Deeptalk.co.id – Tak memandang usia, gangguan kesehatan mental dapat terjadi pada siapa saja. Termasuk anak-anak yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap selalu bahagia, padahal juga bisa mengalaminya. Bahkan ada beberapa gangguan kesehatan mental yang sebagian besar dialami oleh anak-anak.
Masa kanak-kanak merupakan waktu dimana manusia tengah mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara kognitif. Pada tahap ini, usia anak-anak kerap mengalami perubahan dengan cepat pada berbagai aspek, baik fisik maupun emosional. Sebagai orang tua, penting untuk memastikan juga kesehatannya terutama pada kesehatan mental. Jika tidak, kondisi kesehatan mental yang tidak sehat dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.
Perlu diwaspadai juga bahwa masa anak-anak menjadi usia yang rentan terkena gangguan kesehatan mental. Studi terbaru dengan mengikutkan anak-anak sejak lahir hingga dewasa, menunjukkan bahwa sebagian besar gangguan kesehatan mental orang dewasa dimulai pada masa kanak-kanak dan remaja. WHO pun menyebutkan secara global, diperkirakan 1 dari 7 anak atau sekitar 14% anak di seluruh dunia yang berusia 10-19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental, namun sebagian besar tidak dikenali dan tidak diobati.
Asumsi masyarakat yang menyebutkan bahwa anak-anak dan remaja selalu bahagia dan tidak memiliki beban seberat orang dewasa, membuat gangguan kesehatan mental pada anak tersebut diabaikan. Padahal anak dan remaja dengan kondisi kesehatan mental sangat rentan terhadap pengucilan sosial, diskriminasi, stigma negatif (mempengaruhi kesiapan untuk mencari bantuan), kesulitan pendidikan, perilaku pengambilan risiko, kesehatan fisik yang buruk dan pelanggaran hak asasi manusia.
Ditambah dengan sebuah penelitian yang menyebutkan sebanyak 20% anak dan remaja memiliki gangguan mental dan didiagnosis dapat menyebabkan penurunan pada diri mereka. Jika tidak segera disadari lalu ditangani, kemungkinan buruknya akan berdampak hingga mereka dewasa nanti.
Baca juga: Emotional Manipulative : Berikut Ciri-Ciri yang Perlu Diwaspadai

Macam-Macam Gangguan Kesehatan Mental Pada Anak dan Remaja
Gangguan mental pada anak-anak sebenarnya mudah untuk dikenali. Biasanya hal ini digambarkan dengan adanya perubahan serius dalam cara anak ketika belajar, berperilaku, bersosialisasi baik di lingkungan rumah maupun sekolah yang menyebabkan mereka merasa kesusahan dalam menjalani hari.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan ada beberapa gangguan kesehatan mental yang sering terjadi pada masa kanak-kanak. Berikut diantara gangguan mental tersebut beserta gejalanya yang penting untuk dikenali dalam membantu mencegah terjadinya gangguan kesehatan yang lebih buruk.
Anxiety atau Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan yang kerap dialami oleh anak-anak terlihat ketika mereka kesulitan dalam mengatasi atau kekhawatiran yang khas dalam diri mereka. Mereka merasa ada banyak ketakutan dan kekhawatiran yang bahkan mengganggu kegiatan sehari-hari, baik di sekolah, rumah atau ketika bermain bersama teman-teman.
Selain itu, ada beberapa contoh perilaku yang bisa menunjukkan bahwa anak tengah mengalami anxiety atau gangguan kecemasan, diantaranya :
– Menjadi sangat takut saat jauh dari orang tua (separation anxiety)
– Memiliki ketakutan yang ekstrim akan suatu hal atau situasi tertentu (fobia)
– Sangat takut dengan tempat-tempat tertentu seperti sekolah yang terdapat banyak orang (social anxiety)
– Sering mengkhawatirkan akan masa depan atau hal-hal buruk yang kemungkinan terjadi (general anxiety)
– Mengalami episode ketakutan yang tiba-tiba, tak terduga bahkan terjadi secara intens dan berulang-ulang. Disertai dengan gejala lain seperti jantung berdebar, kesulitan bernapas, atau merasa pusing, gemetar serta berkeringat (panic attack)
Anxiety bisa ditandai juga sebagai rasa takut dan khawatir hingga membuat anak menjadi mudah tersinggung dan marah. Tak hanya itu, saking takut dan khawatirnya si anak, membuat mereka kesulitan tidur sampai mengalami kelelahan fisik, sakit kepala hingga sakit perut. Beberapa anak yang cemas menyimpan kekhawatiran mereka sendiri sehingga gejalanya bisa terlewatkan.
Depresi

Anak juga bisa merasakan sedih dan putus asa dalam kehidupannya. Akan tetapi, ada beberapa anak yang mengalami kesedihan dengan level yang lebih daripada itu, dimana mereka bahkan sedih hingga tidak tertarik pada hal-hal yang biasa mereka sukai. Anak-anak juga merasa tidak berdaya atau putus asa dalam situasi yang dapat mereka ubah. Kondisi kesedihan dan keputusasaan secara mendalam tersebut bisa jadi merupakan tanda bahwa anak didiagnosis menderita depresi.
Contoh perilaku lain yang menunjukkan hal tersebut diantaranya :
– Sering merasa sedih, putus asa, atau mudah tersinggung
– Tidak ingin melakukan atau menikmati hal-hal yang menyenangkan
– Menunjukkan perubahan pola makan, tidur dan energi yang berubah dari biasanya
– Sering merasa tidak berharga, tidak berguna atau merasa bersalah
– Menunjukkan perilaku melukai atau merusak diri sendiri
Beberapa anak mungkin tidak berbicara tentang pikiran mereka yang tidak berdaya dan putus asa, dan mungkin tidak terlihat sedih. Depresi juga dapat menyebabkan seorang anak membuat masalah atau bertindak tidak termotivasi, menyebabkan orang lain tidak memperhatikan bahwa anak tersebut depresi atau secara tidak benar melabeli anak tersebut sebagai pembuat masalah atau pemalas.
Oleh karena itu, perlu perhatian khusus ketika anak sudah menunjukkan gejala-gejala tersebut. Karena depresi yang ekstrim dapat membuat anak berpikir untuk mengakhiri hidupnya atau bunuh diri. Untuk remaja usia 10-24 tahun, bunuh diri merupakan salah satu penyebab utama kematian.
Oppositional Defiant Disorder (ODD)

Jangan langsung menganggap anak yang sering menyebabkan masalah serius di rumah atau sekolah dengan teman sebayanya sebagai anak yang nakal. Karena bisa jadi perilaku mereka sebagai tanda atau gejala dari gangguan mental Oppositional Defiant Disorder (ODD).
Gangguan ini biasanya terlihat ketika anak sebelum berusia 8 tahun, dan paling lambat sekitar usia 12 tahun. Anak-anak dengan ODD lebih cenderung bertindak menentang atau membangkang dengan orang di sekitarnya yang mereka kenal baik. Seperti anggota keluarga, pengasuh, atau guru. Perilaku “nakal” yang mereka tunjukkan ini pun terjadi dengan frekuensi yang lebih sering dibandingkan anak lain seusia mereka.
Beberapa contoh lain dari perilaku ODD termasuk :
– Sering marah atau kehilangan kesabaran
– Kerap berdebat dengan orang dewasa atau menolak untuk mematuhi aturan atau permintaan orang yang lebih tua
– Sering kesal dan dengki
– Sengaja mengganggu orang lain atau menjadi jengkel dengan orang lain
– Sering menyalahkan orang lain atas kesalahan atau perilaku buruk mereka sendiri
Conduct Disorder (CD)

Gangguan Conduct Disorder (CD) terjadi pada anak dengan tanda-tanda yang menunjukkan pola agresi yang berkelanjutan terhadap orang lain. Anak dengan kondisi CD ini kerap melakukan pelanggaran serius terhadap aturan dan norma sosial di lingkungan rumah, sekolah atau dengan teman sebayanya.
Bahkan pelanggaran tersebut dapat melibatkan pelanggaran hukum hingga mengakibatkan penangkapan. Anak-anak yang mengidap CD lebih cenderung terluka dan mungkin mengalami kesulitan bergaul dengan teman sebayanya.
Beberapa contoh perilaku CD pada anak yakni :
– Kerap melanggar aturan serius seperti kabur dari rumah, keluar rumah saat dilarang, hingga membolos
– Menjadi agresif dengan cara yang membahayakan seperti menindas, berkelahi, atau bersikap kejam dengan hewan
– Berbohong, mencuri atau merusak properti orang lain dengan sengaja
Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD)

Pada umunya, pengidap ADHD mengalami kesulitan dalam mengendalikan fokusnya, sehingga mereka akan sulit untuk memperhatikan, mengendalikan perilaku impulsif atau bertindak tanpa memikirkan akibatnya karena menjadi terlalu aktif. Sayangnya, ADHD tidak dapat disembuhkan. Namun walaupun begitu, ADHD masih dapat dikelola gejalanya dan dapat membaik seiring dengan bertambahnya usia anak.
Adalah normal bagi anak-anak untuk mengalami kesulitan fokus dan berperilaku pada satu waktu atau lainnya. Namun, anak-anak dengan ADHD tidak tumbuh begitu saja dari perilaku ini. Gejalanya berlanjut, bisa parah, dan bisa menyebabkan kesulitan di sekolah, di rumah, atau dengan teman.
Seorang anak dengan ADHD mungkin sering melamun, mudah melupakan atau kehilangan banyak hal, sering gelisah, terlalu banyak bicara, membuat kesalahan ceroboh hingga mengambil risiko yang tidak perlu, dan mengalami kesulitan ketika bergaul dengan orang lain.
Tourette Syndrome

Sindrom Tourette (TS) yang menyebabkan seseorang mengalami “tics” adalah kondisi gangguan yang mengenai saraf manusia. Kondisi tics dapat berupa kedutan, gerakan atau suara tiba-tiba yang dilakukan pengidap sindrom tourette secara berulang kali. Mereka tidak dapat menghentikan tubunya ketika melakukan hal-hal tersebut.
Tics mungkin hampir mirip seperti cegukan, sehingga seseorang mungkin tidak ingin cegukan, namun tubuh tetap melakukannya dan sulit untuk dihentikan secara sadar. Perilaku tics misalnya, seseorang mungkin terus berkedip berulang kali. Atau, seseorang mungkin membuat suara mendengus dengan enggan.
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Tak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak bisa memiliki pikiran yang mengganggu mereka, dan mereka mungkin merasa harus melakukan sesuatu akan isi pikiran tersebut meskipun jika tindakan mereka sebenarnya tidak masuk akal. Misalnya, mereka berpikir hingga khawatir bahwa mungkin akan bernasib buruk jika tidak mengenakan aksesoris favoritnya.
Bagi beberapa anak, ingin melakukan sesuatu atas apa yang sedang mereka pikirkan lalu kemudian berusaha mengabaikannya adalah hal yang lumrah. Namun akan sedikit berbeda jika seorang anak pengidap OCD sering tiba-tiba memikirkan sesuatu yang tidak diinginkan, dan perilaku tersebut terasa harus untuk mereka lakukan akibat pengaruh pikiran tersebut.
Ini akan menyita banyak waktu, mengganggu aktivitas mereka atau membuat mereka sangat kesal. Pikiran-pikiran tersebut dinamakan dengan obsesi dan perilakunya disebut dengan kompulsi.
Post-traumatic Stress Disorder (PTSD)

Semua anak mungkin mengalami peristiwa yang sangat menegangkan yang memengaruhi cara berpikir dan perasaan mereka. Sebagian besar anak-anak dengan berjalannya waktu akan pulih dengan segera dan kembali sehat.
Namun terkadang ada juga anak-anak yang mengalami stres berat, seperti akibat cedera, kematian, atau ancaman kematian anggota keluarga terdekat atau teman, hingga kekerasan yang dapat berpengaruh dalam jangka waktu yang panjang. Anak bisa mengalami trauma ini secara langsung atau ketika menyaksikannya terjadi pada orang lain.
Ketika trauma oleh anak-anak berkembang dengan gejala jangka panjang (lebih dari 1 bulan) akan stres yang mereka alami, kemudian hal tersebut akan mengganggu hubungan sosial dan aktivitas sehari-harinya. Kemungkinan bisa jadi anak tersebut didiagnosis dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Baca juga: Orang Manipulatif Kerap Mengucapkan Kalimat Ini, Lho
Sumber:
Children’s Mental Disorders | CDC. (2023, March 8). Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/childrensmentalhealth/symptoms.html
Elia, J. (2023, March 15). Overview of Mental Disorders in Children and Adolescents. MSD Manual Professional Edition. https://www.msdmanuals.com/professional/pediatrics/mental-disorders-in-children-and-adolescents/overview-of-mental-disorders-in-children-and-adolescents
World Health Organization: WHO. (2021, November 17). Mental health of adolescents. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



