Semua artikel
Gangguan Psikologi

Ini Dia Gejala dan Penanganan Gangguan Bipolar

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Seperti yang sudah diketahui bahwa gangguan bipolar merupakan bagian dari gangguan suasana hati atau mood disorder yang ditandai dengan adanya perubahana suasana hati yang cukup ekstrim.

Gangguan bipolar sangat erat kaitannya dengan mood swing. Namun, mood swing yang terjadi pada penderita gangguan bipolar tidak sesederhana orang-orang pada umumnya. Mood swing ini melibatkan fase depresi dan fase mania.

Fase depresi merupakan kondisi dimana penderita mengalami kesedihan yang mendalam sehingga membuatnya kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Sedangkan fase mania merupakan kondisi bahagia berlebihan yang membuat penderita sangat bersemangat sehingga melupakan waktu untuk beristirahat.

Artikel ini akan membahas lebih detail mengenai gangguan bipolar. Khususnya gejala, penyebab, dan penanganan penderita gangguan bipolar. Namun, sebelum itu perlu diketahui bahwa artikel ini tidak bisa dijadikan patokan untuk melakukan self diagnosis.

Jika pembaca menemukan beberapa kesamaan gejala yang ada di artikel ini dan dalam diri sendiri, sebaiknya segera berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan juga penanganan yang tepat.

Gejala Gangguan Bipolar

Gejala utama dari penderita gangguan bipolar adalah adanya emosi atau suasana hati yang berubah-ubah antara fase depresi dan fase mania.  Perubahaan suasana hati tersebut memiliki waktu yang berbeda-beda, bisa beberapa jam, beberapa hari, bahkan berbulan-bulan.

Secara spesifik, masing-masing fase menunjukkan gejala yang berbeda-beda pula. Berikut gejala penderita gangguan bipolar berdasarkan fase yang dilalui:

Fase depresi

Saat berada di fase depresi, penderita gangguan bipolar cenderung akan merasakan kesedihan yang mendalam. Selain itu, perasaan hampa, putus asa, khawatir, dan juga gelisa sering kali dialami di fase depresi ini.

Beberapa dari penderita gangguan bipolar, fase depresi akan mempengaruhi pola makan mereka. Ada yang tidak nafsu makan sehingga kehilangan banyak berat badannya, ada juga yang justru makan berlebih dan mengakibatkan kenaikan berat badan yang drastis.

Tidak hanya itu, pada fase depresi, penderita gangguan bipolar akan kehilangan semangatnya, berbicara dengan lambat, mudah terserang berbagai penyakit fisik, sulit untuk berkonsentrasi dan membuat keputusan, hingga kehilangan minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Dalam kasus berat, saat fase depresi ini sering kali membuat penderita gangguan bipolar berpikir untuk mengakhiri hidup, atau bunuh diri. Tidak herang mengingat banyaknya kasus bunuh diri yang didasari dengan kondisi depresi.

Fase mania

Fase mania merupakan kebalikan dari fase depresi. Saat berada di fase mania, penderita gangguan bipolar akan terlihat sangat bahagia. Mereka bahkan memiliki semangat yang besar sehingga selalu melupakan waktu istirahat.

Pada fase mania ini, penderita gangguan bipolar cenderung berbicara cepat, bahkan terkadang belum sempat mencerna dengan baik kata-kata yang dia ungkapkan. Hal ini dikarenakan banyaknya ide-ide yang muncul di kepala dan ingin segera direalisasikan.

Dalam kasus gangguan bipolar yang cukup berat, fase mania bahkan akan menimbulkan delusi dan halusinasi. Mereka cenderung melakukan hal-hal yang beresiko. Tidak jarang mereka akan memikirkan dan melakukan banyak hal dalam satu waktu yang sama.

Pada penderita gangguan bipolar dengan tingkat keparahan yang masih terbilang rendah tidak memunculkan fase mania, melainkan fase hipomania. Fase hipomania juga merupakan kondisi dimana penderita mengalami kebahagiaan yang berlebihan, namun masih lebih mending dibandingkan dengan fase mania.

Baca juga: Genofobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Aktivitas Seks

Penyebab Gangguan Bipolar

Sama halnya dengan kebanyakan gangguan mental lainnya, gangguan bipolar juga belum bisa dipastikan penyebab utamanya. Namun, beberapa ahli beranggapan gangguan ini didasari oleh beberapa faktor.

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bipolar akan beresiko mengembangkan gangguan ini dalam dirinya. Selain itu, adanya ketidak seimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak juga dipercaya mampu meningkatkan resiko bipolar.

Selain itu, faktor lainnya seperti faktor lingkungan, gaya hidup, adanya stress atau tekanan yang tinggi, pengalaman traumatik, kecanduan alkohol dan obat-obatan berbahaya juga dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan bipolar.

Penangnanan Pada Penderita Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar merupakan salah satu jenis gangguan kesehatan mental yang cukup kompleks. Banyak sekali gangguan lain yang serupa. Untuk itu jika kamu atau orang disekitar mu menunjukkan beberapa gejala di atas sebaiknya segera berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater.

Setiap penderita gangguan bipolar bisa jadi menunjukkan gejala dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Untuk itu, Psikolog dan Psikiater perlu melakukan beberapa proses untuk akhirnya bisa mendiagnosis apakah seseorang mengalami gangguan bipolar atau tidak.

Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, barulah ditentukan penanganan apa yang tepat untuk diberikan kepada klien. Psikolog umumnya akan memberikan penanganan dengan beberapa terapi psikologi. Sedangkan Psikiater akan membantu dengan meresepkan beberapa obat-obatan yang mampu untuk meminimalisir gejala yang ada.

Meski demikian, gangguan bipolar merupakan gangguan yang akan dibawa seumur hidup. Walaupun klien terlihat baik-baik saja, bisa jadi sewaktu-waktu gejala itu muncul lagi. Untuk itu, penderita gangguan bipolar harus selalu melakukan konsultasi, terapi psikologi, dan konsumsi obat-obatan untuk meminimalisir gejala yang ditunjukkan.

Semoga artikel ini dapat membantu.

Baca juga: Fonofobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Suara Tertentu

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Ini Dia Gejala dan Penanganan Gangguan Bipolar — DeepTalk