Deeptalk.co.id – Istilah toxic relationship memang bukan istilah yang asing lagi di telinga. Toxic relationship merupakan sebuah hubungan yang tidak sehat, baik itu dengan teman, keluarga, rekan kerja, maupun pasangan. Toxic relationship atau hubungan beracun ini memang bukan hal yang bisa dibiarkan begitu saja. Sayangnya, banyak orang yang terjebak dan sulit untuk keluar dari hubungan beracun tersebut.
Toxic relationship akan memberikan kerugian bagi orang yang menjalaninya. Tidak hanya kerugian untuk satu belah pihak saja, melainkan juga bisa untuk kedua belah pihak. Maka dari itu, toxic relationship sudah sepantasnya untuk dihindari.
Kabar buruknya, toxic relationship malah sering dialami oleh para gen z. Seperti yang kita ketahui, gen z adalah generasi yang lahir pada tahun 1997-2012. Artinya, saat ini para gen z sudah mulai tubuh dewasa. Beberapa diantara mereka bahkan sudah memasuki lingkungan sosial yang lebih dalam.
Terjebaknya para gen z dalam toxic relationship tentu menjadi suatu hal yang cukup memprihatinkan. Pasalnya, gen z seharusnya sudah sangat familiar dengan toxic relationship. Mengingat mereka sangat mudah mengakses informasi. Meski demikian, berdasarkan survei yang dilakukan oleh aplikasi Bumble. Gen z justru merupakan generasi dengan jumlah terbanyak yang terjebak dalam toxic relationship, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Artinya, para gen z perlu waspada dengan toxic relationship.
Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap toxic relationship. Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai apa saja dampak yang bisa dialami saat seseorang terjebak dalam toxic relationship. Namun sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan acuan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat merasa mengalami toxic relationship, dan mulai mengalami gangguan psikologis karenanya. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Menghindari dan berusaha untuk keluar dari toxic relationship bukan tanpa alasan. Pasalnya, terjebak dalam toxic relationship bisa menimbulkan banyak sekali dampak dalam hidup seseorang. Berikut beberapa dampak akibat terjebak dalam toxic relationship:
Dampak Emosional Terjebak Dalam Toxic Relationship

Dampak toxic relationship pertama bisa dilihat dari bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi emosional seseorang. Dampak emosional ini juga meliputi banyak hal, diantaranya:
Mempengaruhi self esteem
Self esteem merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri secara keseluruhan. Artinya, self esteem yang mempengaruhi rasa suka dan seberapa besar kita menghargai diri sendiri. Sayangnya, terjebak dalam toxic relationship justru menurunkan self esteem tersebut. Artinya, terjebak dalam hubungan beracun ini membuat kita merasa tidak berharga, dan kehilangan rasa percaya diri.
Depresi dan kecemasan
Selain mempengaruhi self esteem, dampak emosional akibat terjebak dalam toxic relationship juga bisa meningkatkan kemungkinan depresi dan kecemasan berlebih. Depresi adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan rasa sedih mendalam, dan kehilangan minat akan aktivitas sehari-hari. Sedangkan kecemasan merupakan kondisi psikologis dimana seseorang merasa takut atau khawatir terhadap suatu hal atau kondisi tertentu.
Trauma
Dampak emosional terjebak dalam toxic relationship juga bisa menimbulkan trauma berkepanjangan. Kondisi trauma dalam hal ini tentu harus mendapat penanganan khusus. Beberapa orang bahkan menolak untuk menjalin hubungan baru karena takut mengalami kejadian serupa. Tentu ini tidak baik untuk gen z, mengingat mereka masih sangat mudah.
Baca juga: 10 Macam Bentuk Toxic Relationship
Dampak Sosial Terjebak Dalam Toxic Relationship

Selain berdampak pada kondisi emosional, terjebak dalam toxic relationship juga bisa berdampak pada kondisi sosial. Adapun bentuk dampak sosial toxic relationship adalah sebagai berikut:
Terisolasi
Banyak gen z yang terjebak dalam toxic relationship menjadi terisolasi dari teman dan keluarganya. Sayangnya, kondisi terisolasi ini justru membuat mereka makin sulit untuk lepas dari toxic relationship. Pasalnya, dukungan dari orang terdekat sangat penting untuk mendorong seseorang keluar dari toxic relationship.
Sulit membangun hubungan yang sehat
Terjebak dalam toxic relationship juga membuat seseorang kesulitan untuk membangun hubungan yang sehat. Terutama untuk mereka yang sudah terjebak lama dalam toxic relationship. Pasalnya, banyak diantara mereka sudah menormalisasi hubungan tidak sehat itu. Hal ini berlaku untuk korban dan pelaku toxic relationship.
Menimbulkan perilaku yang tidak sehat
Gen z yang terjebak dalam toxic relationship juga sering kali dijumpai melakukan perilaku yang tidak sehat. Misalnya penyalahgunaan zat, atau melakukan perilaku beresiko.
Dampak Psikologis Terjebak Dalam Toxic Relationship

Dampak toxic relationship selanjutnya bisa mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Berikut beberapa dampak psikologis terjebak dalam toxic relationship:
Mengalami kerusakan mental
Terjebak dalam toxic relationship bisa sangat merusak kondisi mental seseorang. Kerusakan mental dalam hal ini bisa berupa depresi, gangguan kecemasan, trauma, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya.
Mengalami gangguan perkembangan identitas
Dalam beberapa kasus, terjebak dalam toxic relationship juga bisa mempengaruhi perkembangan identitas seseorang. Perkembangan identitas sendiri meliputi perubahan pikiran individu terhadap dirinya sendiri, pengenalan terhadap diri sendiri, pemahaman akan bakat dan minat, dan lain sebagainya.
Mengalami gangguan dalam kemampuan emosional
Toxic relationship juga bisa memicu terganggunya kemampuan seseorang dalam mengontrol emosi secara sehat.
Itu dia beberapa dampak dari terjebak dalam toxic relationship. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Seberapa Banyak Gen Z Mengalami Toxic Relationship?
Sumber:
Andayani Praptiningsih, N., & Kumari Putra, G. (2021). Toxic Relationship Dalam Komunikasi Interpersonal Di Kalangan Remaja.
American Psychological Association. (2020). Toxic Relationships.
The National Alliance on Mental Illness. (2020). Toxic Relationships and Mental Health.
Journal of Youth and Adolescence. (2018). Toxic Relationships and Adolescent Well-being.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



