Deeptalk.co.id – Shopaholic adalah salah satu gangguan kontrol impuls yang ditandai dengan kegiatan berbelanja yang tidak bisa dikontrol. Kondisi ini bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan, namun pada dasarnya kondisi shopaholic lebih sering dialami oleh perempuan.
Dalam dunia psikologis, shopaholic dikenal dengan istilah compulsive buying disorder (CBD) atau gangguan belanja kompulsif. Selain itu, kondisi yang sama juga memiliki istilah lain yaitu kecanduan berbelanja.
Sama halnya dengan kecanduan lainnya, saat berbelanja penderita shopaholic memproduksi hormon dopamin dan hormon endorfin. Diproduksinya kedua hormon tersebut akan meningkatkan perasaan bahagia dalam diri seseorang. Maka tidak heran jika kondisi stress bisa memperparah kecanduan berbelanja seorang penderita shopaholic.
Shopaholic juga mendatangkan berbagai dampak negatif, baik untuk diri sendiri, maupun orang-orang disekitarnya. Untuk itu penting bagi kita mengetahui bagaimana cara mengatasi perilaku kompulsif yang satu ini.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai dampak dan cara penanganan pada penderita shopaholic. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala shopaholic, maka segera lakukan konsultasi atau pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai dampak dan penanganan pada penderita shopaholic.
Dampak Shopaholic

Sama halnya dengan masalah kesehatan mental lainnya, kondisi yang dialami oleh penderita shopaholic juga memberikan dampak negatif. Baik itu dampak negatif untuk diri sendiri, maupun orang-orang disekitarnya. Berikut beberapa dampak yang ditimbulkan oleh kondisi shopaholic:
Perasaan menyesal
Penderita shopaholic memang merasakan kebahagiaan yang cukup besar setelah berbelanja. Sayangnya kondisi yang dialami setelahnya justru membuat mereka merasa menyesal. Dari penyesalan itu pula timbul emosi negatif lainnya, seperti rasa malu, kecewa, merasa bodoh, sedih, dan lain sebagainya.
Perasaan-perasaan negatif tersebut dirasakan seiring dengan sadarnya mereka akan dampak dari perilaku belanja yang dilakukan. Bahkan kebanyakan barang yang dibeli bukan termasuk kebutuhan pokok. Mereka juga berusaha untuk mengembalikan barang-barang tersebut, atau menyingkirkannya dengan berbagai cara.
Baca juga : Hobi Berbelanja? Waspada Gejala Shopaholic!
Siklus yang berulang
Penderita shopaholic akan merasa senang saat berbelanja. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa bebelanja akan membuat tubuh memproduksi hormon dopamin dan endorfin. Namun setelah itu mereka akan merasakan penyesalan, sedih, dan berbagai emosi negatif lainnya.
Sayangnya, penderita shopaholic justru melampiaskan emosi negatifnya dengan berbelanja. Harapannya mereka akan mampu mengabaikan emosi negatif tersebut. Tindakan tersebut akan terus berulang seperti itu. Hasilnya, penderita bagai terjebak dalam lingkaran setan yang tidak ada habisnya.
Masalah keuangan
Berbelanja terus-menerus tentu akan membutuhkan banyak uang. Hal inilah yang membuat penderita shopaholic sering kali mengalami masalah keuangan. Penderita shopaholic tidak kuasa untuk mengontrol perilaku berbelanjanya. Dengan demikian mereka akan menggunakan berbagai macam cara untuk bisa mendapatkan uang.
Perkembangan teknologi juga memudahkan seseorang dalam berbagai hal. Termasuk dalam melakukan pinjaman. Sayangnya tindakan ini tidak selamanya benar. Justru tidak sedikit penderita shopaholic yang akhirnya terlilit hutang. Mereka juga akan menyusahkan keluarga, pasangan, dan orang-orang terdekatnya akibat perilaku tersebut.
Terlibat masalah kriminal
Seperti yang sudah dibahas di atas bahwa penderita shopaholic akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan uang. Hal ini dilakukan demi memenuhi keinginan berbelanja yang tidak bisa dikendalikan.
Dalam kasus yang sudah cukup berat, penderita shopaholic justru bisa terlibat dalam masalah kriminal. Mereka akan mencoba untuk mencuri uang, atau mengambil barang yang mereka inginkan. Hal ini akan membuat mereka berurusan dengan hukum
Penanganan Pada Penderita Shopaholic

Kondisi penderita shopaholic memang sekilas cukup sederhana. Namun pada kenyataannya kondisi ini justru bisa menjadi pertanda berbagai masalah kesehatan mental yang lebih serius. Misalnya gejala depresi, stress berlebih, gangguan kecemasan, dan lain sebagainya. Untuk itu, cara penanganan pada penderita shopaholic yang paling baik adalah dengan melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut oleh psikolog atau psikiater.
Pemeriksaan oleh para ahli ini diperlukan untuk mengidentifikasi diagnosis apa yang sebenarnya penderita alami. Selain itu, hal ini juga bisa menentukan metode penanganan yang paling tepat untuk penderita.
Namun, kamu juga bisa melakukan beberapa metode penanganan secara pribadi, misalnya dengan beberapa cara berikut:
· Menyadari kesalahan dari perilaku berbelanja yang tidak terkontrol.
· Meminta bantuan keluarga atau orang terdekat untuk mengontrol pengeluaran keuangan.
· Melakukan teknik relaksasi untuk mengatasi stress, agar tidak mengalihkan stress dengan berbelanja.
· Hindari penggunaan kartu kredit, mobile banking, dan metode pembayaran instan lainnya akan akan mempermudah proses transaksi.
· Berbelanja dengan keluarga atau orang terdekat yang mampu mengontrol aktivitas belanja.
Itu dia beberapa dampak dan penanganan pada penderita shopaholic. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Shopaholic : Perilaku Belanja yang Tidak Terkontrol
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



