Deeptalk.co.id – Membahas tentang kebiasaan mengisolasi diri atau menarik diri dari orang-orang disekitar, rasanya mengingatkan kita pada film atau cerita-cerita dokumenter yang berasal dari negara Jepang. Bahkan di Jepang perilaku semacam ini memiliki istilah khusus yaitu hikikomori.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai fenomena hikikomori dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Namun perlu diketahui terlebih dahulu bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu merasa mengalami beberapa gejala yang mengarah pada kondisi gangguan mental tertentu, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasannya.
Pengertian Hikikomori

Istilah hikikomori memang bisa dikatakan cukup asing di telinga warga Indonesia. Hal tersebut tidak begitu mengherankan mengingat istilah ini memang lebih trend dan cukup sering ditemui di negara Jepang. Hikikomori sendiri merupakan perilaku saat seseorang menarik diri dari orang-orang disekitarnya dan menghindari aktivitas sosial, yang dimana perilaku tersebut berlangsung selama enam bulan bahkan bisa sampai bertahun-tahun.
Walaupun istilah tersebut memang tend di negara Jepang, namun tidak menuntut kemungkinan kondisi yang sama juga dialami oleh warga negara Indonesia. Orang-orang yang mengalami hikikomori cenderung menghindari interaksi sosial, bahkan kepada keluarganya sendiri. Beberapa dari mereka mengurung diri di dalam kamar dan hanya keluar kamar untuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan di dalam kamar, contohnya untuk mandi.
Jika dilihat sekilas, kondisi penderita hikikomori ini memang tampak seperti gangguan kecemasan sosial. Namun hikikomori dan gangguan kecemasan sosial adalah dua hal yang berbeda. Pada dasarnya, penderita hikikomori menghindari interaksi sosial tidak atas dasar rasa takut seperti yang dialami oleh penderita gangguan kecemasan sosial. Selain itu, orang-orang yang mengurung diri dalam jangka waktu lama dan kembali bersosialisasi seperti biasa juga disebut dengan hikikomori.
Gangguan Mental Pada Penderita Hikikomori

Kondisi hikikomori ini juga belum masuk dalam kategori gangguan mental. Hanya saja, mengurung diri dalam jangka waktu yang sangat lama tentu saja bisa berdampak pada kondisi mental seseorang.
Berikut beberapa gangguan mental yang bisa diderita oleh orang-orang yang mengalami hikikomori:
Depresi
Orang-orang yang menarik diri dari lingkungan sosialnya dan memutuskan interaksi sosial dalam jangka waktu lama bisa memicu depresi. Depresi sendiri merupakan sebuah gangguan mental yang ditandai dengan perasaan sedih yang sangat mendalam dan membuat penderitanya kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan bantuan dari orang lain. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan hikikomori itu sendiri. Selain itu, kondisi depresi juga justru dapat memperparah hikikomori, dan begitu juga sebaliknya. Untuk itu penting bagi penderita mendapatkan penanganan yang tepat.
Baca juga : Apa Betul Gen Z Adalah Generasi Bermental Lemah?
Kecemasan sosial
Menarik diri dari lingkungan sosial juga tidak jarang membuat orang mengalami kecemasan sosial. Terbiasa dengan kesendirian dan menjauh dari orang-orang akan membuat tubuh kebingungan merespon kehadiran orang-orang yang ada disekiatar kita.
Keinginan bunuh diri
Kondisi penderita hikikomori juga erat kaitannya dengan timbulnya keinginan untuk bunuh diri. Orang-orang yang mengalami hikikomori tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah. Hal semacam ini akan meningkatkan stress dan depresi yang berujung pada keinginan bunuh diri.
Selain beberapa kondisi mental di atas, tentu masih ada lagi beberapa dampak dari hikikomori itu sendiri seperti kehilangan produktivitas, mengganggu hubungan dengan orang-orang di sekitar, dan masih banyak lagi.
Penyebab Hikikomori

Kondisi hikikomori ini tentu saja tidak terjadi begitu saja, mengingat manusia sebagai makhluk sosial. Namun sayangnya, penyebab pasti dari kondisi hikikomori itu sendiri belum diketahui hingga saat ini. Meski demikian, tentu saja kondisi ini sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal individu tersebut. Selain itu, berikut beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan hikikomori:
Lingkungan sekolah
Bagi kamu yang masih menempuh pendidikan di jenjang apapun itu, lingkungan sekolah atau kuliah sangat berpengaruh untuk kondisi mental mu. Seperti yang kita ketahui, bahwa kasus bullying di sekolah rasanya sudah sangat familiar. Kondisi tidak nyaman di sekolah semacam itulah yang dapat meningkatkan kemungkinan hikikomori.
Kondisi keluarga
Selain sekolah, kondisi keluarga yang tidak kondusif juga dapat meningkatkan kemungkinan hikikomori. Contohnya anak-anak yang kekurangan perhatian dan kasih sayang, tidak mendapatkan perlindungan dari keluarga, dan lain sebagainya.
Perkembangan teknologi
Kita hidup di jaman perkembangan teknologi berlangsung begitu cepat. Sayangnya hal ini justru dapat meningkatkan hikikomori. Kemudahan mengakses sesuatu membuat kita tidak perlu keluar rumah. Sebagai contoh, bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, berbelanja dari rumah, bahkan mencari hiburan dari rumah. Tentu saja aktivitas semacam ini akan mengurangi kebiasaan berinteraksi secara langsung dengan orang lain.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai hikikomori yang merupakan fenomena mengisolasi diri ala orang Jepang. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Tips Menghadapi Orang Dewasa yang Mengalami Tantrum
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



