Deeptalk.co.id – Bercinta atau melakukan hubungan seks seharusnya menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan. Sayangnya tidak semua orang bisa menikmati aktivitas tersebut. Rasa takut menghantui mereka, bahkan sebelum memulai berhubungan seks. Kondisi ini disebut dengan genofobia.
Untuk pengetahuan lebih dalam, artikel ini akan membahas secara lebih detail mengenai gangguan genofobia. Namun sebelum melanjutkan membaca artikel ini, perlu diketahui bahwa artikel ini tidak untuk dijadikan patokan melakukan self diagnosis. Jika terdapat beberapa kesamaan kondisi artikel dengan pembaca, sebaiknya segera periksakan ke Psikolog untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Pengertian Gangguan Genofobia

Gangguan genofobia merupakan gangguan kesehatan mental yang juga bagian dari gangguan fobia spesifik. Istilah genofobia berasal dari Bahasa Yunani, yaitu genos yang artinya keturunan, dan phobos yang artinya ketakutan. Jika diartikan secara lebih spesifik, gangguan genofobia merupakan gangguan mental yang ditandai dengan adanya perasaan takut berlebih untuk melakukan hubungan seks.
Tidak hanya sekedar rasa takut terhadap aktivitas seksual. Penderita gangguan genofobia ini bahkan enggan untuk membahas mengenai hal-hal yang berbau seks. Penderita gangguan genofobia bahkan akan merasa kecemasan berlebih walau hanya sekedar memikirkan aktivitas seksual.
Dalam beberapa kasus, penderita gangguan genofobia bahkan akan menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah asmara. Hal ini dilakukan tidak lain untuk terhindar dari aktivitas hubungan seksual.
Gangguan genofobia juga berkaitan dengan beberapa jenis gangguan fobia spesifik lainnya. Misalnya gangguan erothophobia (ketakutan pada proses penetrasi), paraphobia (ketakutan mendapatkan penyimpangan seksual), haphephobia (ketakutan pada sentuhan), gymnophobia (ketakutan terlihat telanjang), dan beberapa jenis fobia spesifik lainnya.
Baca juga: Fonofobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Suara Tertentu
Penyebab Gangguan Genofobia

Hampir sama dengan gangguan fobia lainnya, gangguan genofobia umumnya disebabkan oleh adanya pengalaman traumatis yang pernah dialami. Berikut beberapa penyebab seseorang mengalami gangguan genofobia:
Kejadian traumatis
Seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis seputar hubungan seksual seperti, menjadi korban pemerkosaan, pelecehan seksual, dan sejenisnya, akan beresiko mengalami gangguan genofobia. Kejadian tersebut akan membuat korban merasa hubungan seksual merupakan aktivitas yang menyeramkan. Beberapa dari mereka justru mengingat kembali kejadian traumatis tersebut saat dihadapkan dengan hal-hal yang ada kaitannya dengan hubungan seksual.
Kecemasan akan fungsi seksual
Kondisi yang satu ini sering kali menghantui mereka yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Adanya rasa takut atau kecemasan berlebih akan ketidakmampuan untuk menyenangkan pasangan, sering kali mengundang gangguan genofobia. Namun, dalam kasus ringan, kondisi ini tidak akan mengakibatkan gangguan genofobia.
Infeksi seksual
Seperti yang kita ketahui, ada banyak sekali gangguan seputar infeksi seksual, yang paling populer adalah HIV/AIDS. Banyaknya resiko tertular infeksi seksual ini juga menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami gangguan genofobia. Hal tersebut bisa berhubungan dengan pernah mengalami infeksi seksual, atau melihat kasus orang-orang dengan infeksi seksual.
Malu akan bentuk tubuh
Hal ini sering terjadi pada Wanita, namun beberapa Pria juga mengalami hal yang sama. Tidak percaya akan bentuk tubuh yang dimiliki sering kali membuat seseorang merasa minder. Hal ini juga akan berdampak pada hubungan seksual. Beberapa dari mereka bahkan mengalami gangguan genofobia.
Gejala Gangguan Genofobia

Seperti yang sudah dijelaskan pada pengertian gangguan genofobia, gejala utama dari gangguan ini adalah adanya perasaan takut berlebih terhadap aktivitas seksual. Meski demikian, terdapat beberapa gejala lainnya yang ditunjukkan, yaitu:
Gejala fisik
Penderita gangguan genofobia yang berhadapan dengan faktor pemicu rasa takut akan mengalami gejala fisik berupa jantung yang berdebar lebih cepat, keringat berlebih, kesulitan bernafas, mual, pusing, bahkan kehilangan kesadaran.
Gejala psikologis
Sedangkan gejala psikologis yang ditunjukkan oleh penderita gangguan genofobia berupa perasaan takut, panik, dan cemas berlebih ketika hendak melakukan atau melihat hubungan seks. Selain itu, penderita gangguan ini juga cenderung menghindari segala sesuatu yang ada kaitannya dengan hubungan seks. Termasuk menonton film dewasa atau pembicaraan mengenai hubungan seks.
Jika kamu atau kerabat terdekat memiliki beberapa gejala di atas, sebaiknya segera melakukan konsultasi dengan Psikolog untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Perlu diketahui bahwa setiap penderita bisa jadi menunjukkan gejala yang berbeda-beda, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda pula. Untuk itu, penanganan yang diberikan juga bisa jadi akan berbeda.
Psikolog umumnya akan mencari tahu penyebab dari gangguan genofobia tersebut. Dengan mengetahui penyebab dari gangguan tersebut, maka penderita bisa pulih dari kondisi ini dengan menetralisir penyebabnya.
Selain itu, beberapa terapi psikologis juga bisa membantu penyembuhan dengan lebih baik. Jenis terapi psikologis yang umum digunakan untuk penderita gangguan fobia adalah terapi perilaku kognitif (CBT), terapi pemaparan, dan terapi seks bagi penderita gangguan genofobia.
Walaupun gangguan ini terbilang cukup tabu untuk dibicarakan, namun penderita tidak perlu ragu untuk berbagi kondisi yang sebenarnya kepada Dokter atau Psikolog. Hal ini akan membantu proses pemulihan menjadi lebih cepat.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mood Disorder: Mengenal Macam-Macam Gangguan Bipolar



