Semua artikel
Perilaku

Kenali Gejala dan Penanganan Hoarding Disorder

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Saat berbelanja di supermarket dan menerima struk belanja, apakah kamu tipe yang menyimpan struk belanja? Atau, apakah kamu suka menyimpan segala jenis barang walaupun barang itu tidak berguna?  Jika iya, maka kamu harus waspada. Pasalnya, kebiasaan menyimpan barang-barang yang tidak berguna bisa jadi salah satu gejala dari masalah kesehatan mental yang kita kenal dengan istilah hoarding disorder.

Hoarding disorder adalah sebuah kondisi dimana seseorang memiliki kebiasaan untuk menimbun atau menyimpan barang-barang yang pada umumnya tidak berguna. Orang tersebut beranggapan bahwa bisa jadi barang tersebut akan bermanfaat di masa depan, atau mereka memiliki ikatan emosional dengan barang-barang tersebut. Namun sayangnya, kebiasaan menimbun barang ini justru mengakibatkan penumpukan barang dan ruangan yang terasa sempit. Bahkan beberapa penderita hoarding disorder juga mengalami masalah dengan kebersihan, karena beberapa dari mereka juga tidak mampu untuk melepaskan diri dengan sampah-sampah yang seharusnya dibuang.

Kamu mungkin pernah mendengar berita mengenai orang yang mengurung diri di dalam kamar bersama sampah-sampah bekas makanan dan baju-baju kotor di sekelilingnya. Kondisi semacam itu bisa jadi salah satu kasus dari hoarding disorder.

Hoarding disorder juga bisa disebabkan oleh beberapa gangguan mental, misalnya hoarding disorder pada penderita depresi. Para penderita depresi mengalami kesedihan mendalam dan enggan untuk melakukan aktivitas yang umumnya mereka lakukan. Tidak jarang dari mereka memutuskan untuk mengurung diri di dalam kamar. Beberapa dari mereka juga ditemukan dalam keadaan barang-barang yang berantakan dan menumpuk di sekeliling mereka. Disisi lain, kondisi hoarding disorder juga bisa diperburuk dengan timbulnya depresi. Dengan demikian, kedua kondisi mental ini saling berkaitan satu sama lain.

Selain depresi, kondisi hoarding disorder juga bisa disebabkan oleh kejadian meninggalnya orang tersayang. Barang-barang yang menjadi peninggalan mendiang yang disayangi itu dirasa memiliki ikatan emosional dengan penderita. Hal inilah yang akhirnya membuat penderita enggan untuk membuang barang-barang peninggalan mendiang, terlepas dari butuh atau tidaknya mereka dengan barang-barang tersebut.

Selain kedua kondisi kesehatan mental tersebut, tentu masih banyak lagi hal-hal yang menyebabkan seseorang mengalami hoarding disorder. Sayangnya, walaupun kondisi hoarding disorder ini sudah bisa diprediksi dengan melihat pola perilaku dan gaya hidup penderitanya, penderita hoarding disorder sendiri justru tidak menyadari adanya hal yang salah dari dirinya. Untuk itu diperlukan peran orang-orang disekitar untuk menyadarkan penderita.

Demi menambah wawasan mengenai kondisi hoarding disorder, kami akan membahas mengenai gejala dan cara penanganan pada penderita hoarding disorder berikut.

Baca juga : Hoarding Disorder : Kebiasaan Menimbun Barang

Gejala Hoarding Disorder

Melihat dari pengertian hoarding disorder itu sendiri, maka dapat disimpulkan bahwa gejala utama dari kondisi ini adalah adanya perilaku atau kebiasaan menumpuk barang. Untuk lebih spesifiknya, berikut beberapa gejala dari hoarding disorder:

·         Cenderung mengambil dan menyimpan barang-barang yang tidak bernilai atau hanya memiliki nilai kecil. Misalnya menyimpan majalah atau koran bekas, bungkus makanan, atau pakaian kotor.

·         Mengalami kesulitan untuk mengatur atau menata barang yang dimiliki. Hal ini biasanya disebabkan oleh banyaknya barang yang terkadang terlalu memenuhi ruangan.

·         Mengalami kesulitan dalam pengambilan keputusan.

·         Harus memiliki usaha yang besar untuk dapat mengerjakan pekerjaan harian, seperti memasak, atau membersihkan rumah. Maka tidak heran jika kita menemukan penderita hoarding disorder yang hanya menghabiskan banyak waktu di tempat tidur.

·         Merasakan ikatan psikologis dengan semua barang-barang yang dikumpulkan. Hal inilah yang membuat mereka tidak mampu untuk membuang atau memberikan barang-barang yang dikumpulkan kepada orang lain.

·         Cenderung tertutup dan menarik diri dari orang-orang sekitar.

·         Walau suka mengumpulkan barang dan terkesan jorok, mereka tidak ingin orang lain mengetahui hal tersebut. Hal inilah yang membuat mereka menjadikan rumah atau kamar sebagai ruangan yang sangat privasi dan tidak mengijinkan orang lain memasukinya.

Penanganan Pada Penderita Hoarding Disorder

Seperti yang sudah dipaparkan di awal bahwa banyak penderita hoarding disorder yang tidak mendapatkan penanganan akibat merasa hal tersebut bukan suatu gangguan. Meski demikian, penderita hoarding disorder harus mendapatkan penanganan yang tepat untuk meminimalisir masalah kesehatan lainnya.

Untuk bisa mendapatkan penanganan, penderita harus melakukan pemeriksaan dengan ahli seperti Psikolog atau Psikiater. Dari pemeriksaan baru akan ditentukan diagnosa dan penanganan yang tepat. Meski demikian, jenis penanganan yang umum digunakan untuk penderita hoarding disorder adalah dengan mengikuti terapi perilaku kognitif (CBT).

Terapi perilaku kognitif adalah salah satu psikoterapi yang mampu membantu seseorang dalam memperbaiki pola pikir dan perilaku agar menjadi lebih positif. Dalam hal ini, pola pikir mengenai berharganya barang-barang yang dikumpulkan akan dibenahi, dan perilaku mengumpulkan barang juga akan diarahkan ke hal-hal yang lebih positif.

Meski demikian, jenis penanganan apapun yang diberikan kepada penderita tetap harus mendapatkan keinginan kuat dari penderita itu sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk itu, dukungan dari orang terdekat juga menjadi sangat penting.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai gejala dan penanganan pada penderita hoarding disorder. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Waspada Dampak Overthinking dan Kenali Cara Mengatasinya

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Kenali Gejala dan Penanganan Hoarding Disorder — DeepTalk