Semua artikel
Gangguan Psikologi

Kenali Variasi Gangguan Somatisasi Yang Berbeda Di Tiap Negara

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Gangguan somatisasi bukanlah gangguan baru dalam dunia kesehatan mental. Sejarah gangguan somatisasi dimulai pada tahun 1859 oleh Pierre Briquet. Gejala gangguan somatisasi dapat bervariasi antar budaya karena perbedaan cara orang bereaksi terhadap stres dan cara orang mengungkapkan emosi. Beberapa budaya mungkin lebih cenderung mengungkapkan emosi mereka melalui gejala fisik daripada melalui kata-kata. Variasi dalam cara orang mencari perhatian medis juga dapat memengaruhi prevalensi dan tipe gangguan somatisasi yang terjadi di berbagai negara.

Di berbagai negara, gangguan somatisasi dapat dianggap sebagai masalah kesehatan yang sangat penting, masalah psikologis yang serius, atau gangguan “kultural” yang terkait dengan stres sosial dan budaya. Namun, terlepas dari perbedaan ini, gangguan somatisasi tetap merupakan masalah kesehatan mental yang signifikan dan membutuhkan perhatian yang serius dari profesional kesehatan mental dan masyarakat luas.

Sejarah Gangguan Somatisasi

Gangguan somatisasi bukanlah gangguan yang baru ditemukan. Gangguan ini pertama kali ditemukan oleh seorang psikiater Prancis bernama Pierre Briquet pada tahun 1859. Briquet mengamati sejumlah pasien yang mengeluhkan keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Briquet menggambarkan keluhan-keluhan ini sebagai “sindrom Briquet”. Pada awalnya, sindrom Briquet hanya dianggap sebagai masalah medis, bukan masalah psikologis.

Namun, pada tahun 1980, American Psychiatric Association (APA) memasukkan gangguan somatisasi ke dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-III). Saat itu, gangguan somatisasi masih disebut sebagai “gangguan somatoform”. Kemudian, pada DSM-IV, gangguan somatisasi didefinisikan sebagai keluhan fisik yang tidak memiliki penyebab medis yang jelas dan seringkali disertai dengan penderitaan atau gangguan sosial atau pekerjaan yang signifikan.

Kenapa Gejala Gangguan Somatisasi Bervariasi Antar Budaya?

Gejala gangguan somatisasi dapat bervariasi antar budaya karena adanya perbedaan dalam cara orang bereaksi terhadap stres dan cara orang mengungkapkan emosi. Beberapa budaya mungkin lebih cenderung mengungkapkan emosi mereka melalui gejala fisik daripada melalui kata-kata. Sebagai contoh, beberapa budaya Asia mungkin lebih cenderung mengungkapkan stres melalui gejala fisik seperti sakit kepala atau sakit perut, sementara beberapa budaya Barat mungkin lebih cenderung mengungkapkan stres melalui kata-kata.

Selain itu, budaya juga dapat memengaruhi cara orang mencari perhatian medis. Beberapa budaya mungkin lebih cenderung mencari perhatian medis untuk keluhan fisik, sementara budaya lain mungkin lebih cenderung mencari perhatian medis untuk keluhan emosional. Hal ini dapat memengaruhi prevalensi dan tipe gangguan somatisasi yang terjadi di berbagai negara.

Baca juga: Strategi Mengelola Stres dan Kecemasan Akibat Procrastination

Variasi Gangguan Somatisasi di Berbagai Negara

Gangguan Somatisasi di Asia

Di beberapa negara Asia seperti China dan Jepang, gangguan somatisasi seringkali dianggap sebagai masalah kesehatan yang sangat penting. Beberapa pasien bahkan mungkin merasa malu untuk mencari bantuan medis karena khawatir akan dianggap sebagai orang yang lemah atau tidak mampu mengatasi stres. Selain itu, di beberapa negara Asia, gangguan somatisasi seringkali dianggap sebagai gangguan “kultural” yang terkait dengan stres sosial dan budaya.

Gangguan Somatisasi di Afrika

Di Afrika, gangguan somatisasi seringkali dianggap sebagai masalah medis yang serius. Namun, karena keterbatasan sumber daya dan infrastruktur kesehatan yang tidak memadai, banyak pasien yang mengalami gangguan somatisasi tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Gangguan Somatisasi di Amerika Latin

Di Amerika Latin, gangguan somatisasi seringkali dianggap sebagai masalah psikologis yang serius. Namun, karena kurangnya akses ke layanan kesehatan mental dan stigma yang terkait dengan masalah psikologis, banyak pasien yang mengalami gangguan somatisasi tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Gangguan Somatisasi di Barat

Di beberapa negara Barat, gangguan somatisasi seringkali dianggap sebagai gangguan psikologis yang serius dan seringkali diobati dengan terapi perilaku kognitif atau obat-obatan psikologis. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa gangguan somatisasi juga dapat terjadi pada tingkat yang tinggi di negara-negara Barat, terutama pada kelompok-kelompok yang kurang terlayani atau terpinggirkan.

Lalu Bagaimana Variasi Gangguan somatisasi di Indonesia?

Gangguan somatisasi juga merupakan masalah yang signifikan di Indonesia, dan seperti di negara-negara lain, gejalanya dapat bervariasi antar budaya. Di Indonesia, gangguan somatisasi seringkali disebut sebagai masalah kesehatan yang terkait dengan stres budaya dan lingkungan. Beberapa variasi dari gangguan somatisasi di Indonesia antara lain:

Gangguan Somatisasi terkait Kepercayaan dan Budaya

Beberapa gangguan somatisasi di Indonesia terkait dengan kepercayaan dan budaya. Misalnya, kepercayaan akan adanya santet atau ilmu hitam yang dapat membuat seseorang jatuh sakit. Orang yang percaya akan hal tersebut dapat mengalami gejala fisik yang bervariasi seperti sakit kepala, demam, dan muntah-muntah. Mereka mungkin mengunjungi dukun atau orang pintar sebagai alternatif dari mengunjungi dokter.

Gangguan Somatisasi di Masyarakat Adat

Di Indonesia, ada beberapa kelompok masyarakat adat yang masih menjaga kepercayaan dan budaya mereka yang khas. Beberapa kelompok masyarakat adat di Indonesia percaya bahwa roh-roh dan makhluk gaib dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Orang dengan gangguan somatisasi dapat mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, mual, dan kelelahan, yang kemudian dihubungkan dengan kehadiran roh atau makhluk gaib dalam tubuh mereka.

Baca juga: Quarter Life Crisis : Mengala Bisa Menyerang Banyak Generasi Muda?

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Kenali Variasi Gangguan Somatisasi Yang Berbeda Di Tiap Negara — DeepTalk