Semua artikel
Perilaku

Generasi Z dan Budaya Overachievement: Apakah Kita Terlalu Keras pada Diri Sendiri?

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Tumbuh di era perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti saat ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para gen z. Memang benar bahwa teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup manusia. Namun tidak bisa dipungkiri dalam beberapa kondisi teknologi justru memberikan dampak buruk.

Gen z adalah generasi yang lahir pada rentan tahun 1997-2012. Artinya, mereka tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi ini. Kabar baiknya, gen z tidak membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan teknologi yang ada. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai generasi yang kreatif, dan penuh akan inovasi baru. Namun, di era perkembangan teknologi ini muncul suatu budaya di kalangan para gen z yang dikenal dengan istilah overachievement.

Budaya overachievement ini membuat para gen z seakan terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Banyak diantara mereka yang memaksakan diri untuk mencapai tujuan yang tidak realistis. Lantas, seperti apa sebenarnya overachievement itu? Dan mengapa gen z terdorong untuk melakukan overachievement? Artikel kali ini akan secara khusus membahas terkait topik tersebut.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami overachievement dan terganggu akan kondisi tersebut. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Overachievement

Businessman cutting word fail with a sword

Overachievement adalah fenomena dimana seseorang mendapatkan hasil yang melebihi standar atau ekspektasi yang telah ditetapkan. Hasil tersebut biasanya didapatkan dengan jerih payah yang sangat besar, bahkan terkadang dengan usaha yang diluar batas normal. Bisa dikatakan bahwa orang-orang yang melakukan overachievement sangat memaksakan dirinya. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk menetapkan standar yang sangat tinggi, dan selalu berupaya untuk mencapai standar tersebut.

Istilah overachievement sendiri pertama kali dituliskan oleh E. G. Williamson, pada tahun 1939. Pada masa itu, istilah overachievement hanya digunakan di lingkungan pendidikan untuk menggambarkan hasil akademis siswa yang sangat tinggi dari yang dipikirkan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, istilah overachievement juga banyak digunakan di sektor lain. Salah satunya digunakan dalam dunia kerja.

Baca juga: Imposter Syndrome di Tempat Kerja: Hambatan Karir bagi Generasi Z

Pemicu Overachievement Pada Gen Z

Job promotion vector illustration

Pada dasarnya tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang mengalami overachievement. Meski demikian, terdapat beberapa faktor pemicu yang dipercaya bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap overachievement, di antaranya:

Keterlibatan dengan teknologi

Seperti yang kita ketahui, gen z adalah generasi yang memiliki ikatan khusus dengan teknologi. Mereka tumbuh bersama, yang pada akhirnya akan sulit untuk gen z tidak terlibat dalam teknologi. Sebagai contoh, sosial media merupakan platform yang sangat dekat dengan para gen z. Sayangnya, sosial media seringkali hanya menampilkan hasil tanpa adanya usaha. Hal semacam ini tidak jarang membuat gen z terdorong untuk mencapai hasil yang lebih maksimal, bahkan jika itu diluar batas kemampuan mereka.

Paparan budaya global

Masih berhubungan dengan teknologi dan sosial media. Dimana sosial media sangat memungkinkan gen z untuk berinteraksi dengan banyak orang di belahan dunia lain. Teknologi dan sosial media juga memicu penyebaran informasi yang sangat cepat. Dengan demikian, gen z bisa terpapar budaya global yang membuat beberapa diantara mereka meningkatkan jiwa kompetitifnya. Kondisi semacam ini tentu memungkinkan untuk terciptanya budaya overachievement.

Fokus pada fleksibilitas dan makna kerja

Sedikit dengan generasi sebelumnya yang tidak begitu mementingkan fleksibilitas dan makna kerja. Gen z justru sangat mementingkan kedua hal tersebut. Mungkin kita sering mendengar bagaimana gen z memperjuangkan pekerjaan yang bisa memberikan dampak positif untuk dirinya sendiri. Terlepas dari berapa upah yang mereka dapatkan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa memicu jiwa kompetitif untuk berjuang terhadap apa yang dianggap baik untuknya, dan berujung pada overachievement.

Itu dia sedikit penjelasan terkait overachievement, khususnya yang dialami oleh para gen z. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa overachievement memang sekilas tampak baik untuk memperjuangkan tujuan dan ekspektasi yang kita harapkan. Meski demikian, dalam beberapa kondisi overachievement justru bisa memicu ketidakseimbangan kehidupan, ketidakpuasan, hingga masalah mental. Maka dari itu, cobalah belajar untuk tidak terlalu keras terhadap diri sendiri.

Jika kamu mengalami kondisi overachievement dan sudah merasa terganggu akan kondisi tersebut. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id. Disana kamu bisa berjumpa dengan para psikolog yang berpengalam di bidangnya. Kamu bisa berkonsultasi mengenai apa yang kamu alami dan rasakan. Dari konsultasi itulah akan ditarik kesimpulan terkait diagnosa dan penanganan apa yang tepat untuk membantu mengatasi masalahmu. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Tekanan Media Sosial dan Imposter Syndrome: Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Gen Z

 

Sumber:

Overachiever. Merriam Webster. https://www.merriam-webster.com/dictionary/overachiever?.com. Diakses pada 26 Maret 2025.

Overachiever. Oxford English Dictionary. https://www.oed.com/dictionary/overachiever_n?.com. Diakses pada 26 Maret 2025.

Putra, RA. (2024). Budaya Kerja Gen Z: Membangun Lingkungan Kerja yang Lebih Fleksibel dan Berarti. DJPB Kementerian Keuangan RI. https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/sijunjung/id/data-publikasi/artikel/3161-budaya-kerja-gen-z-membangun-lingkungan-kerja-yang-lebih-fleksibel-dan-berarti.html?.com. Diakses pada 26 Maret 2025.

Hotijah. (2024). Generasi Milenial dan Gen Z: Pelopor Budaya Global atau Penjaga Kearifan Lokal?. Kumparan. https://kumparan.com/khotijah-1729245614091153525/generasi-milenial-dan-gen-z-pelopor-budaya-global-atau-penjaga-kearifan-lokal-23t2r4PtbCE?.com. Diakses pada 26 Maret 2025.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Generasi Z dan Budaya Overachievement: Apakah Kita Terlalu Keras pada Diri Sendiri? — DeepTalk