Deeptalk.co.id – Secara medis, trauma didefinisikan dengan kondisi ketika seseorang mengalami suatu peristiwa sehingga memicu respon untuk melawan atau melarikan diri. Itu merupakan respon alami dari tubuh manusia untuk menghadapi bahaya yang terjadi secara tiba-tiba.
Namun, sebagian besar orang awam memaknai trauma sebagai suatu pengalaman yang menyakitkan secara emosional dan fisik yang dapat berdampak panjang pada seseorang. Pengalaman tersebut terjadi akibat beberapa macam hal, misalnya seperti kecelakaan, kekerasan, bencana alam atau ketika kehilangan orang terdekat.
Setiap orang pasti bereaksi terhadap suatu trauma. Selain itu ada beberapa jenis trauma yang terjadi pada setiap orang dengan cara yang berbeda pula. Jika trauma yang dialami terjadi dalam jangka waktu yang berkepanjangan dan sulit diatasi, tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik seseorang.
Meskipun trauma dapat mempengaruhi orang dalam berbagai cara yang berbeda, penting bagi mereka yang mengalami trauma untuk mengetahui bahwa bantuan dan dukungan tersedia. Selain itu, penting juga untuk mengetahui beberapa jenis dari trauma sebagai langkah pencegahannya agar tidak berdampak lebih buruk.

Jenis-Jenis Trauma
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa setiap orang bisa jadi mengalami trauma dengan caranya yang berbeda-beda. Sehingga secara umum, trauma dibagi menjadi dua kategori. Diantaranya yakni trauma langsung dan tidak langsung.
Trauma langsung terjadi ketika seseorang mengalami dan menyaksikan suatu pengalaman atau peristiwa yang kemudian menjadi trauma secara langsung. Ini bisa terjadi akibat seseorang langsung terlibat dalam peristiwa traumatik yang membekas pada memorinya.
Sedangkan trauma tidak langsung ialah ketika seseorang tidak secara fisik mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis namun mereka tetap terkena dampaknya. Contohnya, ketika menonton berita penembakan di sebuah televisi, atau ketika mendengar tentang seseorang yang dicintai tiba-tiba mengalami kecelakaan.
Perbedaan utama dari kedua jenis trauma ini terletak pada pengalaman yang disaksikan atau dialaminya, yang keduanya sama-sama bisa membekas pada diri seseorang. Lalu, bagaimana dengan tipe lainnya?
Dikutip dari Psychodelic, terdapat 7 jenis trauma yang bisa dialami manusia. Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Big “T” Trauma
Big “T” trauma atau bisa disebut juga sebagai trauma tipe 1 atau trauma akut merupakan trauma yang terjadi karena satu kejadian dan peristiwa tersebut sering muncul secara tiba-tiba. Trauma ini membawakan peristiwa tunggal yang terjadi satu kali, ekstrem dan biasanya memiliki waktu terbatas.
Trauma jenis ini dibedakan sebagai peristiwa luar biasa dan signifikan sehingga membuat penderitanya merasa tidak berdaya dan memiliki sedikit kendali di lingkungannya. Beberapa contoh pemicunya seperti penyakit atau cedera parah, serangan kekerasan, pelecehan seksual, perampokan, sebagai korban bencana alam, kecelakaan pesawat dan lain sebagainya.
Akibat peristiwa yang dinilai berat dan membahayakan ini, trauma bisa menyusahkan dan cukup mengancam keamanan emosional atau fisik seseorang. Ini juga dapat membanjiri kapasitas respons emosional mereka.
Ketika respon emosional seseorang telah kewalahan, perilaku penghindaran pun secara otomatis muncul. Sehingga orang tersebut menjadi berperilaku dengan cara meminimalkan kesusahan atau hal-hal yang memicu ingatan akan peristiwa traumatis. Tak hanya itu, penderitanya pun bisa mengalami tekanan yang parah dan mengganggu fungsi tubuh sehari-hari.
Baca juga: Histrionic Personality Disorder: Gangguan Kepribadian yang Manipulatif

2. Small “T” Trauma
Atau biasa dikenal dengan trauma kecil, merupakan pengalaman sehari-hari dan biasanya merupakan bagian dari kehidupan. Walaupun biasa terjadi di kehidupan sehari-hari, kemungkinan peristiwanya bisa menjadi suatu hal yang traumatis bagi seseorang.
Beberapa contohnya yakni ketika kehilangan orang yang dicintai, pindah ke lingkungan baru, perceraian, kehilangan pekerjaan, dan masih banyak lagi. Jenis-jenis peristiwa ini memang tidak mengancam tubuh atau jiwa secara serius. Namun, mereka juga dianggap dapat mengancam ego karena insidennya membuat seseorang merasa tidak berdaya.
3. Trauma Kronis
Trauma kronis, kadang-kadang juga disebut “repetitive trauma”, berasal dari paparan peristiwa traumatis yang dapat terjadi berulang, berkelanjutan, dan / atau berkepanjangan selama periode waktu yang lama. Peristiwanya dapat membanjiri respons emosional seseorang dan pada beberapa kasus, peristiwanya dapat terjadi bertumpukan dengan peristiwa lain.
Jenis trauma ini juga dapat merujuk pada situasi di mana kekerasan atau pengalaman menyedihkan tidak diarahkan, namun mengelilingi seseorang. Contohnya adalah tinggal di lingkungan yang penuh kekerasan, wilayah yang dilanda perang, atau negara apartheid.
Trauma kronis atau akut ini bisa memperlihatkan gejala yang berkisar pada masalah kepercayaan yang memengaruhi hubungan sosial atau pekerjaan. Hingga kecemasan, kemarahan ekstrem, kelelahan, mual dan lain-lain.
4. Trauma Kompleks
Trauma kompleks atau trauma tipe 2 ini muncul akibat kontak yang terlalu lama dengan insiden yang berkelanjutan, luar biasa dan sangat menyusahkan. Hal ini paling sering terjadi dalam konteks hubungan interpersonal dengan ciri umumnya terjadi pada tahap masa awal pertumbuhan manusia atau kanak-kanak.
Jenis trauma ini terjadi selama periode waktu tertentu dan seseorang mungkin terjebak secara emosional serta fisik. Penderita seolah-olah dipaksa atau tidak berdaya untuk mencegah dan mengatasi trauma. Hingga pada akhirnya trauma kompleks ini mengganggu keterikatan dan perkembangan kesehatan.
Trauma kompleks kerap dikaitkan dengan Complex Post-Traumatic Stres Disorder (CPTSD). Hal ini bisa menyebabkan kesehatan seseorang menjadi lebih buruk secara keseluruhan, ketidakstabilan dalam hubungan sosial, serta masalah kinerja baik di sekolah maupun tempat kerja.
5. Insidious Trauma
Insidious trauma atau trauma berbahaya adalah subtipe dari trauma kronis. Trauma ini mengacu pada insiden marginalisasi, objektifikasi, dehumanisasi, intimidasi, dan lain-lain di kehidupan sehari-hari. Ini biasanya dialami oleh anggota kelompok sasaran rasisme, heteroseksisme, usia, kemampuan fisik, seksisme, dan bentuk penindasan lainnya, serta kelompok yang terkena dampak kemiskinan.
Efek dari jenis trauma ini mungkin tidak terlalu mengancam tubuh atau jiwa dan masih dapat memiliki efek buruk pada mental. Terkadang pun memiliki kesamaan dengan trauma budaya/sejarah/kolektif/antargenerasi.

6. Trauma Budaya, Sejarah, Kolektif, atau Antargenerasi
Jenis trauma ini dikumpulkan menjadi trauma kelompok atau kolektif yang berada di bawah satu istilah, dengan sedikit variasi dalam kriteria dan semantik. Jenis trauma kolektif ini cenderung kurang disadari dan juga dapat dipecah menjadi beberapa definisi dan tipe antar individu.
Penderita trauma ini umumnya akan mengalami kesulitan emosional atau psikologis yang kemudian memengaruhi berbagai kelompok, budaya, komunitas dan generasi. Pola adaptive coping yang digunakan pun kerap diwariskan dari generasi ke generasi. Contohnya mungkin seperti rasisme, perbudakan, genosida, perang saudara dan lain-lain.
Jenis trauma antar generasi ini menggambarkan kesulitan dan tekanan psikologis atau emosional yang dialami orang yang tinggal bersama orang lain yang pernah mengalami trauma. Itu juga dapat terjadi dalam keluarga yang sama, dan bisa diturunkan pada generasi selanjutnya.
7. Trauma Sekunder
Trauma sekunder termasuk kedalam trauma tidak langsung. Istilah sekunder merujuk pada trauma yang terjadi atau dialami secara tidak langsung oleh seseorang.
Jika didefinisikan lebih lanjut, trauma sekunder dapat terjadi dengan melihat laporan berita yang gamblang, acara televisi yang mengerikan atau menakutkan dan berbagai media lainnya, mendengar cerita traumatis yang mendetail dari orang lain, atau melihat bukti TKP. Seseorang dapat secara tidak langsung dipengaruhi oleh konten atau visual dari penderitaan beberapa makhluk hidup lainnya yang telah mereka saksikan.
Selain itu, trauma sekunder terjadi ketika seseorang berbicara dengan orang yang pernah mengalami atau menyaksikan trauma secara langsung. Pendengar dapat mengalami trauma perwakilan dan bahkan mungkin memiliki gejala yang sama dengan orang yang menjelaskan trauma tersebut.
Baca juga: Kenapa Di Bulan Ramadhan Dapat Memunculkan Emosi Positif?
Sumber:
Know the 7 Types of Trauma Like a Psychotherapist. (2023, March 6). https://psychedelic.support/resources/know-the-7-types-of-trauma-like-a-psychotherapist/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



