Deeptalk.co.id – Perbedaan antara pseudodementia dan demensia telah menjadi titik fokus yang penting dan sering kali membingungkan. Pseudodementia sering kali disalahartikan sebagai demensia karena gejalanya yang serupa. Meskipun keduanya melibatkan gangguan kognitif dan memori, perbedaan esensial di antara keduanya dapat memiliki implikasi signifikan dalam diagnosis dan penanganan.
Secara umum, perbedaan pokok antara keduanya terletak pada sifat gangguan tersebut beserta faktor-faktor sebagai pemicu atau penyebab utama. Berbeda dengan demensia yang tercatat sebagai gangguan kesehatan mental, pseudodementia sebenarnya bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu kondisi yang dapat muncul sebagai respons terhadap gangguan kesehatan mental tertentu, seperti depresi.
Artikel ini bertujuan untuk menyajikan pemahaman yang lebih jelas tentang perbedaan antara pseudodementia dan demensia, memberikan pembaca kerangka pemikiran yang kokoh untuk mengidentifikasi dan memahami kedua kondisi tersebut. Dengan memahami perbedaan mendasar ini, pembaca dapat mengembangkan wawasan yang lebih baik tentang cara mendekati diagnosis dan penanganan, serta memberikan dukungan yang sesuai kepada individu yang terkena dampak. Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang karakteristik masing-masing kondisi, artikel ini akan membimbing pembaca menuju pengenalan dan penanganan yang lebih tepat bagi pseudodementia dan demensia.
Pseudodementia vs. Demensia

Pseudodementia mungkin nampak serupa atau terasa sangat mirip dengan demensia pada beberapa gejala atau tandanya. Namun, keduanya merupakan kondisi yang sangat berbeda pada beberapa aspeknya. Saat mendiagnosis pseudodementia, dokter juga mempertimbangkan perbedaan-perbedaan tersebut untuk membantu mereka menyingkirkan demensia dan dapat mengidentifikasi penyebab sebenarnya.
Salah satu hal yang sangat membedakan ialah pseudodementia tidak menyebabkan degenerasi sebenarnya di otak, sedangkan demensia yang sesungguhnya bisa menyebabkan degenerasi. Oleh karena itu, pseudodementia dan demensia akan nampak sangat berbeda saat melakukan pemindaian otak, meskipun keduanya kerap menimbulkan gejala yang mirip.
Selain itu, perbedaan antara pseudodementia dan demensia juga terlihat saat pengujian. Penderita demensia sering kali tidak menyadari bahwa mereka memiliki masalah dengan ingatan, namun mereka tidak akan melakukan tes kognitif dengan baik.
Sedangkan seseorang yang mengalami depresi yang menimbulkan gejala kognitif mungkin mengalami hal sebaliknya. Mereka mungkin mengeluhkan masalah ingatan tetapi memiliki kinerja yang baik dalam tes kognitif.
Perbedaan lainnya ialah dibandingkan demensia, pseudodementia sering kali merespons pengobatan. Pada pseudodementia yang terkait dengan depresi, mengobati hal tersebut yang mendasarinya sering kali akan membuat gejalanya membaik secara signifikan.
Untuk kasus demensia, pengobatan mungkin berfokus pada penanganan gejala. Ini dikarenakan saat ini masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan kondisi tersebut. Pengobatan mungkin lebih atau kurang berhasil berdasarkan stadium demensia yang diderita orang tersebut dan seberapa parah gejalanya sebelum pengobatan.
Dalam kasus demensia sejati, pengobatan mungkin berfokus pada penanganan gejala, karena saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan kondisi tersebut. Pengobatan mungkin lebih atau kurang berhasil berdasarkan stadium demensia yang diderita orang tersebut dan seberapa parah gejalanya sebelum pengobatan.
Meskipun keduanya melibatkan gangguan kognitif dan dapat memiliki dampak serius pada kehidupan sehari-hari individu, kesadaran akan sifat dan karakteristik unik masing-masing kondisi membantu dalam memetakan strategi diagnosis dan penanganan yang lebih efektif. Adalah krusial untuk mengenali bahwa pseudodementia, terutama jika disebabkan oleh gangguan kesehatan mental, dapat diatasi dan membaik dengan intervensi yang tepat, sementara demensia memerlukan pendekatan manajemen jangka panjang.
Baca juga: Pentingnya Senam atau Latihan Otak Untuk Menjaga Kesehatan Mental
Pseudodementia dan Kaitannya Dengan Depresi

Depresi merupakan gangguan mental yang mencakup suasana hati tertekan yang berlangsung setidaknya selama 2 minggu. Ketika mengalami depresi, penderita akan mengalami hilangnya minat atau kesenangan dalam hampir semua aktivitas, perasaan bersalah atau bunuh diri, isolasi sosial, serta gangguan tidur dan nafsu makan.
Gejala depresi diperkirakan juga terjadi pada banyak individu lanjut usia. Depresi merupakan masalah yang umum, dan beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa sebagian besar populasi yang lebih tua menunjukkan gejala afektif yang menonjol.
Pada depresi yang terjadi di kalangan lansia, terdapat hubungan bahwa terdapat gangguan kognitif yang dapat diamati. Di antara faktor-faktor yang sudah diketahui dan perlu dipertimbangkan, depresi mempunyai arti penting karena dapat membahayakan kognisi secara signifikan, terutama di kalangan orang lanjut usia. Dalam kasus yang parah, depresi bahkan bisa disalahartikan sebagai kondisi neurodegeneratif. Secara historis, fenomena ini dikenal sebagai ‘pseudodementia’.
Depresi bisa menyebabkan suatu fenomena yang disebut pseudodementia, di mana penderita mengalami penurunan intelektual yang disebabkan oleh kurangnya energi atau usaha. Penderita masalah pseudodementia ini sering kali menjadi pelupa, geraknya melamban, dan motivasinya rendah serta kondisi mentalnya turut melambat.
Mereka mungkin tampak antara depresi atau tidak, namun kondisi ini merespons dengan baik terhadap pengobatan depresi. Ketika suasana hati membaik, energi, kemampuan berkonsentrasi, dan fungsi intelektual seseorang biasanya kembali ke tingkat sebelumnya.
Baca juga: Pahami Bahaya Secara Psikologis Dari Kecanduan Judi
Sumber:
Mouta S, Fonseca Vaz I, Pires M*, et al*What do we know about pseudodementia?General Psychiatry 2023;**36:**e100939. doi: 10.1136/gpsych-2022-100939
https://www.medicalnewstoday.com/articles/pseudodementia#vs-dementia
https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/is-it-dementia-or-depression
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



