Deeptalk.co.id – Akhir-akhir ini sedang viral di sosial media mengenai pemilik kost yang mengusir penghuni kostnya karena dianggap tidak bisa menjaga kebersihan kost dengan baik. Setelah pemilik kost menunjukan kamar penghuni kost yang penuh dengan tumpukan sampah dan barang-barang tidak berguna, tentu langsung mengundang komentar para warganet. Tidak sedikit warganet yang memberikan komentar-komentar pedas, hingga berbagai saran untuk membersihkan kamar kost yang sudah sangat kotor dan berantakan itu.
Beberapa warganet mengaitkan tindakan penghuni kost dengan salah satu gangguan mental yang dikenal dengan istilah hoarding disorder. Lantas, seperti apakah hoarding disorder itu sendiri? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai hoarding disorder.
Sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi atau pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater. Hasil dari konsultasi dan pemeriksaan tersebutlah yang nantinya akan menjadi patokan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Berikut penjelasan mengenai hoarding disorder.
Pengertian Hoarding Disorder

Membahas mengenai hoarding disorder pada dasarnya bukan kebiasaan yang spesifik suka mengumpulkan sampah. Walau kebanyakan kasus hoarding disorder dianggap melakukan hal tersebut. Namun, hoarding disorder sebenarnya merupakan kesulitan untuk membuang atau berpisah dengan beberapa benda, karena menganggap bahwa barang tersebut akan berguna di kemudian hari, memiliki kenangan berharga, atau sekedar merasa aman jika berada di dekat barang tersebut.
Para penderita hoarding disorder terbiasa menimbun barang terlepas dari penting atau tidaknya barang tersebut. Beberapa barang yang menjadi koleksi bagi penderita hoarding disorder misalnya, koran bekas, perlengkapan rumah tangga, pakaian kotor, bungkus makanan, dan lain sebagainya.
Kebiasaan menimbun barang ini juga sering kali membuat penderita mengalami masalah kebersihan. Tempat tinggal mereka juga cenderung akan terasa sempit akibat banyaknya barang yang tertumpuk. Hal ini berdampak pada kurangnya sirkulasi udara dan bisa berdampak pada kesehatan fisik.
Walaupun hoarding disorder cukup mudah dikenali dengan kebiasaan dan kondisi tempat tinggalnya, namun sayangnya banyak penderita hoarding disorder yang tidak merasa itu sebagai sebuah gangguan. Hal inilah yang akhirnya membuat penderita hoarding disorder sulit untuk mendapatkan penanganan.
Baca juga : Waspada Dampak Overthinking dan Kenali Cara Mengatasinya
Penyebab Hoarding Disorder

Sayangnya penyebab pasti dari hoarding disorder ini belum diketahui hingga saat ini. Hal ini pula yang membuat kondisi hoarding disorder cukup sulit untuk dihindari. Meski demikian, beberapa faktor dianggap dapat memperbesar kemungkinan seseorang mengalami hoarding disorder. Berikut beberapa faktor yang dimaksud:
Masalah kesehatan mental
Beberapa kondisi kesehatan mental dapat membuat seseorang juga mengalami hoarding disorder. Misalnya orang-orang dengan kondisi depresi atau skizofrenia. Bahkan penderita gangguan obsesif kompulsif (OCD) yang umum kita kenal sebagai pembersih juga beberapa justru mengalami hoarding disorder.
Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua dan kehidupan di rumah menjadi salah satu penentu perilaku seseorang. Dalam hal ini, anak-anak yang tidak diajarkan untuk menjadi bijak dalam memilah barang yang perlu untuk disimpan dan dibuang maka akan beresiko mengalami hoarding disorder.
Genetik
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan hoarding disorder juga beresiko mengalami kondisi yang sama. Meski demikian, hal ini masih belum bisa dipastikan, apakah disebabkan oleh faktor genetik, atau justru karena adanya proses belajar yang diamati oleh anak sejak kecil.
Trauma
Orang-orang yang pernah melalui kejadian-kejadian traumatis juga bisa beresiko mengalami hoarding disorder. Misalnya orang yang pernah menjadi korban kebakaran yang membuat seluruh harta bendanya habis termakan api, dan akhirnya menjadi hoarding disorder. Hal ini diperkirakan karena mereka ingin menjaga setiap barang yang dimiliki agar tidak hilang. Selain itu, orang yang kehilangan orang yang dicintai juga memiliki kecenderungan untuk mengumpulkan barang-barang peninggalan mendiang sebagai hal yang akan terus dikenang.
Masalah ekonomi
Satu hal yang sangat jarang dibayangkan adalah kondisi hoarding disorder juga bisa saja disebabkan oleh kondisi ekonomi yang sulit. Pasalnya, orang dengan ekonomi sulit tahu betul bagaimana susahnya mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan. Hal ini menimbulkan ikatan psikologis antara orang tersebut dengan setiap barang yang berhasil mereka dapatkan. Maka, kebiasaan tersebut lama kelamaan justru mengarah kepada kondisi hoarding disorder.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai hoarding disorder. Dapat disimpulkan bahwa hoarding disorder merupakan sebuah kondisi dimana seseorang memiliki kebiasaan untuk menumpuk barang karena merasa memiliki ikatan dengan barang tersebut, atau mungkin barang tersebut akan berguna di kemudian hari. Sayangnya kondisi hoarding disorder justru bisa mengganggu seseorang, terutama dalam hal kebersihan. Untuk itu penting bagi mereka yang mengalami kondisi tersebut agar mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Mengenal Jenis dan Ciri-Ciri Overthinking
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



