Deeptalk.co.id – Istilah bystander effect memang cukup jarang kita dengar. Meski demikian, fenomena bystander effect ini beberapa kali terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bystander effect sendiri merupakan sebuah fenomena dalam psikologi sosial. Dimana pada fenomena tersebut seseorang yang membutuhkan pertolongan justru tidak mendapatkan pertolongan, padahal banyak orang yang menyaksikannya dalam kesulitan.
Contoh bystander effect yang mungkin pernah kita saksikan atau dengarkan adalah saat seorang korban kecelakaan kendaraan bermotor dikelilingi oleh para saksi. Namun sayangnya, dari banyaknya saksi tersebut tidak ada yang bergerak untuk menolong korban. Kondisi semacam ini tidak hanya karena minimnya empati orang sekitar, namun juga bisa jadi karena semua orang berpikiran bahwa akan ada orang yang menolong korban tersebut.
Fenomena bystander effect ini tentu akan memperburuk situasi sosial. Dimana pelaku akan dengan bebas berkeliaran karena tidak mendapatkan perlawanan dari masyarakat. Untuk itu, penting bagi kita mengenai seperti apa bystander effect itu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai topik-topik tersebut.
Fenomena bystander effect ini tentu tidak muncul begitu saja, melainkan bisa saja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Untuk itu, berikut beberapa faktor yang bisa saja memperbesar peluang terjadinya fenomena bystander effect:
Faktor Internal

Faktor pernama adalah faktor internal atau faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Dalam hal ini, dalam diri yang dimaksud adalah dalam diri orang-orang yang menyaksikan orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Faktor internal dalam hal ini terbagi lagi ke dalam beberapa bagian, diantaranya :
Perasaan
Faktor internal pertama adalah perasaan. Perasaan, yaitu perasaan positif dan negatif. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang memiliki perasaannya masing-masing. Dalam hal ini, orang-orang dengan perasaan positif cenderung memiliki pola komunikasi yang baik, empati yang tinggi, dan rasa yang besar untuk menolong sesama. Sedangkan orang dengan perasaan negatif cenderung cuek dan memiliki pola perilaku yang tidak konsisten. Orang-orang dengan perasaan negatif inilah yang bisa memicu terjadinya fenomena bystander effect.
Karakter
Faktor internal kedua adalah karakter. Karakter, yaitu ciri khas seseorang dalam berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Beberapa orang memang memiliki karakteristik yang baik dalam membantu orang lain. Misalnya orang-orang dengan karakter pemaaf dan dermawan. Namun orang dengan karakter sebaliknya justru cenderung cuek akan apa yang dialami oleh orang lain. Orang-orang dengan karakter semacam itulah yang bisa memicu terjadinya bystander effect.
Baca juga : Bystander Effect : Fenomena Psikologi Sosial yang Membuat Seseorang Kesulitan Mendapat Pertolongan
Agama
Faktor internal ketiga adalah agama. Agama, yaitu keyakinan atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dengan keimanan yang baik terhadap suatu agama cenderung memiliki empati yang baik juga terhadap sesama manusia. Namun walaupun tidak semua, namun orang-orang yang tidak memiliki keimanan terhadap agama tertentu bisa memicu terjadinya bystander effect.
Jenis kelamin
Faktor internal keempat adalah jenis kelamin. Seperti yang kita ketahui terdapat dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Deaux, Dane, dan Wrightsman membuktikan bahwa laki-laki lebih terlibat aktif dalam membantu orang lain dibandingkan dengan perempuan.
Faktor Eksternal

Faktor kedua yang mempengaruhi fenomena bystander effect adalah faktor eksternal. Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri seseorang. Dalam hal ini, luar diri yang dimaksud adalah luar diri orang-orang yang menyaksikan orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Faktor eksternal dalam hal ini terbagi lagi ke dalam beberapa bagian, yaitu:
Jumlah saksi
Semakin banyak saksi yang ada dalam sebuah TKP maka akan semakin besar tanggung jawab yang tersebar. Artinya, semua orang memiliki tanggung jawab untuk membantu korban. Hasilnya semua orang saling berharap agar orang lain segera membantu korban. Akhirnya terjadilah fenomena bystander effect.
Kesamaan
Tanpa kita sadari, saat melihat orang dengan kesamaan ras, agama, suku, budaya, dan lain sebagainya, Akan mendorong kita untuk menolong orang tersebut. Namun hal ini juga bisa memicu fenomena bystander effect jika orang yang membutuhkan bantuan adalah orang yang tidak memiliki kesamaan dengan saksi.
Penilaian orang lain
Beberapa orang menaruh perhatian lebih terhadap penilaian orang lain. Sayangnya dalam situasi sosial, langkah yang kita ambil bisa menjadi penilaian terhadap orang lain. Penilaian-penilaian negatif inilah yang terkadang bisa memicu fenomena bystander effect.
Tingkat bahaya
Tidak semua orang memiliki kapasitas yang baik dalam menolong orang, khususnya orang dalam kondisi darurat. Misalnya saat dalam kasus kecelakaan kendaraan bermotor, kesalahan pertolongan pertama justru bisa memicu kesalahan fatal kedepannya. Untuk itulah banyak orang yang mengurungkan niat membantu karena merasa tidak memiliki kapasitas cukup dalam membantu dalam situasi dengan tingkat bahaya yang tinggi.
Itu dia beberapa faktor yang bisa memicu fenomena bystander effect. Semoga dengan artikel ini kita mendapatkan informasi penting, dan dapat membantu untuk kedepannya.
Baca juga : Mengenal Cara Mengatasi Trauma Psikologis Akibat Kekerasan
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



