Semua artikel
Pikiran

Gen Z, Overgeneralisasi, dan Kesehatan Mental: Membangun Kesadaran dan Empati

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Membangun kesadaran dan empati merupakan dua hal penting di era sekarangan. Pasalnya, kedua upaya tersebut bisa sangat memperbaiki kondisi mental seseorang. Terutama para gen z yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi.

Salah satu dampak dari membangun kesadaran dan empati adalah bisa meminimalisir kebiasaan overgeneralisasi. Overgeneralisasi adalah kesalahan berpikir dengan mengambil keputusan secara luas, dengan informasi atau pengalaman yang sempit. Kebiasaan overgeneralisasi ini akan sangat berdampak, khususnya bagi kondisi mental gen z.

Artikel kali ini akan secara khusus membahas cara membantun keadaran dan empati, guna meminimalisir overgeneralisasi pada gen z. Namun sebelum kita masuk pada topik pembahasan utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami masalah mental akibat overgeneralisasi atau lainnya. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan psikologis. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Manfaat Membangun Kesadaran Terhadap Pola Pikir Overgeneralisasi

Problem solving concepts.  Men are thinking - With question marks.

Membangun kesadaran diri bisa membantu kita meminimalisir pola pikir overgeneralisasi. Terutama pada kasus overgeneralisasi yang dialami oleh para gen z. Berikut beberapa manfaat membangun kesadaran terhadap pola pikir overgeneralisasi:

Mengenal diri sendiri

Gen z yang mengenal dirinya sendiri akan mengetahui apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan dirinya. Selain itu, gen z juga bisa lebih paham terkait pikiran, perasaan, dan perilaku mereka. Dengan memahami semua itu, gen z cenderung akan lebih mengendalikan diri sebelum mengambil keputusan, dan mengurangi kemungkinan overgeneralisasi.

Mengembangkan kesadaran akan pikiran dan perasaan

Gen z bisa mengembangkan kesadaran akan pikiran dan juga perasaan mereka. Dengan semua modal itu, mereka cenderung melakukan eksplorasi lebih dalam untuk mengambil sebuah keputusan. Artinya, kemungkinan overgeneralisasi akan semakin kecil.

Mengembangkan kesadaran akan sterotip dan prasangka

Gen z juga akan mengembangkan prasangka mereka terkait sterotip dan prasangka. Hal ini cukup penting agar kesimpulan akan suatu hal tidak hanya sebatas sterotip dan prasangka saja. Melainkan mencari sumber-sumber lain yang bisa menguatkan hal tersebut.

Baca juga: Gaslighting di Sekolah dan di Rumah: Bagaimana Gen Z Menghadapi Manipulasi Emosional

Manfaat Membangun Empati Terhadap Pola Pikir Overgeneralisasi

faceless guys sports running

Selain membangun kesadaran, pola pikir overgeneralisasi juga bisa diminimalisir dengan membangun empati. Berikut beberapa manfaat membangun empati terhadap pola pikir overgeneralisasi:

Mengembangkan kemampuan mendengarkan

Mendengarkan mungkin mudah untuk sebagian orang. Namun beberapa orang menganggap itu akan sulit. Mengembangkan empati akan membantu para gen z untuk mengembangkan kemampuan mendengarkan. Dengan kemampuan yang satu ini, gen z akan mendapatkan banyak sekali inside dari berbagai sumber. Artinya, kesimpulan yang diambil tidak hanya dari satu atau dua sumber saja.

Mengembangkan kemampuan memahami perspektif orang lain

Mendengarkan saja akan kurang jika kita tidak memahami perspektif orang lain. Namun dengan membangun empati, kita bisa mendapatkan keduanya. Dengan begitu, kita tidak hanya mengambil kesimpulan dari satu sumber saja.

Tips Membangun Kesadaran dan Empati

Students thinking concept illustration

Membangun kesadaran dan empati memang memberikan banyak sekali dampak, khususnya dalam membenahi pola pikir overgeneralisasi. Untuk itu, para gen z harus sadar bahwa keduanya merupakan hal penting dan harus diusahakan. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membantun kesadaran dan empati:

Menggunakan teknik mindfulness

Tips pertama untuk membangun kesadaran dan empati adalah dengan menggunakan teknik mindfulness. Teknik mindfulness adalah upaya untuk melatih kesadaran terhadap kondisi yang sedang dihadapi tanpa adanya penilaian. Dengan berlatih teknik mindfulness kita bisa lebih peka terhadap kondisi sekitar. Tentunya kita bisa bisa lebih peka jika sewaktu-waktu tanpa sadar melakukan overgeneralisasi.

Menggunakan teknik role-playing

Tips kedua untuk membangun kesadaran dan empati adalah dengan menggunakan teknik role-playing. Teknik yang satu ini akan melatih kita mengembangkan kesadaran dan empati berdasarkan perspektif dari orang lain. Tentu dalam teknik role-playing kita membutuhkan kontribusi orang lain dalam prakteknya.

Menggunakan teknik diskusi kelompok

Tips ketiga untuk membangun kesadaran dan empati adalah dengan menggunakan teknik diskusi kelompok. Ada kalanya kita membutuhkan inside orang lain untuk bisa membuka pola pikir agar lebih luas. Dari teknik ini, selain mampu meminimalisir overgeneralisasi, kita juga bisa memahami kondisi orang lain yang berbeda dengan kita.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai hubungan overgeneralisasi pada gen z, dengan membangun kesadaran dan empat. Jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan psikologis, terutama jika kebiasaan overgeneralisasi sudah mengganggu kondisi mental. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berkonsultasi dengan para profesional di bidang kesehatan mental. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Gen Z dan Overgeneralisasi: Bagaimana Stereotip Mempengaruhi Kesehatan Mental

 

Sumber:

Beck, A. T. (1977). Cognitive therapy: A new approach to the treatment of depression. Guilford Press.

Davis, M. (1983). Measuring individual differences in empathy: Evidence for a multidimensional approach. Journal of Personality and Social Psychology, 45(1), 139-154.

Deutsch, M. (1973). The resolution of conflict: Constructive and destructive processes. Yale University Press.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Doubleday.

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.

Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (1994). Learning together: What research says about cooperative learning. Interaction Book Company.

Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144-156.

Steele, C. M. (1997). A threat in the air: How stereotypes shape intellectual identity and performance. American Psychologist, 52(6), 613-629.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Gen Z, Overgeneralisasi, dan Kesehatan Mental: Membangun Kesadaran dan Empati — DeepTalk