Semua artikel
Gangguan Psikologi

Kesulitan Menulis Pada Anak? Waspada Gangguan Disgrafia

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Gangguan belajar pada anak sering kali disalah artikan oleh orang tua dan guru. Hal tersebut akhirnya membuat anak tertekan karena tidak bisa memenuhi keinginan orang tua dan guru, khususnya dalam hal belajar. Anak sering dirasa memiliki IQ di bawah rata-rata atau mendapat cap “bodoh”, padahal cara mengejar yang diberikanlah yang salah.

Setiap anak tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Bagi anak dengan gangguan belajar, kekurangannya adalah dari segi gangguannya tersebut. Meski demikian, mereka sebenarnya tidak memiliki masalah dengan intelegensi. Hanya saja kemampuannya yang tidak memadai untuk mengikuti arahan yang sama dengan anak-anak pada umumnya.

Gangguan belajar yang paling sering didengar adalah disleksia, disgrafia, dan diskalkulia. Namun, pada artikel kali ini kami akan membahas khusus mengenai gangguan disgrafia. Sebelum lanjut membahasa mengenai gangguan belajar disgrafia, kami ingin menyampaikan bahwa artikel ini tidak bisa dijadikan rujukan sebagai bahan self diagnosis. Jika para pembaca merasa memiliki gejala yang disebutkan dalam artikel ini, segera konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Pengertian Disgrafia

Disgrafia merupakan gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan menulis atau mengeja. Dalam menulis, kita akan menggunakan fungsi motorik halus. Dimana motorik halus ini merupakan salah satu proses perkembangan yang perlu dilatih sejak dini. Sayangnya, anak dengan gangguan disgrafia mengalami masalah pada fungsi otak yang melibatkan keterampilan motorik halus tersebut.

Penderita gangguan disgrafia mengalami kesulitan untuk menyelaraskan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang haru ditulis. Hal ini mengakibatkan mereka menulis tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiran mereka. Selain menulis, mereka terkadang menggunakan kata-kata yang tidak tepat saat berkomunikasi.

Anak dengan gangguan disgrafia seringkali memiliki tulisan yang tidak rapi, bahkan sulit untuk dibaca. Hal tersebut membuat mereka terkesan bodoh dan malas di sekolah. Tidak jarang anak dengan gangguan disgrafia akhirnya memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup rendah. Mereka juga sering merasa cemas dan membenci dirinya sendiri.

Disgrafia dan disleksia memiliki gejala yang hampir sama. Pasalnya keduanya akan kesulitan menulis dan juga membaca. Dengan demikian untuk menentukan diagnosis yang tepat, perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih serius. Selain itu, disgrafia juga bisa dialami oleh anak-anak dan juga orang dewasa, walaupun gangguan ini lebih banyak dideteksi saat usia anak.

Baca juga: Mengenal Dampak dan Cara Menangani Penderita Gangguan Siklotimia

Jenis-Jenis Disgrafia

Secara garis besar, disgrafia terbagi ke dalam 2 kelompok. Masing-masing dari kelompok tersebut juga memiliki jenis-jenisnya tersendiri. Berikut jenis-jenis gangguan disgrafia yang dimaksud:

Acquired dysgraphia

Jenis gangguan disgrafia yang pertama ini merupakan gangguan menulis yang dialami oleh seseorang akibat cedera otak yang pernah terjadi. Seseorang yang menderita acquired dysgraphia sebelumnya sudah bisa menulis dengan baik. Namun karena kecelakaan atau lain hal yang mengakibatkan cedera otak, penderita akhirnya mengalami disgrafia. Gangguan disgrafia jenis Acquired dysgraphia ini terbagi ke dalam beberapa bagian lagi, yaitu:

·         Sentrografia, merupakan jenis disgrafia yang mempengaruhi aspek linguistik yang berguna dalam penulisan kata-kata. Sentrografia sendiri terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu:

Disgrafia fonologis, merupakan kondisi dimana rute fonologis terpengaruh. Akibatnya, kata-kata tidak dikenali secara keseluruhan. Namun, penderita disgrafia jenis ini masih dapat mengenal huruf dan suku kata.

Disgrafia visual, merupakan kondisi dimana visual dipengaruhi sehingga masih memungkinkan penderita untuk mengenal kata. Namun, kondisi ini membuat penderita tidak mampu memahami kata yang belum pernah dipahami. Penderita jenis disgrafia ini cenderung menulis dengan lambat, memiliki kesalahan pengejaan, dan masalah memori visual.

Disgrafia campuran, merupakan kondisi dimana visual dan fonologis terpengaruh. Dimana kondisi ini merupakan gabungan antara dua bagian sebelumnya.

·         Disgrafia didapat perifer, merupakan jenis disgrafia yang ditandai dengan kesulitan untuk mengingat gerapak yang diperlukan untuk membentuk suatu huruf, menulis kata, dan juga frasa.

Disgrafia evolusioner

Jenis gangguan disgrafia kedua ini merupakan kondisi disgrafia yang terjadi kepada anak-anak yang baru belajar menulis. Kondisi ini terjadi pada kasus anak atau dalam kasus luar biasa pada orang yang buta huruf.

Gangguan disgrafia jenis ini terbagi ke dalam 3 bagian, yaitu disgrafia evolusi fonologis, disgrafia evolusi superfisial, dan disgrafia campuran evolusi. Ketiga jenis disgrafia evolusioner ini sama dengan jenis disgrafia yang sudah dijelaskan sebelumnya. Hanya saja perbedaan yang mendasar adalah bagaimana gangguan disgrafia tersebut terjadi.

Setelah mengenal gangguan disgrafia dan macam-macam dari gangguan tersebut, diharapkan untuk orang tua dan guru agar lebih memahami anak. Pasalnya, anak pengidap gangguan disgrafia sering kali diberikan tuntutan untuk harus bisa menulis seperti anak-anak pada umumnya. Hal tersebut akan membuat anak berkecil hati dan merasa bodoh.

Jika beberapa kondisi di atas terdapat pada anak, sebaiknya orang tua segera mengkonsultasikan hal tersebut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan juga penanganan yang tepat.

Semoga artikel ini dapat membantu.

Baca juga: Ini Dia Dampak dan Cara Menangani Anak Penderita Disleksia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Kesulitan Menulis Pada Anak? Waspada Gangguan Disgrafia — DeepTalk