekitar setengahnya.

Sehingga dapat disimpulkan mereka yang memiliki IQ lebih rendah kurang bahagia dibandingkan mereka yang memiliki IQ lebih tinggi. Intervensi yang menargetkan variabel yang dapat dimodifikasi seperti pendapatan (misalnya dengan meningkatkan pendidikan dan kesempatan kerja). Juga gejala neurotik (misalnya dengan mendeteksi masalah kesehatan mental dengan lebih baik) dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan pada kelompok dengan IQ lebih rendah.

Baca juga: Sering Melamun? Hati-Hati dengan Maladaptive Daydreaming

 

Sumber:

Lower IQs Linked To Less Happiness. (2023). Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/250734

21 Uncomfortable Facts About How IQ Affects Your Life. (2023). Business Insider. https://www.businessinsider.com/facts-you-dont-want-to-know-iq-2011-11

Low IQ as a predictor of unsuccessful educational and occupational achievement: A register-based study of 1,098,742 men in Denmark 1968–2016. (2018, October 16). ScienceDirect. https://doi.org/10.1016/j.intell.2018.10.002

Signs & Symptoms of Intellectual Disabilities. (2023). Millcreek of Magee Treatment Center. https://www.millcreekofmagee.com/disorders/intellectual-disability/signs-causes-symptoms/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Ketahui Ciri dan Bahayanya Jika Memiliki IQ yang Rendah — DeepTalk