Semua artikel
Perilaku

Hubungan Pola Penghindaran Pada Kebiasaan Procrastination

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Procrastination, atau kebiasaan menunda-nunda, seringkali dianggap sebagai sebuah masalah yang merugikan. Banyak orang yang merasa kesulitan untuk mengatasi kebiasaan ini, sehingga akhirnya terjerumus ke dalam lingkaran setan penundaan. Fenomena tersebut memiliki keterkaitan juga antara procrastination dengan perilaku penghindaran pada seseorang.

Tidak semua orang memiliki kebiasaan procrastination yang sama. Ada beberapa orang yang lebih cenderung menghindari tugas-tugas yang sulit atau membutuhkan waktu yang lama, sementara yang lain cenderung menghindari tugas-tugas yang membosankan atau berulang-ulang. Dalam artikel ini, kita akan membahas hubungan antara pola penghindaran pada kebiasaan procrastination untuk mencari tahu cara mengatasi kecenderungan ini.

Memahami Perilaku Penghindaran

Perlu diketahui bahwa kecenderungan menunda-nunda atau procrastination mungkin juga berkaitan dengan avoidance behavior atau perilaku penghindaran. Sebelum menjelaskan lebih lanjut pola penghindaran pada kecenderungan procrastination, Anda perlu memahami apa yang dimaksud dengan perilaku penghindaran ini.

Perilaku menghindar merupakan hal-hal yang seseorang lakukan untuk mengalihkan perhatiannya dari aktivitas atau tugas yang dikaitkan dengan emosi yang tidak menyenangkan. Biasanya emosi ini berbentuk rasa takut, yang kemudian mencakup kekhawatiran, kecemasan hingga kepanikan.

Dengan melakukan pekerjaan lain alih-alih apa yang seharusnya dilakukan, perilaku penghindaran ini memungkinkan seseorang untuk sejenak melepaskan diri dari perasaan tidak nyamannya. Juga dengan melakukan itu, dapat membantunya terbawa pada kelegaan psikologis.

Salah satu contoh kasus dari perilaku penghindaran ini ketika Anda mulai mengalami gejala sakit pusing. Hingga kemudian Anda berpikir untuk membuat janji dengan dokter untuk memastikan apa yang Anda alami. Namun, alih-alih melakukannya, Anda justru terlalu sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada fisik kepala Anda, penyebab hingga bahkan kekhawatiran adanya sakit parah yang mungkin Anda alami. Sehingga ini menciptakan respon ketakutan yang kuat dan membuat Anda menghindari pergi ke dokter. Dengan kata lain, jika Anda tidak pergi menemui dokternya, Anda tidak akan mendapatkan diagnosis negatif tersebut.

Pada kasus produktivitas, penting untuk mengenali saat Anda menggunakan perilaku penghindaran ini sehingga Anda dapat menghentikannya dan kembali ke tugas utama Anda. Ini dilakukan untuk menjadi orang yang lebih produktif yang memfokuskan pikiran dan upaya seseorang pada aktivitas makna dan nilai, juga jauh dari aktivitas yang mengganggu dan tidak penting.

Contoh lain dari perilaku penghindaran di antaranya :

– Beristirahat lama alih-alih segera kembali bekerja

– Terlalu sibuk melakukan pekerjaan kecil seperti membersihkan meja, menjelajah internet, atau memeriksa email disaat harus melakukan pekerjaan penting lainnya

– Bukannya menyelesaikan pekerjaan, malah terlalu sering mengobrol dengan rekan kerja

– Melamun saat di meja kerja

– Mengklaim Anda terlalu sibuk dan tidak punya waktu padahal Anda punya waktu.

– Mengatakan Anda akan melakukannya nanti atau melakukannya besok.

– Mengklaim Anda telah berubah pikiran tentang sesuatu padahal, pada kenyataannya, Anda belum melakukannya.

– Meremehkan pentingnya tugas Anda sehingga Anda merasa kurang bersalah karena tidak melakukannya.

Sebenarnya lebih mudah untuk Anda menyelesaikan tugas-tugas menakutkan yang Anda benci dibandingkan untuk memotivasi diri Anda sendiri untuk menyelesaikannya. Sebagian besar tugas tersebut dimulai dari hal kecil, dan kemudian tumbuh dalam pikiran atau dalam kehidupan nyata hingga proporsi yang luar biasa seiring berjalannya waktu, tenggat waktu berlalu hingga biaya keterlambatan yang mulai meningkat.

Pada waktunya, Anda akan menemukan diri Anda sendiri, berfokus pada hal-hal yang memicu perasaan akan datangnya malapetaka dan kegagalan yang tak terelakkan. Hingga Anda akan selalu dipenuhi dengan kecenderungan negative self-talk dengan mengatakan,

“Aku hanya akan gagal, jadi mengapa terlalu repot?”

“Aku tidak yakin aku bisa melakukan ini,”

“Saya pernah melakukan ini sebelumnya, dan itu tidak berhasil. Mengapa kali ini berbeda?”

Baca juga: Tips Mengatasi Sleep Terror pada Anak

Mengenali Perilaku Penghindaran Pada Procrastination

Seringkali mungkin Anda meyakinkan diri sendiri untuk menghindari tugas yang ditakuti tetapi merasa tidak enak karena melewatkannya. Rasa bersalah itu nyata tetapi Anda kesulitan untuk berhenti mengulai perilaku yang sama tersebut. Lingkaran setan tersebut adalah kecenderungan procrastination yang terkait dengan perilaku penghindaran. Untuk memudahkan dalam penyebutannya akan kami singkat dengan istilah penghindaran penundaan, dan ini umum terjadi pada individu dengan gangguan Attention Deficit Hyperactivity (ADHD).

Masalah utamanya bukan karena tugasnya yang terlalu buruk. Namun persepsi yang Anda miliki yang sangat terdistorsi akan kesulitan atau ketidaknyamanannya. Penghindaran penundaan atau procrastination ini melumpuhkan Anda dengan ketakutan dan kekhawatiran akan beberapa hal. Diantaranya seperti rasa malu, gagal, tidak nyaman, mengecewakan diri sendiri atau orang lain.

Jika dikaitkan dengan gangguan ADHD, ini dikarenakan mereka memiliki apa yang disebut “otak tidak dalam kondisi sekarang”. Banyak yang memiliki tantangan nyata dengan berfokus pada apa pun selain saat ini. Semuanya akan berkutat pada hal “sekarang” atau “tidak sekarang”. Momen “sekarang” dinilai lebih mengerikan dan tidak ada habisnya hingga sulit membayangkan bahwa segala sesuatunya akan terasa lebih baik setelah Anda menyelesaikan tugas yang dibenci.

Seringkali, memulai suatu tugas atau pekerjaan menjadi masalah yang lebih besar dibanding saat mengerjakannya. Dan ini menjadi terasa tidak menyenangkan atau berlebihan. Ini bisa jadi karena elemen kognitif, energi yang dibutuhkan, atau beban emosional dari tugas yang ditakuti. Mungkin juga Anda mengatakan hal-hal lain pada diri Anda sendiri, seperti “Ini terlalu rumit untuk saya selesaikan”, “Saya terlalu lelah untuk menerima ini sekarang”, atau “Jika saya tidak melakukannya dengan benar, sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Baca juga: Penyebab Sleep Terror pada Anak

 

Sumber:

Scott, J., Jr. (2018, April 20). Avoidance behavior and three types of procrastinators . . .. Scott Free Clinic. https://www.scottfreeclinic.org/2018/04/20/avoidance-behavior-and-three-types-of-procrastinators/

Saline, S. (2023, February 7). Stop Dodging That Dreaded Task! 9 Ways to Halt Avoidance Procrastination. ADDitude. https://www.additudemag.com/avoidance-procrastination-how-to-stop-procrastinating-procrastivity-adhd//

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Hubungan Pola Penghindaran Pada Kebiasaan Procrastination — DeepTalk