Deeptalk.co.id – Komunikasi merupakan langkah awal sebuah hubungan, dan bisa menentukan apakah hubungan tersebut bisa berlangsung lama atau tidak. Bertemu dengan orang yang asih diajak berbicara tentu menjadi daya tarik tersendiri. Namun, pernahkah kamu sudah merasa menemukan orang yang asik, namun orang tersebut tiba-tiba hilang tanpa memberi kabar. Jika pernah, bisa jadi kamu mengalami ghosting.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang ghosting, dan beberapa alasan seseorang melakukan ghosting dalam perspektif psikologis. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu merasa menjadi pelaku ghosting dan ingin meninggalkan kebiasaan tersebut. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Ghosting?
Sebelum kita bahas lebih jauh tentang ghosting, ada baiknya kita mengetahui pengertian dari ghosting itu sendiri. Ghosting adalah perilaku atau upaya untuk menghindari komunikasi atau hubungan secara tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu. Seseorang yang melakukan ghosting dikenal dengan istilah ghoster, dan orang yang mengalami ghosting atau korban dari ghoster ini dikenal dengan istilah ghostee.
Perilaku ghosting bisa ada dalam hubungan apa saja, termasuk hubungan pertemanan, romantis, bahkan hubungan profesional sekalipun. Dalam dunia psikologis, perilaku ghosting bisa saja merupakan strategi menghindar. Artinya, ghoster memutus komunikasi atau hubungan karena memang tidak ingin ada ikatan emosional atau terlibat dalam banyak hal di kehidupan ghostee.
Perilaku ghosting ini juga sering dikaitkan dengan attachment style atau gaya keterikatan, khususnya pada daya avoidant attachment. Avoidant attachment sendiri merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk menghindari ikatan emosional, dan keterlibatan mendalam dalam hubungan interpersonal. Orang-orang yang menerapkan avoidant attachment ini cenderung melakukan ghosting terhadap orang yang ditemuinya. Biasanya untuk menghindari konflik atau ketidaknyamanan emosional.
Baca juga: Manipulasi Emosional dalam Dunia Kerja: Toxic Boss dan Rekan yang Berbahaya
Penyebab Perilaku Ghosting dalam Perspektif Psikologis
Setiap perilaku seseorang tentu ada penyebab dibelakangnya. Maka dari itu, tidak baik jika kita mudah memberikan cap buruk sebelum mengenal dengan baik orang tersebut. Hal yang sama berlaku untuk para ghoster. Bahkan jika kita mengetahui penyebab-penyebab ghosting dalam perspektif psikologis, kita bisa memberikan empati terhadap para ghoster. Maka dari itu, berikut beberapa penyebab perilaku ghosting dalam perspektif psikologi:
Gaya keterikatan (attachment style)
Seperti yang sudah dipaparkan di awal, perilaku ghosting dalam perspektif psikologi bisa menjadi bentuk gaya keterikatan atau attachment style seseorang. Dimana, seseorang dengan gaya keterikatan avoidant atau menghindar akan merasa tidak nyaman jika memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orang lain.
Menghindari konflik dan konfrontasi
Selain bagian dari attachment style, perilaku ghosting juga bisa karena individu ingin menghindari konflik dan konfrontasi. Beberapa orang merasa tidak enak jika menyampaikan secara langsung ketidaknyamanan yang dirasakan. Hal tersebutlah yang mungkin memicu seseorang untuk melakukan perilaku ghosting tersebut. Walaupun dalam banyak kondisi perilakunya bisa menimbulkan penilaian yang bertolak belakang.
Perkembangan emosional yang tidak matang
Setiap orang melalui perkembangan emosional sejak masa kanak-kanak. Sayangnya, tidak semua orang memiliki akses untuk memaksimalkan perkembangan emosionalnya. Hal inilah yang terkadang membuat individu mudah marah, mudah sedih, dan termasuk di dalamnya melakukan perilaku ghosting. Perilaku ghosting dianggap sebagai cara instan dan minim konfrontasi menyelesaikan kondisi emosional yang tidak tahu kelanjutannya.
Norma sosial dan budaya digital
Perkembangan zaman dan era digital ini memang memudahkan manusia untuk melakukan banyak hal. Namun, hal tersebut juga yang membuat banyak norma-norma masyarakat tergeser. Kehidupan di era modern ini membuat hubungan lebih transaksional dan tidak terlalu mendalam. Maka tidak heran jika melihat manusia-manusia modern yang dengan mudah memutuskan hubungan jika tidak mendatangkan manfaat untuk dirinya sendiri. Tidak sedikit diantara mereka yang melakukan ghosting, karena menganggap tidak penting untuk menjelaskan lebih dalam.
Pengaruh harga diri dan rasa aman
Perilaku ghosting juga bisa dipengaruhi oleh kondisi harga diri dan rasa aman. Individu dengan harga diri yang rendah dan memiliki kebutuhan untuk mempertahankan kontrol akan relasi sosial cenderung melakukan ghosting. Orang-orang seperti ini tidak memiliki kemampuan untuk berkata jujur, sehingga memiliki untuk meninggalkan tanpa penjelasan.
Trauma relasional
Perilaku ghosting ini juga bisa terbentuk akibat adanya pengalaman di masa lalu yang tidak menyenangkan, atau pernah mengalami trauma relasional. Misalnya, individu yang pernah menjadi ghostee, atau memiliki hubungan yang penuh konflik. Orang-orang semacam itu akan rentang melakukan perilaku ghosting sebagai bentuk pertahanan diri terhadap luka psikologis yang pernah dirasakan.
Itu dia sedikit penjelasan tentang ghosting dan penyebab perilaku tersebut dalam perspektif psikologis. Jika kamu mengalami beberapa kondisi di atas, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Dampak Jangka Panjang Manipulasi Emosional terhadap Kesehatan Mental
Sumber:
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change. Guilford Press.
Arriaga, X. B., & Agnew, C. R. (2001). Being committed: Affective, cognitive, and conative components of relationship commitment. Personality and Social Psychology Bulletin, 27(9), 1190–1203.
LeFebvre, L. E. (2017). Phantom lovers: Ghosting as a relationship dissolution strategy in the technological age. Journal of Social and Personal Relationships, 36(11-12), 3032–3055.
Freedman, G. et al. (2019). Ghosting and destiny: Implicit theories of relationships predict beliefs about ghosting. Journal of Social and Personal Relationships, 36(12), 3709-3730.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



