Semua artikel
Perilaku

Hobi Berbelanja? Waspada Gejala Shopaholic!

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Berbelanja memang merupakan kegiatan yang menyenangkan. Bahkan perilaku yang satu ini menjadi salah satu metode penanganan masalah kesehatan mental, yang dikenal dengan istilah retail therapy. Namun tahukah kamu bahwa perilaku berbelanja yang tidak terkontrol justru bisa memicu masalah kesehatan mental. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah shopaholic.

Shopaholic adalah salah satu gangguan kontrol impuls. Dalam hal ini, penderita shopaholic tidak bisa mengontrol perilaku berbelanjanya, terlepas dari seperti apa keadaan ekonomi yang mereka alami. Kondisi yang dialami oleh penderita shopaholic juga bisa merugikan diri sendiri, dan orang disekitarnya. Karena itu pula kondisi ini juga dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan mental.

Kondisi shopaholic ini dapat dipicu oleh berbagai kondisi, misalnya akibat pola pikir yang salah mengenai perilaku berbelanja, stress berat dan/atau kesedihan mendalam, gaya hidup, iklan di berbagai media, dan masih banyak lagi. Meski demikian, kondisi ini tentu bisa diantisipasi sedini mungkin, dengan mengenali gejala-gejala yang ditimbulkan.

Pada kenyataannya banyak orang yang mengalami shopaholic. Namun kurangnya pengetahuan mengenai kondisi, membuat mereka tidak menyadari hal tersebut. Untuk itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai gejala yang ditimbulkan dari penderita shopaholic.

Sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang-orang terdekatmu mengalami beberapa gejala seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu akan akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Berikut beberapa gejala yang dialami oleh penderita shopaholic:

Rendahnya Rasa Percaya Diri

Salah satu gejala yang jarang dianggap sebagai bagian dari penderita shopaholic adalah adanya rasa percaya diri yang rendah. Seseorang dengan rasa percaya diri yang rendah akan memandang dirinya dengan penuh kekurangan dan ketidak mampuan. Kondisi ini yang akhirnya memicu seseorang untuk berbelanja berlebihan sebagai bentuk pemenuhan akan kekurangan yang dirasakan.

Bagi penderita shopaholic, berbelanja akan mampu meningkatkan rasa percaya diri mereka. Hal tersebut akan semakin kuat jika yang dibelinya merupakan barang-barang yang mampu meningkatkan citra diri. Misalnya pakaian-pakaian dari brand ternama, handphone keluaran terbaru, aksesoris yang kekinian, dan masih banyak lagi.

Baca juga : Shopaholic : Perilaku Belanja yang Tidak Terkontrol

Upaya Untuk Selalu Disukai Orang Lain

Beberapa penelitian membuktikan bahwa penderita shopaholic umumnya adalah orang-orang yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan orang-orang non-shopaholic. Dengan demikian, seorang penderita shopaholic cenderung lebih mudah bergaul, baik hari, memiliki empati yang tinggi, dan lembut terhadap orang lain.

Namun, semua kebaikan yang dimiliki oleh penderita shopaholic biasanya dilakukan untuk mendapatkan simpati dari orang lain. Bahkan kondisi ini membuat mereka seakan memiliki keharusan untuk mendapatkan penilaian terbaik dari orang lain.

Terlepas dari itu semua, perilaku mereka ini terbentuk dari rasa kesepian dan terisolasi. Pengalaman berbelanja justru menyajikan tempat untuk mereka berinteraksi secara positif dengan orang-orang disekitarnya.

Merasa Gembira Saat Berbelanja

Ciri utama dari seorang penderita shopaholic adalah rasa gembira saat berbelanja. Walaupun perasaan tersebut umum dialami oleh setiap orang yang berbelanja, namun kegembiraan dari seorang shopaholic justru lebih dari itu.

Penderita shopaholic akan secara otomatis memproduksi hormon dopamin dan endorfin saat mereka berbelanja. Hormon tersebutlah yang membuat merasa merasa gembira. Sayangnya kondisi ini justru akan semakin parah jika penderita sedang dalam kondisi stress, depresi, atau frustasi.

Penyesalan Setelah Berbelanja

Walaupun dalam proses berbelanja penderita shopaholic merasakan kebahagiaan yang besar, namun setelahnya akan timbul perasaan bersalah. Hal ini justru menimbulkan emosi naik dan turun yang cukup drastis pada diri seseorang.

Biasanya mereka akan menyesali dampak yang akhirnya dapat dipicu dari perilaku berbelanja berlebihan yang mereka lakukan. Selain itu, mereka juga akan berbipikir bahwa apa yang dibelinya pada dasarnya tidak terlalu berguna bagi kehidupannya.

Manajemen Keuangan yang Buruk

Aktivitas berbelanja terus-menerus tentu akan membutuhkan uang dalam jumlah yang banyak. Hal ini mungkin tidak begitu mempengaruhi orang-orang dengan kondisi ekonomi yang melimpah. Sayangnya, shopaholic bisa dialami oleh orang-orang dengan berbagai jenis ekonomi yang dimiliki.

Terlepas dari kondisi ekonomi yang dimiliki, penderita shopaholic umumnya adalah orang-orang yang buruk dalam manejemen keuangan.Ketidakmampuan dalam mengontrol perilaku berbelanjanya membuat mereka terlalu boros dalam pengeluaran yang umumnya tidak penting.

Berbelanja Diam-Diam

Keluarga dan orang-orang terdekat yang menyadari perilaku shopaholic ini tentu akan membantu kerabatnya tersebut. Salah satunya adalah dengan mengawasi mereka saat berbelanja. Namun sayangnya, penderita shopaholic biasanya lebih cerdas dari yang kita bayangkan. Terlebih lagi kemudahan transaksi saat ini yang memudahkan orang-orang dalam berbelanja. Hal tersebut memicu penderita shopaholic untuk berbelanja diam-diam.

Itu dia beberapa gejala dari kondisi penderita shopaholic. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Tips Agar Terhindar Dari Sindrom Sarang Kosong

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Hobi Berbelanja? Waspada Gejala Shopaholic! — DeepTalk