Semua artikel
Perilaku

Inilah yang Membedakan Self-Love dengan Narsisme

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Perasaan menyukai diri sendiri kerap diartikan dengan self-love atau narsisme. Padahal, keduanya memiliki makna konsep yang jauh berbeda dan lebih dari sekedar menyukai dirinya sendiri. Ada beberapa aspek pula yang membedakan antara self-love dengan narsisme.

Dalam kehidupan ini, seorang individu harus memiliki emosi yang selaras dengan dirinya untuk menghadapi segala situasi dan masalah di lingkungannya. Emosi yang dimiliki pun harus dengan memahami perasaan dan memahami pentingnya untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Namun, dalam proses untuk memahami hal tersebut, sebagian besar orang kerap kali keliru dalam menguraikan pengertian dari self-love atau mencintai diri sendiri dengan sifat narsisme.

Narsisme sendiri secara umum diartikan sebagai perilaku seseorang yang terobsesi dengan dirinya sendiri, sehingga memandang dirinya sebagai individu yang paling sempurna diantara orang lain. Mereka yang memiliki sifat narsisme seringkali memiliki empati yang minim dan sulit memahami perasaan atau kebutuhan orang lain. Penderita narsisme cenderung tidak peduli dengan orang lain, kecuali mereka dapat memberikan keuntungan bagi dirinya.

Jika narsisme terkesan negatif, self-love cenderung kebalikannya. Self-love merupakan konsep yang melibatkan perasaan untuk menerima diri sendiri secara utuh dengan pandangan positif yang dimiliki terhadap dirinya sendiri. Namun, pandangan tersebut bukan karena merasa lebih unggul dari orang lain. Karena telah menerima dan menyayangi dirinya sendiri, orang yang telah memiliki perasaan self-love kerap melibatkan perawatan diri, termasuk menjaga kesehatan fisik dan emosional.

Memahami perbedaan antara narsisme dan self-love sangat penting karena memiliki dampak yang signifikan pada hubungan dan interaksi sosial. Oleh karena itu, dikutip dari Psychology Today, berikut ini beberapa aspek untuk memudahkan Anda dalam membedakan self-love dengan narsisme. Anda bisa menggunakannya untuk mempertanyakan pada diri Anda apakah Anda sudah menerapkan self-love atau justru memiliki perilaku narsisme.

Baca juga: Apakah Anak Boleh Diberikan Hukuman Saat Melakukan Kesalahan?

Adanya Kebutuhan Untuk Memanfaatkan Kehebatan Diri Terhadap Orang Lain

Woman wearing casual sweater on background pointing on herself with fingers, smiling positive and cheerfulSelf-love dengan harga diri yang sehat didasarkan pada keyakinan bahwa kita memiliki kualitas yang positif, begitupun juga dengan orang lain. Ketika kita sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain, apalagi percaya bahwa kita tidak lebih baik dalam suatu keterampilan, menandakan bahwa Anda masih belum menerapkan self-love dan mencintai diri sendiri. Walaupun begitu, membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang perlu dilakukan untuk evaluasi diri, dengan catatan harus pada batas wajar.

Sedangkan membutuhkan orang lain untuk menjadi sedikit lebih baik dari yang lain adalah ciri umum narsisme. Tentunya ini bukanlah cara yang tepat untuk memahami orang lain. Penelitian pun menunjukkan bahwa kebanyakan orang pada umumnya menilai diri mereka di atas rata-rata berdasarkan ciri utama, meskipun secara statistik tidak mungkin semua orang berada di atas rata-rata.

Kepentingan Akan Penampilan Daripada Kinerja yang Baik

Woman wearing casual sweater on background pointing down with fingers showing advertisement, surprised face and open mouth

Seorang narsisme pandai untuk memainkan peran sebagai seseorang yang peduli karena mereka lebih fokus pada hal itu, alih-alih mementingkan keterampilan serta kompetensi penuhnya. Mereka jauh lebih peduli pada penampilan mereka dalam memainkan peran tersebut daripada kualitas kinerja yang sebenarnya, atau bagaimana orang lain dipengaruhi oleh perilaku mereka.

Namun, seseorang yang sudah berada pada tingkat self-love yang tinggi mendapatkan hal itu dari pekerjaan yang mereka lakukan dengan baik, serta tanggung jawab yang mereka penuhi. Narsisis, bagaimanapun, tidak memiliki banyak insentif atau alasan khusus mengapa mereka harus melakukan pekerjaan menyeluruh atau bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan.

Ada Tidaknya Fokus Pada Validasi Ekster

Woman wearing casual sweater on background covering ears with fingers with annoyed expression for the noise of loud music.

Penyakit dari narsisme ialah kebutuhan atau haus akan perhatian dan validasi dari orang lain. Mereka membutuhkannya secara terus menerus karena mereka belum menginternalisasi rasa berharga, belas kasihan pada diri sendiri atau harga diri yang tinggi. Ini memungkinkan pada narsisis untuk melakukan segala cara bahkan yang gila sekalipun demi memenangkan pujian dan pengakuan.

Sedangkan self-love yang sudah melekat akan memandu seseorang untuk menilai dirinya sendiri secara internal. Sehingga mereka bisa bertindak secara konsisten akan nilai-nilai itu dan mempertahankan kebaikan mereka serta perasaan tentang diri mereka sendiri.

Emosi dan Sikap yang Tampak Hitam dan Putih

Woman wearing casual sweater on background hand on chin thinking about question, pensive expression. Smiling with thoughtful face

Sebuah studi menunjukkan bahwa perilaku narsisme tidak menolerir adanya area abu-abu, dan cenderung menyukai atau membenci sesuatu secara tegas. Namun, orang dengan self-love nya telah mengembangkan lebih banyak kemampuan untuk mentolerir ketidakpastian dan emosi yang lebih halus.

Self-love memiliki keterkaitan dengan kemampuan untuk mengalami kerentanan diri sendiri yang dapat mengancam pelaku narsisme. Ketika seseorang telah merasakan kerentanan diri, secara alami mereka mulai merasa untuk lebih menyayangi diri sendiri sehingga membuat individu merasa lebih terhubung dengan orang lain.

Jika seorang individu tidak dapat mentolerir perasaan tidak nyaman tersebut, mereka akan cenderung memproyeksikannya ke orang lain. Hal tersebut kemudian dapat menciptakan konflik, isolasi dan kekecewaan diri.

Baca juga: Berikan Hukuman yang Disesuaikan dengan Usia dan Karakteristik Anak

 

Sumber:

Gnall, S. (2022, July 7). How is Narcissism different from Self Love? — Connected Family Services. Connected Family Services. https://connectedfamilyservices.com/blog/2020/12/20/self-love-vs-narcissism

Tara Well. (2019, June 14). Is Self-Love Healthy or Narcissistic? Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-clarity/201702/is-self-love-healthy-or-narcissistic

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Inilah yang Membedakan Self-Love dengan Narsisme — DeepTalk